Iran tengah menunjukkan upaya pemulihan yang signifikan di fasilitas bawah tanahnya yang sebelumnya menjadi sasaran serangan militer. Analisis citra satelit mengungkap bahwa dari total 69 pintu masuk terowongan di 18 pangkalan bawah tanah, kini 50 di antaranya telah berhasil dibersihkan dari puing-puing sisa serangan. Pemulihan ini dilaporkan semakin intensif sejak gencatan senjata diberlakukan, menandakan respons cepat Iran terhadap kerusakan yang terjadi.
Citra satelit yang ditinjau secara mendalam memperlihatkan aktivitas pembersihan yang masif di berbagai lokasi yang terdampak. Periode awal serangan, yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel, difokuskan pada upaya pembatasan akses ke fasilitas-fasilitas vital ini. Melalui serangan rudal, kedua negara berupaya melumpuhkan akses jalan menuju pangkalan bawah tanah dan menyebabkan runtuhnya sejumlah pintu masuk terowongan.
Eskalasi Serangan dan Gencatan Senjata
Peristiwa ini bermula pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan yang menargetkan puluhan lokasi di Iran. Serangan tersebut tidak hanya menimbulkan kerusakan infrastruktur yang signifikan tetapi juga menyebabkan korban di kalangan warga sipil. Menanggapi situasi tersebut, Washington dan Teheran kemudian mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada 7 April.
Namun, optimisme awal terhadap gencatan senjata tersebut mulai memudar ketika perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad berakhir tanpa mencapai kesepakatan yang substansial. Situasi semakin memanas ketika Amerika Serikat memutuskan untuk memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini diambil sebagai respons atas ketidakpastian dalam negosiasi dan sebagai upaya untuk memberikan tekanan lebih lanjut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian memperpanjang penghentian permusuhan, memberikan Iran waktu tambahan untuk merumuskan proposal perdamaian yang lebih komprehensif. Keputusan ini diambil dengan harapan dapat membuka kembali jalur diplomasi dan memfasilitasi tercapainya solusi damai.
Pertukaran Pesan dan Negosiasi Intensif
Di tengah upaya pemulihan dan ketegangan diplomatik, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Ahad (31/5/2026) menyatakan bahwa Iran dan Amerika Serikat terus melakukan pertukaran pesan terkait kemungkinan tercapainya sebuah kesepakatan. “Pembahasan dan pertukaran pesan masih terus berlangsung. Sampai hasil yang jelas tercapai, tidak mungkin membuat penilaian apa pun. Semua yang sedang dikatakan saat ini hanyalah spekulasi dan tidak seharusnya dianggap serius,” ujar Araghchi melalui Telegram, menekankan bahwa informasi yang beredar masih bersifat spekulatif.
Sebelumnya, pada Jumat pagi di Washington, Presiden AS Donald Trump sempat menggelar pengarahan intelijen dan mengindikasikan akan mengambil keputusan final terkait isu Iran. Namun, laporan media di Amerika Serikat kemudian mengklarifikasi bahwa belum ada kesepakatan akhir yang benar-benar tercapai.
Sementara itu, laporan dari The New York Times pada Ahad juga mengemukakan bahwa Trump telah mengajukan persyaratan yang lebih ketat untuk potensi kesepakatan guna mengakhiri konflik dengan Iran. Proposal baru ini disampaikan kepada Teheran untuk dipertimbangkan.
Pada Sabtu (30/5/2026), The New York Times, mengutip tiga pejabat yang memiliki pengetahuan mengenai masalah tersebut, melaporkan bahwa Trump telah melakukan beberapa perubahan pada rancangan perjanjian dan mengirimkannya kembali ke Teheran. Rincian spesifik mengenai perubahan tersebut tidak diungkapkan. Namun, para pejabat tersebut menyebutkan bahwa Trump menyuarakan kekhawatiran mengenai ketentuan yang berkaitan dengan pencairan aset-aset Iran yang dibekukan. Isu ini sebelumnya juga menjadi poin kritik Trump terkait perjanjian nuklir tahun 2015 yang dinegosiasikan di bawah pemerintahan mantan Presiden AS Barack Obama.
Tekanan dan Kompleksitas Diplomasi
Laporan tersebut juga menyoroti meningkatnya frustrasi Trump terhadap lambatnya respons Iran terhadap proposal-proposal yang diajukan Amerika Serikat melalui perantara, termasuk pejabat dari Pakistan. Salah seorang pejabat mengungkapkan kepada surat kabar tersebut bahwa proposal yang direvisi ini dirancang untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran dan mendorong penerimaan kerangka kesepakatan yang sebelumnya telah diajukan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, untuk mendapatkan persetujuan.
Namun, komunikasi dengan pimpinan tertinggi Iran dilaporkan menemui kesulitan, yang berpotensi menyebabkan penundaan lebih lanjut jika diperlukan perubahan tambahan pada dokumen yang digambarkan sebagai nota kesepahaman tersebut.
Isu-isu yang lebih sensitif, termasuk masa depan program nuklir Iran, dijadwalkan untuk dibahas dalam putaran negosiasi berikutnya. Situs berita Axios, mengutip pejabat AS, melaporkan bahwa Trump telah diberi tahu bahwa Iran mungkin memerlukan waktu hingga tiga hari untuk memberikan tanggapan resmi.
“Mereka benar-benar berada di dalam fasilitas bawah tanah dan tidak menggunakan email,” ujar pejabat tersebut, menggambarkan tantangan komunikasi yang dihadapi. “Akan ada kesepakatan. Seberapa cepatnya, kita lihat nanti. Kami bersedia menunggu agar presiden mendapatkan apa yang dimintanya. Bisa seminggu, bisa kurang, bisa juga lebih lama. Pada pergantian pekan, kami berharap akan ada sesuatu,” tambahnya, menunjukkan optimisme yang hati-hati terhadap perkembangan negosiasi.






















