Rupiah Anjlok ke Rp17.917/USD

Rupiah Tertekan Menjelang Rp18.000 per Dolar AS di Tengah Ketidakpastian Global

Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahannya pada perdagangan Rabu pagi, mendekati angka psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Pada pukul 10.01 WIB, mata uang Garuda tercatat ambles 0,44 persen atau setara dengan 78 poin, diperdagangkan di level Rp17.917 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari penutupan perdagangan sebelumnya, di mana rupiah telah merosot 34 poin menjadi Rp17.839 dari posisi Rp17.805 per dolar AS.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, mengingat level Rp18.000 merupakan ambang batas yang sensitif bagi perekonomian nasional. Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengidentifikasi beberapa faktor utama yang memicu tekanan terhadap rupiah.

Faktor Eksternal Pemicu Pelemahan Rupiah

Menurut Ibrahim Assuaibi, tekanan terhadap rupiah sebagian besar berasal dari sektor eksternal, yang ditandai oleh ketidakpastian global yang terus berlanjut. Salah satu pemicu utama adalah kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali memicu ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait konflik dengan Iran dan isu Selat Hormuz. Pernyataan Trump yang kerap berubah-ubah mengenai negosiasi dengan Iran justru semakin memperuncing ketidakpastian di pasar global.

“Kita melihat ada kontradiksi. Di satu sisi, faktor eksternal sangat dinamis karena pernyataan Trump soal Iran dan Selat Hormuz. Namun di sisi lain, data domestik kita seperti inflasi dan manufaktur masih di zona aman,” ujar Ibrahim.

Konflik di Selat Hormuz menjadi sorotan utama. Iran sempat menghentikan hampir seluruh pengiriman, yang berakibat pada terganggunya pasokan gas dan minyak dunia hingga 20 persen. Hal ini menyebabkan lonjakan harga energi hingga 50 persen, yang secara langsung memberikan tekanan pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain isu Timur Tengah, kebijakan proteksionisme Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump juga turut berkontribusi. Trump baru-baru ini menandatangani proklamasi yang mengubah tarif impor untuk komoditas seperti tembaga, aluminium, dan besi. Meskipun kebijakan ini bertujuan untuk membangun kembali basis industri Amerika Serikat, dampaknya berisiko mengganggu arus perdagangan global dan menciptakan ketidakpastian bagi negara-negara mitra dagangnya. Ibrahim Assuaibi mencatat bahwa proklamasi tersebut berpotensi menurunkan tarif beberapa peralatan pertanian dari 25 persen menjadi 15 persen, menunjukkan pergeseran kebijakan perdagangan AS.

Data Domestik Masih Menjanjikan Meski Dihantam Gejolak

Di tengah gempuran faktor eksternal yang volatil, data-data perekonomian domestik Indonesia menunjukkan gambaran yang lebih stabil dan menjanjikan. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa perekonomian Indonesia mencatat inflasi sebesar 3,08 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada bulan Mei 2026. Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan tipis dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026.

Lebih rinci, inflasi tercatat sebesar 1,35 persen secara tahun kalender (year-to-date/ytd) dan 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Angka inflasi ini masih berada dalam kisaran yang terkendali dan menunjukkan stabilitas harga di dalam negeri.

Sektor manufaktur Indonesia juga menunjukkan sinyal positif. Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berhasil naik ke level 50,0 pada Mei 2026, pulih dari angka 49,1 pada April 2026 yang mengindikasikan kontraksi. Posisi PMI pada angka 50,0 menunjukkan kondisi operasional manufaktur yang stabil.

Perbaikan ini terutama didorong oleh peningkatan permintaan domestik yang mendorong kenaikan pesanan baru selama dua bulan berturut-turut. Kenaikan pesanan baru pada Mei tercatat sebagai yang tercepat sejak Februari. Meskipun demikian, sektor industri di Indonesia masih dihadapkan pada tantangan berupa tekanan biaya bahan baku yang melonjak dan gangguan pasokan yang sedikit menahan laju produksi.

Surplus Neraca Perdagangan yang Berkelanjutan

Aspek lain yang patut dicatat adalah kinerja neraca perdagangan Indonesia yang terus mencatatkan surplus. Hingga April 2026, surplus neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif mencapai 5,64 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas ekspor Indonesia masih mampu melebihi nilai impornya, bahkan di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global.

Kinerja ekspor non-migas, khususnya dari sektor industri pengolahan, menjadi penopang utama surplus perdagangan nasional. Yang lebih mengesankan, neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus secara berturut-turut selama 72 bulan sejak Mei 2020. Ini menandakan ketahanan sektor ekspor Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Rekomendasi untuk Memperkuat Pasar Domestik

Menanggapi situasi yang ada, Ibrahim Assuaibi menyarankan agar pemerintah terus berupaya memperkuat pasar domestik. Penguatan pasar domestik dianggap sebagai strategi kunci untuk meredam guncangan yang mungkin timbul akibat kebijakan-kebijakan tak terduga dari negara-negara mitra dagang utama, seperti Amerika Serikat.

“Jika harga energi terus naik akibat konflik Iran, maka biaya produksi di dalam negeri akan membengkak,” pungkas Ibrahim, menekankan pentingnya ketahanan ekonomi domestik dalam menghadapi volatilitas global.

Dengan demikian, meskipun rupiah sedang mengalami tekanan akibat faktor eksternal, fundamental ekonomi domestik Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang patut diapresiasi. Fokus pada penguatan pasar domestik menjadi langkah strategis untuk memastikan stabilitas ekonomi di masa mendatang.