
Patrolmedia, Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sepakat mendukung proposal Damai Gaza yang disusun Washington untuk mengakhiri perang hampir 2 tahun di wilayah tersebut.
Meski begitu, sikap Hamas atas rencana tersebut masih belum jelas.
Dalam konferensi pers bersama di Gedung Putih, Senin (29/9), Trump mengatakan mereka “sangat dekat” mencapai kesepakatan damai.
Trump mengancam, jika Hamas menolak, Israel akan kembali menggempur Gaza dengan mendapatkan dukungan penuh dari AS.
Isi Rencana Perdamaian
Gedung Putih merilis dokumen 20 poin yang memuat beberapa langkah kunci:
Gencatan senjata segera
Pertukaran sandera: Hamas harus membebaskan 48 sandera yang tersisa, sementara Israel akan melepaskan ratusan tahanan Palestina.
Penarikan pasukan Israel secara bertahap, digantikan oleh pasukan internasional.
Pelucutan senjata Hamas serta larangan kelompok itu terlibat dalam pemerintahan Gaza.
Pemerintahan transisi akan dijalankan oleh teknokrat Palestina, diawasi “Dewan Perdamaian” yang dipimpin Trump dan mantan PM Inggris Tony Blair.
Prospek negara Palestina disebutkan secara samar, bergantung pada reformasi Otoritas Palestina (PA) dan keberhasilan rekonstruksi Gaza.
Dukungan Netanyahu
Netanyahu menyatakan rencana itu sesuai dengan tujuan perang Israel yaitu memulangkan sandera, membongkar kekuatan militer Hamas, serta mencegah Gaza kembali menjadi ancaman.
Meski demikian, ia tetap menolak keterlibatan PA dan kemungkinan terbentuknya negara Palestina, 2 isu sensitif yang menjadi ganjalan bagi koalisinya.
Respons Hamas dan Negara Arab
Hamas hingga kini belum menyatakan sikap resmi. Kelompok itu menegaskan berhak melawan sampai pendudukan Israel berakhir, meski mediator dari Qatar dan Mesir menyebut Hamas akan meninjau dokumen “dengan itikad baik.”
Sementara itu, sejumlah negara Arab dan Muslim, termasuk Mesir, Yordania, Turki, Qatar, Arab Saudi, hingga Indonesia, menyambut baik kerangka besar proposal tersebut.
Tekanan Politik
Netanyahu menghadapi tekanan besar dari keluarga sandera dan opini publik Israel yang lelah dengan perang.
Namun, ia juga terikat pada mitra koalisi sayap kanan yang menolak kompromi terhadap PA maupun isu kenegaraan Palestina.
Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menegaskan kesepakatan apa pun tidak boleh melibatkan Otoritas Palestina di Gaza atau membuka jalan bagi terbentuknya negara Palestina.
Meski Netanyahu menyetujui proposal bersama Trump, Smotrich menyiratkan keyakinan keterlibatan Otoritas Palestina tidak akan pernah terwujud.
Steven Cook, Peneliti Senior Council on Foreign Relations menyebut kunci keberhasilan rencana ini terletak pada 2 hal yakni Qatar yang harus menekan Hamas, dan Netanyahu perlu meyakinkan kabinet keamanannya.
Dampak Perang
Perang Gaza dimulai setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang di Israel dan menyandera 251 lainnya.
Israel menanggapi dengan serangan besar-besaran yang menurut otoritas kesehatan Gaza telah menewaskan lebih dari 66.000 warga Palestina dan menghancurkan sebagian besar wilayah tersebut.
Rencana AS memberi jalan menuju gencatan senjata dan rekonstruksi, tetapi keberhasilannya bergantung pada Hamas yang bersedia menyerah, atau tidak, dan apakah Netanyahu sanggup menjaga dukungan politik di dalam negeri.






















