Penemuan Benda Mirip Senjata dan Serbuk di Lokasi Ledakan SMAN 72 Jakarta
Korban ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara masih menjalani perawatan medis. Kepolisian sedang melakukan penyelidikan terkait motif pelaku, termasuk kemungkinan keterkaitan dengan faham tertentu atau paparan konten di media sosial. Terduga pelaku diperkirakan merupakan seorang siswa sekolah.
Selain itu, aparat kepolisian menemukan dua senjata mainan di lokasi ledakan. Benda mirip senjata api tersebut terdiri dari satu senjata laras panjang dan satu pistol. Dari foto yang didapatkan oleh Kantor Berita Antara, pada bagian laras benda mirip senjata api itu terdapat tulisan “14 Words. For Agartha.” Tulisan lainnya adalah “Brenton Tarrant. Welcome to Hell.” Brenton Tarrant kemungkinan merujuk pada pelaku penembakan massal di Christchurch, Selandia Baru, pada 15 Maret 2019.
Kapolri Listyo Sigit menyampaikan bahwa penyidik masih menelusuri berbagai kemungkinan motif di balik peristiwa tersebut. “Juga kaitannya dengan apa yang menjadi alasan untuk melakukan itu semuanya sedang didalami,” katanya. Selain itu, kekeluarga terduga pelaku tengah diperiksa untuk mengumpulkan fakta-fakta yang dapat membantu penyelidikan.
Kapolri juga menambahkan bahwa pihaknya sedang menindaklanjuti kabar bahwa pelaku merupakan korban perundungan di sekolah. “Itu salah satu yang kami kumpulkan terkait bagian dari upaya mengungkap motif,” ujarnya. Saat ini, kondisi terduga pelaku dilaporkan mulai membaik setelah menjalani perawatan intensif.
Total korban akibat ledakan di SMAN 72 mencapai 96 orang. Dari jumlah tersebut, 29 orang masih menjalani perawatan di tiga rumah sakit, sementara sisanya telah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan. Kapolri menyampaikan bahwa Polri bersama sejumlah pihak akan membangun pusat trauma healing di lingkungan sekolah. Program pemulihan psikologis ini akan melibatkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) serta para psikolog guna memastikan kondisi mental para siswa dapat kembali stabil.
Temuan Serbuk di Rumah Terduga Pelaku
Aparat kepolisian menemukan serbuk saat melakukan penggeledahan rumah terduga pelaku peledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto menyampaikan bahwa polisi menyita sejumlah barang bukti dari hasil penggeledahan tersebut. Salah satunya adalah serbuk yang diduga digunakan sebagai bahan peledak.
Meski begitu, Budi belum memastikan apakah serbuk tersebut benar-benar digunakan sebagai bahan peledak atau tidak. “Untuk barang bukti tadi serbuk. Nanti kita sampaikan secara lengkap oleh Puslabfor. Karena memang secara investigasi ilmiah (scientific investigation), pelaksanaan pengolahan barang bukti ini kewenangan di Puslabfor. Merekalah yang memiliki keahlian di dalam hal ini,” ujarnya.
Penggeledahan ini merupakan salah satu rangkaian penyelidikan terkait kasus peledakan di SMAN 72 Jakarta. Selain itu, penggeledahan dilakukan untuk menemukan persesuaian barang bukti dengan yang ditemukan di TKP. “Penggeledahan ini dari alat bukti yang ditemukan di TKP. Merujuk untuk memilah persesuaian antara barang bukti pada saat penggeledahan dengan barang bukti yang ada di TKP,” katanyanya.
Bantuan untuk Korban Ledakan
Pada hari yang sama, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul turut menengok para korban di Rumah Sakit Yarsi. Ia menyampaikan bahwa pemerintah akan memberikan bantuan kepada para korban. “Dari kami tentu ada tiga (jenis bantuan). Pertama, perlindungan dan jaminan sosialnya, maka termasuk dari soal biaya, pengobatan, segala macam, pasti ini akan ditanggung oleh pemerintah,” katanya.
Kedua, Kemensos juga akan memberikan bantuan berupa rehabilitasi medis dan sosial. Setelah itu, akan dilakukan asesmen terhadap para korban untuk mendapat bantuan pemberdayaan. Pendamping akan melakukan asesmen, kemudian memberikan dukungan yang diperlukan. “Orangtuanya akan kita ajak dialog, kemudian siswa-siswanya juga akan kita ajak bicara, kebutuhan apa yang paling mendesak dan yang paling dibutuhkan,” kata Gus Ipul.
Sementara itu, satu orang korban yang dirawat di ICU mengalami luka bakar sekitar 30%. “Memang ada beberapa yang hearing loss, ini sedang kita lakukan anamnesis dan diagnostik lanjutan oleh teman-teman dari dokter spesialis THT kita. Itu akan di-review gangguan pendengarannya,” kata Muhammad Ashari.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menyampaikan bahwa Kemendikdasmen akan menyiapkan layanan pendampingan psikologis bagi siswa, guru, dan warga sekolah lainnya guna memastikan kondisi mental dan emosional tetap terjaga. Langkah ini sebagai bagian dari pemulihan pascakejadian.




















