Perayaan Idul Fitri Kedua Sebagai Mualaf: Ruben Onsu Ungkap Kebahagiaan Bersama Betrand Peto
Idul Fitri 1447 Hijriah menandai momen istimewa bagi presenter ternama, Ruben Onsu, karena ini adalah kali kedua ia merayakan hari kemenangan umat Islam setelah memutuskan menjadi mualaf sebelum Idul Fitri 1446 Hijriah. Pengalaman spiritual ini memberikan makna yang lebih dalam baginya, terutama setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Tahun ini, kebahagiaan Ruben semakin bertambah dengan kehadiran dan dukungan penuh dari anak angkatnya, Betrand Peto. Sejak sebelum Ramadan, Betrand Peto telah memutuskan untuk tinggal bersama Ruben di rumahnya. Keputusan ini diambil Betrand agar dapat menghabiskan lebih banyak waktu bersama sang ayah, terutama selama bulan suci Ramadan.
Ruben Onsu mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran Betrand Peto yang telah memberikan dukungan luar biasa selama bulan Ramadan. “Aku bilang terima kasih (ke Onyo) selama satu bulan sudah menemani, sudah membangunkan sahur. Itu sudah luar biasa sih buat aku,” ujar Ruben.
Betrand Peto menunjukkan perhatiannya sebagai seorang anak dengan berbagai cara. Ia tidak hanya rajin membangunkan Ruben untuk sahur, tetapi juga setia menemani sang ayah berbincang hingga menjelang waktu subuh. Dukungan ini tidak berhenti saat Ramadan usai, melainkan berlanjut hingga persiapan hari raya Idul Fitri. Betrand bahkan rela begadang untuk memastikan Ruben siap berangkat menunaikan Salat Id.
“Dia support aku banget buat Salat Id. Tadi pas aku siap-siap, dia nemenin. Pas aku berangkat, dia baru tidur lagi,” tutur Ruben. Baginya, kehadiran Betrand adalah bentuk perhatian tulus yang sangat menguatkan ibadahnya selama sebulan penuh.
Menyambut hari kemenangan, Ruben menyelipkan doa agar dirinya senantiasa diberikan kesehatan dan umur panjang agar dapat terus bertemu dengan bulan suci Ramadan di tahun-tahun mendatang. “Mudah-mudahan diberikan kesehatan terus, diberikan umur panjang, dan bisa berguna bukan hanya buat diri sendiri tapi buat semua orang yang kita temui,” harapnya.
Ketika ditanya mengenai makna Idul Fitri baginya secara pribadi, Ruben Onsu merangkumnya dalam satu kata yang penuh makna: “mengikhlaskan”. Baginya, momen kemenangan ini adalah waktu yang tepat untuk berdamai dengan keadaan.
Kenangan Jatuh Bangun Ruben Onsu Meniti Karier di Dunia Hiburan
Di balik kesuksesan dan popularitasnya saat ini, presenter Ruben Onsu ternyata pernah melewati perjalanan karier yang penuh dengan perjuangan dan tantangan. Ruben, yang memulai kariernya di dunia hiburan sejak akhir 1990-an, tepatnya sekitar tahun 1998, menceritakan pengalamannya melalui unggahan di media sosial pribadinya.
“Aku pernah melewati proses ketika aku mengawali karir dari tahun 1997 sampai aku ada dititik ini,” tulis Ruben. Ia mengakui bahwa perjalanan kariernya diwarnai dengan berbagai cobaan, mulai dari dihina, disepelekan, hingga disalahkan.
Ruben menggambarkan proses tersebut dengan penuh metafora: “Jatuh lalu terinjak, lalu terbang, lalu istirahat, lalu berjalan cepat, lalu dihina, di sepelekan lalu di jatuhkan lalu disanjung lalu bisa menjadi sinar untuk yg gelap lalu bisa menelan cerita org yg curhat sendiri lalu malah jd makanan empuk yg disalahkan.”
Sebagai pribadi yang memiliki hati yang mudah terenyuh, Ruben seringkali menjadi sasaran empuk bagi orang lain yang ingin menjatuhkannya. Ia bahkan pernah melakukan kesalahan yang tidak disengaja, namun justru dianggap sebagai tindakan yang kejam. “Lalu di jorokin lg, di hancurkan lg krn kesalahan yg gak tegaan, bahkan kesalahan yg tdk aku kehendaki pernah dianggap paling kejam,” ungkapnya.
Namun, Ruben bersyukur atas ketabahannya dalam bertahan hingga saat ini. Ia merasa mendapatkan pertolongan Tuhan untuk terus memperbaiki diri. “Alhamdulillah masih bertahan dan saat ini aku trs berjuang untuk hidupku yg baru. Semoga Allah memperbaiki diri kita dan menjadikan kt hamba yg terus medekat kepadaNya, sampai kt kembali dalam keadaan husnul khotimah, AAmiin,” doanya.
Karier Ruben Onsu dimulai dari acara komedi anak-anak yang populer, “Lenong Bocah”, pada era akhir 1990-an. Namanya semakin dikenal luas sebagai presenter pada era 2000-an, terutama setelah membawakan ajang pencarian bakat “Mamamia” pada tahun 2007.
Ruben Onsu: Mengalokasikan Kekayaan untuk Pendidikan, Bukan Barang Mewah
Ruben Onsu menunjukkan kepedulian sosialnya yang mendalam terhadap dunia pendidikan dengan memberikan bantuan kepada anak-anak kurang mampu agar dapat bersekolah secara gratis di Sukabumi. Bantuan ini disalurkan melalui Yayasan Amanah Maharini, yang didirikannya dengan harapan agar anak-anak penerus bangsa dapat mengenyam pendidikan layak.
Sebagai seorang selebriti multitalenta yang telah malang melintang di dunia hiburan sejak akhir 1990-an, Ruben Onsu telah mengumpulkan pundi-pundi penghasilan yang tidak sedikit. Namun, ia memilih untuk mengalokasikan sebagian besar kekayaannya untuk membantu mereka yang membutuhkan, ketimbang memanjakan diri dengan barang-barang mewah.
“Banyak orang yang kurang beruntung. Jadi, daripada saya beli tas mahal, beli yang mewah-mewah, sayang uangnya. Lebih baik saya gunakan untuk mereka yang membutuhkan,” ujar Ruben.
Yayasan Amanah Maharini berlokasi tidak jauh dari musala yang juga dibangun oleh Ruben Onsu. Ia kerap mengunjungi yayasan tersebut setiap kali datang untuk beribadah. “Untungnya berdekatan dengan musala yang saya bangun. Jadi kalau saya salat di sana, pasti saya mampir ke yayasan,” katanya.
Program pendidikan di yayasan ini tidak hanya mencakup sekolah formal gratis, tetapi juga pembelajaran tambahan seperti les membaca dan mengaji. “Di yayasan ini gak hanya sekolah gratis, tapi mereka juga dapat pembelajaran tambahan. Contohnya les tambahan, les ngaji, belajar membaca,” jelasnya.
Ruben mengaku beruntung mendapatkan dukungan penuh dari para tenaga pendidik yang memiliki dedikasi tinggi terhadap program mencerdaskan anak bangsa ini. “Alhamdulillah saya dapat guru-guru yang benar-benar cinta dengan program ini. InsyaAllah tercukupi untuk kebutuhan bulanan mereka,” ucapnya.
Ia berharap kegiatan amal yang dilakukannya ini dapat menjadi amal jariyah yang bermanfaat tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi banyak orang. “Iya, aamiin, InsyaAllah ya,” tutupnya dengan senyuman penuh harap.






















