Patrolmedia, Jakarta – Densus 88 Antiteror Polri mengungkap 3 jaringan terorisme yang kedapatan merekrut anak dan pelajar melalui media sosial, game online, aplikasi percakapan hingga situs tertutup.
Penindakan terbaru dilakukan pada 17 November 2025 dengan menangkap 2 tersangka dewasa yang berperan sebagai perekrut dan pengendali komunikasi kelompok.
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan pengungkapan itu merupakan hasil penyelidikan setahun terakhir.
“Benar bahwa telah ditemukan 3 perkara utama secara terpisah yang menggunakan modus rekrutmen anak dan pelajar dengan memanfaatkan ruang digital,” kata Trunoyudo saat konferensi pers di Bareskrim Polri Jakarta Selatan, Selasa, (18/11/2025), dikutip dari TV Radio Polri.
Total 5 tersangka dewasa ditangkap dalam rangkaian operasi terpisah.
Mereka adalah FW alias GT asal Medan (ditangkap 5 Februari 2025), LM asal Banggai dan PP alias BMS asal Sleman (keduanya ditangkap 22 September 2025).
Kemudian MSPO asal Tegal (18) serta JGS alias BS asal Agam, Sumbar (19) yang diamankan 7–17 November 2025.
Para pelaku disebut aktif mengarahkan anak-anak agar terpapar ideologi radikal, masuk jaringan teroris hingga melakukan aksi terror.
Polri mencatat ada 110 anak berusia 10–18 tahun dari 23 provinsi yang menjadi korban rekrutmen.
Mereka mayoritas memiliki latar belakang korban perundungan, keluarga bermasalah, pencarian jati diri, hingga minimnya pemahaman agama.
Menindaklanjuti temuan itu, Polri merekomendasikan 4 langkah penanganan:
- Pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur.
- Pembentukan tim terpadu lintas kementerian/lembaga.
- Penyusunan SOP teknis bagi seluruh stakeholder.
- Penguatan peran orang tua, guru, dan masyarakat dalam mengawasi aktivitas digital anak.
“Polri bersama seluruh pemangku kepentingan berkomitmen melindungi anak-anak Indonesia dari ancaman radikalisasi dan eksploitasi digital,” tegas Trunoyudo.
Polri bersama berbagai pemangku kepentingan berkomitmen melindungi anak-anak Indonesia dari ancaman radikalisasi, ekspolitasi, ideologi, maupun kekerasan digital.
Polri juga terus berkerja sama dengan unsur pemerintah maupun masyarakat.
Pengungkapan kasus teroris ini dipimpin Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Komjen Pol Edi Hartono, Analis Densus 88 Antiteror Polri AKBP Maindera serta perwakilan dari KPAI, Kemen PPA, Kemen Sos, LPSK, hingga sejumlah lembaga lain sebagai bentuk sinergi antara pemangku kepentingan.
(Iwn/EN)






















