Festival Loakarta: Menghidupkan Kembali Pasar Klitikan Pakuncen
Pasar Klitikan Pakuncen, yang sebelumnya sempat menjadi ikon wisata di Kota Yogyakarta, kini kembali mendapat perhatian melalui penyelenggaraan Festival “Loakarta” Barang Antik, Unik, dan Kreatif. Acara ini digelar pada 18-22 Oktober 2025 dengan tujuan untuk membangkitkan kembali semangat pasar yang sebelumnya telah lama mati suri. Festival ini merupakan langkah konkret yang diambil oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Jogjakarta dalam upaya mengembalikan kejayaan pasar tersebut.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Jogjakarta, Veronica Ambar Ismuwardani, menjelaskan bahwa festival ini menjadi jawaban atas keberadaan Pasar Klitikan Pakuncen yang selama beberapa tahun terakhir tidak lagi ramai seperti dulu. Ia menekankan pentingnya menghadirkan para pedagang barang kuno agar dapat menarik perhatian pecinta barang antik, terutama kalangan muda.
“Festival Loakarta ini menjadi jawaban dari keberadaan Pasar Klitikan Pakuncen yang sejak beberapa tahun belakangan mati suri. Kami menghadirkan pedagang barang kuno untuk menarik perhatian para pecinta barang antik, khususnya anak muda, agar suasana di sini hidup kembali seperti masa jaya dulu,” ujar Veronica.
Festival yang berlangsung selama lima hari itu diikuti oleh 250 pedagang barang antik. Selain pasar kreatif, gelaran tersebut juga diramaikan dengan pemutaran bioskop lawas oleh Jogja Asian Film Festival (JAFF) dan panggung rakyat yang memberikan nuansa khas dan hangat bagi pengunjung.
Dukungan dari DPRD dan Komunitas Anak Muda
Veronica menambahkan bahwa festival ini mendapat dukungan penuh dari Komisi B DPRD Kota Jogjakarta serta komunitas anak muda yang menjadi salah satu pemantik inisiatif Dinas Perdagangan untuk menghidupkan kembali ikon wisata baru Kota Yogyakarta tersebut.
Wakil Wali Kota Jogjakarta, Wawan Hermawan, menekankan pentingnya menjaga karakter Pasar Klitikan agar tetap menjadi tempat jual beli barang loak dan antik di Kota Gudeg. Sesuai dengan namanya, klitikan (klithikan) apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bermakna barang bekas.
“Kalau kita bicara pasar klitikan, ya memang seharusnya barang loak, barang antik yang dijual. Kalau di sini dijual barang baru, berarti ‘shopping center’ namanya. Jadi, jangan asal menampung sesuatu yang bukan pada tempatnya. Suasana dan perasaan romantisme itu yang kita jual,” ujarnya lagi.
Wawan mengajak masyarakat dan pengelola pasar untuk menata kembali kawasan tersebut agar menjadi ruang ekonomi yang hangat dan khas, tanpa kehilangan jati diri sebagai pasar loak. Ia berharap kebangkitan Pasar Klitikan dapat menggerakkan ekonomi lokal sekaligus menarik wisatawan.
Rencana Pengembangan dan Partisipasi Komunitas
Kocok, konseptor Festival Loakarta, menyebut kegiatan itu direncanakan digelar setiap tiga bulan sekali dengan melibatkan berbagai komunitas anak muda. “Pembukaannya dicoba lima hari dulu. Rencananya tiga bulan sekali kami adakan lagi, supaya suasananya tetap hidup dan menarik bagi komunitas serta generasi muda,” ujarnya.
Selain itu, festival ini juga menjadi wadah bagi para pelaku usaha kecil dan menengah yang ingin menampilkan produk unik mereka. Dengan adanya acara ini, diharapkan bisa memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat sekitar dan meningkatkan minat generasi muda terhadap barang antik dan kreatif.
Festival Loakarta tidak hanya menjadi ajang jual beli, tetapi juga menjadi wadah untuk menumbuhkan kesadaran akan nilai-nilai budaya dan keunikan barang bekas yang memiliki cerita dan sejarah. Dengan begitu, Pasar Klitikan Pakuncen bisa kembali menjadi pusat kegiatan yang dinamis dan penuh makna.






















