UB: Mitra Strategis Negara dan Bisnis Global

Menatap 2026: UB Gelar Forum Strategis Perkuat Kolaborasi Akademisi, Pemerintah, dan Bisnis

Universitas Brawijaya (UB) kembali menegaskan perannya sebagai garda terdepan dalam mendorong dialog strategis dan kontribusi nyata bagi masa depan bangsa. Melalui penyelenggaraan forum bergengsi bertajuk “Public and Business Leader Forum: 2026 Outlook & Challenges”, UB berhasil menciptakan sebuah wadah strategis yang mempertemukan para pemimpin dari sektor pemerintahan, pelaku bisnis nasional, hingga akademisi. Forum ini dirancang khusus untuk mengupas tuntas arah pembangunan dan tantangan yang akan dihadapi Indonesia menjelang tahun 2026.

Acara ini merupakan bukti nyata komitmen UB dalam memperkuat sinergi antara berbagai elemen bangsa. Dr. Drs. Fadillah Amin, selaku Ketua Pelaksana dan Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, dalam laporannya menyampaikan bahwa tujuan utama forum ini adalah untuk membangun kolaborasi yang lebih erat antara akademisi, pemerintah, dan dunia usaha. Sinergi ini diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan global yang semakin kompleks dan membangun Indonesia yang lebih adaptif serta berdaya saing tinggi di kancah internasional.

Kolaborasi Lintas Sektor: Kunci Menghadapi Dinamika Global

Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, dalam sambutan pembukaannya menekankan urgensi kolaborasi lintas sektor sebagai fondasi utama dalam menghadapi gelombang perubahan global yang tak terhindarkan. “Perguruan tinggi memiliki peran yang sangat krusial sebagai penggerak inovasi dan pusat pengetahuan. Kami harus hadir untuk menjawab setiap kebutuhan publik yang terus berkembang,” ujar Rektor Widodo dengan tegas pada forum yang diselenggarakan di Jakarta pada Sabtu malam (13/12) tersebut.

Forum ini semakin hidup dengan kehadiran narasumber inspiratif. Salah satunya adalah Bhimo Aryanto, Senior Director Business Performances & Asset Optimization PT Danantara. Dalam paparannya, Bhimo menyoroti betapa pentingnya kolaborasi multi-sektor, baik dari kalangan publik maupun bisnis, dalam menghadapi dinamika global yang penuh ketidakpastian. Ia menekankan bahwa sinergi yang kuat antar sektor adalah kunci untuk melahirkan solusi-solusi inovatif dan berkelanjutan yang mampu membawa kemajuan bagi bangsa.

Menanggapi pandangan tersebut, Rektor Widodo menyambut baik kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) sebagai lembaga pengelola investasi. Beliau berharap Danantara dapat berperan sebagai orkestrator yang handal dalam membangun ekosistem industri baru di tanah air.

“Kami sangat berharap Danantara dapat menjadi salah satu motor penggerak utama bagi munculnya inovasi dan industrialisasi baru di Indonesia. Ketika ketersediaan pendanaan untuk industrialisasi baru semakin kuat, maka perguruan tinggi akan memiliki peluang emas untuk melakukan hilirisasi hasil-hasil penelitian dan inovasi mereka,” jelas Prof. Widodo.

Hilirisasi Inovasi: Menjembatani Akademisi dan Industri

Lebih lanjut, Prof. Widodo menguraikan bahwa kemajuan pesat dalam sektor industri secara otomatis akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi perguruan tinggi. Perguruan tinggi, yang dikenal sebagai “gudangnya” inovasi, akan semakin terdorong untuk beradaptasi dan berinovasi. Ekosistem industri yang maju dan kuat, menurut pandangannya, akan memaksa perguruan tinggi untuk merancang ulang kurikulum pembelajaran serta menyiapkan sumber daya manusia yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil industri.

Prof. Widodo mengakui bahwa selama ini, perguruan tinggi telah menghasilkan banyak peneliti, pakar, dan berbagai inovasi cemerlang. Namun, tantangan terbesar seringkali terletak pada proses hilirisasi, yaitu bagaimana membawa inovasi tersebut dari laboratorium ke pasar atau aplikasi nyata, karena wadah yang disiapkan untuk proses ini belum berjalan optimal.

“Kami berhasil mendidik para sarjana dengan sangat baik, namun setelah lulus, mereka seringkali menghadapi kesulitan dalam mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahlian mereka. Hal ini terjadi karena ekosistem industri di Indonesia belum berkembang secara optimal. Jika industrinya tumbuh pesat, maka ekosistem pendukungnya akan berjalan dengan sendirinya,” ungkap Prof. Widodo.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa Danantara memiliki peran strategis untuk menjadi pemecah mata rantai yang selama ini menghambat kemandirian industri nasional. Dengan adanya dukungan investasi dan ekosistem yang kuat, para lulusan perguruan tinggi diharapkan dapat terserap dengan baik di industri yang sedang berkembang.

Menuju Reformasi Kebijakan Melalui Dialog Konstruktif

Forum “Public and Business Leader Forum: 2026 Outlook & Challenges” ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian perayaan Dies Natalis Universitas Brawijaya yang ke-63. Rektor Widodo berharap forum ini tidak hanya menghasilkan pandangan yang komprehensif mengenai prospek dan tantangan Indonesia di masa depan, tetapi juga dapat melahirkan serangkaian usulan kebijakan konkret dalam bentuk policy brief. Usulan ini diharapkan dapat mendorong reformasi dalam cara pemerintah dan dunia usaha memandang serta merespons dinamika global yang terus berubah.

Dies Natalis ke-63 menjadi momen refleksi penting bagi UB untuk terus menghadirkan kontribusi nyata melalui berbagai program, mulai dari riset inovatif hingga dialog kebijakan yang konstruktif.

“Melalui forum ini, kami ingin menegaskan kembali komitmen kuat Universitas Brawijaya untuk menjadi mitra strategis yang handal bagi negara dan dunia usaha dalam membangun Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing,” pungkas Rektor Widodo, menutup forum yang penuh makna tersebut.