3 negara mengakui Palestina
Presiden Palestina Mahmoud Abbas juga menyatakan apresiasinya. Menurutnya, langkah itu merupakan pijakan penting menuju perdamaian yang adil berdasarkan solusi dua negara.
Dorongan Pengakuan Internasional
Keputusan Inggris dianggap sudah diperkirakan sejak Juli lalu, ketika Starmer menyatakan negaranya akan mengakui Palestina jika Israel menolak gencatan senjata di Gaza dan menutup jalur bantuan PBB.
Pengamat menilai semakin banyak negara akan mengikuti jejak ini. Portugal dikabarkan siap mengumumkan pengakuan, sementara Prancis yang juga anggota tetap Dewan Keamanan PBB diperkirakan menyampaikan sikapnya pada pekan yang sama.
Faktor Historis dan Diplomatis
Inggris dan Prancis memiliki catatan panjang di Timur Tengah sejak membagi wilayah pasca runtuhnya Kekaisaran Ottoman pada Perang Dunia I. Inggris pula yang merumuskan Deklarasi Balfour 1917, mendukung “tanah air nasional bagi orang Yahudi,” namun juga menjanjikan perlindungan hak-hak rakyat Palestina.
“Penting bagi Inggris dan Prancis mengakui Palestina, mengingat sejarah kolonial mereka di kawasan ini,” kata Burcu Ozcelik, peneliti senior keamanan Timur Tengah di Royal United Services Institute, London.
Husam Zomlot, kepala misi Palestina di Inggris, menyebut pengakuan ini sebagai koreksi sejarah. “Hari ini, rakyat Inggris harus merayakan hari di mana penyangkalan terhadap keberadaan kami yang dimulai pada 1917 mulai diperbaiki,” ujarnya.
Solusi 2 Negara di Ujung Tanduk
Selama bertahun-tahun, Inggris mendukung solusi dua negara melalui jalur perundingan. Namun, memburuknya situasi di Gaza serta perluasan permukiman Tepi Barat membuat banyak pihak meragukan kelangsungan opsi tersebut.
Konflik berkepanjangan di Gaza telah menewaskan lebih dari 65 ribu orang, memaksa 90% warga mengungsi, dan menimbulkan krisis kemanusiaan yang serius. Laporan Dewan HAM PBB bahkan menyebut Israel melakukan genosida, klaim yang dibantah Tel Aviv.
“Langkah ini simbolis sekaligus historis. Inggris ingin memastikan solusi dua negara tetap relevan, meskipun realisasinya di lapangan makin sulit,” kata Olivia O’Sullivan, analis Chatham House.
Secara internasional, berdirinya negara Palestina berdampingan dengan Israel masih dianggap satu-satunya jalan realistis untuk mengakhiri konflik panjang di kawasan tersebut.
Editor: Erwin Syahril






















