Dicuekin Sekutu, Rayuan ‘Maut’ Trump Soal Perang Iran Kini Tak Mempan Lagi

Perang Iran
Trump meradang atas penolakan NATO untuk bergabung dalam upaya mengirima kapal perang dengan tujuan mengamankan selat Hormuz. (Foto: APNews)

Patrolmedia, ​Paris – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kini gigit jari. Upayanya menekan negara sekutu untuk membantunya dalam perang Iran, berujung penolakan massal.

Alih-alih mendapat dukungan, Trump justru menuai “cemoohan global”.

​Gaya transaksional Trump yang biasanya ampuh kini dianggap sudah kehilangan efektivitasnya. “Kami sudah lama mendukung Anda, sekarang giliran kami,” begitulah cara Trump membingkai permintaannya kepada para sekutu, dilansir dari APNews, Rabu (18/3/2026).

Sebagai imbalan atas bantuan militer di Iran, Trump menjanjikan jaminan keamanan AS selama puluhan tahun.

Namun, negara-negara Eropa tampaknya sudah tidak percaya lagi.

Kepercayaan mereka berada di titik nadir usai berkali-kali diperlakukan buruk oleh Trump, mulai dari isu tarif dagang hingga klaim sepihak soal Greenland.

​Bersihkan Kekacauan yang Kamu Buat Sendiri dalam Perang Iran

​Trump menuntut para sekutu mengirimkan kapal perang untuk membuka blokade di Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima perdagangan minyak dunia.

Analis pertahanan veteran Prancis, François Heisbourg, menyebut respons para sekutu terhadap permintaan ini sebagai sebuah “cemoohan global”.

​Para sekutu merasa Trump dan Israel lah yang memicu kekacauan di Timur Tengah, namun kini mereka yang diminta membereskannya.

​”Ini bukan perang Eropa. Kami tidak memulai perang ini, dan kami bahkan tidak dimintai pendapat sebelumnya,” tegas Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas.

​Kekesalan Trump memuncak pada Inggris. Padahal, Perdana Menteri Keir Starmer selama ini dikenal berusaha membina hubungan baik dengan Trump.

​Trump bahkan sempat memuji Inggris sebagai “Rolls-Royce-nya para sekutu” saat meminta kapal penyapu ranjau milik London.

Namun, Starmer dengan tegas menolak terseret dalam perang regional tanpa tujuan akhir yang jelas.

​”Saya tidak senang dengan Inggris. Mereka seharusnya terlibat secara antusias. Kita telah melindungi negara-negara ini selama bertahun-tahun,” ketus Trump.

​Eropa Tak Lagi Pesuruh Trump

​Letjen Purn Ben Hodges, mantan komandan Angkatan Darat AS di Eropa, menilai kondisi ini sangat buruk bagi citra AS.

Menurutnya, para pemimpin Eropa mulai sadar bahwa sanjungan kepada Trump tidak memberikan nilai tambah apa pun.

​Senada, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius, menegaskan jika mengirim lebih banyak kapal perang malah memperkeruh suasana.

Begitu pula dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang baru mau mengirim bantuan jika pertempuran sudah mereda dan ada jalur diplomasi dengan Teheran.

​”Bahkan saat meminta bantuan, dia (Trump) melakukannya dengan cara yang brutal. Dia bilang ‘kamu tidak berguna, kami yang terkuat’, tapi kemudian bilang ‘ayo bantu kami’. Itu tidak masuk akal,” kata mantan Dubes Prancis, Sylvie Bermann.

 

(Iwn/Ft)