Perhatian masyarakat saat ini tertuju pada bencana tanah longsor yang terjadi di Kampung Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Peristiwa tragis ini menyebabkan 16 jenazah berhasil dievakuasi, sementara sekitar 80 warga masih belum ditemukan pasca longsor yang terjadi pada Sabtu, 24 Januari 2026, sekitar pukul 03.00 dini hari.
Kabupaten Bandung Barat memiliki kontur wilayah yang didominasi oleh perbukitan, membentang dari Cililin hingga Lembang. Kondisi geografis ini memunculkan pertanyaan: apakah KBB termasuk dalam wilayah dengan potensi bencana yang tinggi?
Peringkat Risiko Bencana Indonesia di Tingkat Global
Berdasarkan World Risk Report 2025, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan potensi bencana tertinggi di dunia. Filipina berada di posisi pertama, diikuti oleh India di posisi kedua. Meskipun demikian, posisi Indonesia mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024, di mana Indonesia berada di posisi kedua.
Data Bencana Nasional Tahun 2025
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa sepanjang tahun 2025 (1 Januari hingga 17 Desember 2025) telah terjadi 3.116 kejadian bencana di berbagai wilayah Indonesia.
Dominasi Bencana Hidrometeorologi: Mayoritas bencana yang terjadi sepanjang tahun 2025 didominasi oleh bencana hidrometeorologi, seperti:
- Banjir
- Cuaca ekstrem
- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
Rincian Kejadian Bencana:
- Banjir: 1.584 kejadian
- Cuaca ekstrem: 673 kejadian
- Kebakaran hutan dan lahan: 546 kejadian
- Tanah longsor: 225 kejadian
- Kekeringan: 36 kejadian
Bencana Geologi:
- Gempa bumi: 23 kejadian
- Erupsi gunung api: 7 kejadian
- Tsunami: 1 kejadian
Dampak Bencana Tahun 2025
Kejadian bencana sepanjang tahun 2025 telah menyebabkan dampak yang signifikan:
- Korban Jiwa: 1.498 orang meninggal dunia, 264 orang hilang, dan 7.751 orang luka-luka.
- Kerusakan Infrastruktur: 184.344 unit rumah mengalami kerusakan:
- 49.294 rumah rusak berat
- 37.524 rumah rusak sedang
- 97.526 rumah rusak ringan
- Kerusakan Fasilitas Umum: 2.271 fasilitas umum rusak:
- 1.334 satuan pendidikan
- 668 rumah ibadah
- 269 fasilitas layanan kesehatan
Risiko Bencana di Jawa Barat
Berdasarkan laporan yang dirilis oleh inarisk pada tahun 2025, Jawa Barat secara umum tidak termasuk dalam daerah dengan risiko bencana yang sangat tinggi. Daerah-daerah di Sumatera, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, memiliki risiko bencana yang lebih tinggi.
Namun, di Jawa Barat sendiri, wilayah selatan Jawa Barat mendominasi sebagai daerah dengan risiko tinggi. Kabupaten Bandung Barat masuk dalam kategori kuning, atau kategori risiko sedang.
KBB berada di posisi ke-16 sebagai daerah di Jawa Barat dalam hal tingkat risiko bencana pada tahun 2025. Sepuluh besar daerah dengan risiko bencana tertinggi di Jawa Barat didominasi oleh wilayah selatan, seperti Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, Garut, dan Pangandaran.
Kejadian Bencana di Jawa Barat Awal Tahun 2026
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat melaporkan bahwa pada awal tahun 2026 (periode 1-13 Januari 2026), tercatat 18 kejadian bencana di wilayah Jawa Barat.
- Jenis Bencana: Banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor.
- Dampak: 4 rumah rusak berat, 9 rumah rusak sedang, 38 rumah rusak ringan, 5.843 bangunan terendam banjir, 11 rumah ibadah terdampak, 1 fasilitas kesehatan terdampak, dan 3 fasilitas pendidikan terdampak.
Jumlah ini belum termasuk bencana longsor yang baru saja terjadi di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Peringkat Daerah Berisiko Bencana di Jawa Barat Tahun 2025
Berikut adalah daftar peringkat daerah berisiko bencana di Jawa Barat pada tahun 2025 berdasarkan inarisk BNPB:
- Kabupaten Sukabumi
- Kabupaten Cianjur
- Kabupaten Tasikmalaya
- Kabupaten Karawang
- Kabupaten Kuningan
- Kabupaten Garut
- Kabupaten Subang
- Kabupaten Pangandaran
- Kabupaten Cirebon
- Kabupaten Sumedang
Kabupaten Bandung Barat berada di posisi ke-16 dalam daftar ini.






















