Felix Gallardo Kartel Narkoba Meksiko Pertama yang Selundupkan Kokain Kolombia ke AS

Sukses di bisnis Ganja tanpa biji, Felix beralih ke kokain

Felix Gallardo Kartel Narkoba
Foto arsip 10 April 1989 ini menunjukkan pengedar narkoba Meksiko Miguel Angel Felix Gallardo di lokasi yang dirahasiakan. (Foto: AP)
Ilustrasi Felix Gallardo bertemu dengan Pablo Escobar di Kolombia. (Foto: Screenshot/Serial TV: “Narcos”)

Gallardo dan Isabella pun pulang dengan senyum manis. Sebagai amatir di bisnis kokain yang nilainya berpuluh kali lipat dibanding ganja, kerja sama dengan kartel Cali jelas peluang emas.

Saat Gallardo dan Isabella menaiki jet pribadi di bandara, 2 orang sicarios, Poison dan Blackie para penjagal kepercayaan Pablo Emilio Escobar Gaviria alias Pablo Escobar menculik mereka.

Di kediaman Kartel Medelin, Gallardo dipertemukan dengan Pablo Escobar di kediamannya, sementara Isabella menunggu di bar.

Gallardo diajak Blackie ke gazebo kecil di pinggir danau. Sesaat menunggu Escobar datang, ia dikejutkan kemunculan kuda nil dari dalam danau.

Mereka pun bertemu. Kepada Escobar, Gallardo mengaku kalau kedatangannya hanya berbisnis dengan kartel Cali. “Sejujurnya, jika bisnis ini berjalan, anda akan segera bangkrut,” kata Felix.

Escobar membalas ucapan itu dengan karakter intimidatifnya. “Kalau saya boleh jujur, saya bisa jadikan Anda santapan kuda nil. Saya tidak suka orang Meksiko,” kata Escobar.

Gallardo tidak terpengaruh ancaman itu dan justru menimpali balik. “Anak buah Anda bisa saja membunuh saya di perjalanan tadi jika memang Anda ingin saya mati,” kata Gallardo.

Escobar pun bertanya kembali kepada Gallardo kenapa tidak mendatangi dirinya terlebih dahulu sebelum menemui kartel Cali. Gallardo menjawab, lagi-lagi dengan terus terang: “Saya diberitahu bahwa Anda orang yang temperamental.”

Gallardo paham bahwa ia diculik ke sana memang bukan untuk dibunuh, melainkan karena Escobar ingin punya andil.

Escobar meminta Felix juga mengantarkan kokain milik kartel Medellin bersamaan dengan pengiriman kartel Cali, porsinya 50-50. Felix segera menyanggupinya.

Sebelum Escobar pergi meninggalkannya, Gallardo sempat bertanya, “Anda tidak akan benar-benar melemparkan saya ke kudanil itu, kan?” Namun, Escobar tetap memasang tampang sengit: “Kuda nil itu juga tidak suka orang Meksiko,” timpal Escobar.

Dengan aliansi yang terjalin dengan Kolombia, Felix pulang ke Meksiko dan mengetahui peralihan dari ganja ke kokain tidak diterima dengan baik oleh sahabatnya Rafael dan rekan pelindungnya Direktur General DFS, Osuna Nava.

Rafael mengecam peralihan itu, ia menekankan kalau ganja telah menstabilkan mereka dan akan selalu demikian.

Osuna Nava juga tidak setuju dengan peralihan ke kokain.

Sementara, Don Neto menyetujui bisnis kokain yang direncanakan Felix.

Felix mengadakan rapat para kartel di hotel Americas miliknya. Di hotel itu dirinya mengumumkan beberapa perubahan dalam manajemen kartel.

Pertama, Felix menunjuk Hector Palma Salazar sebagai pengawas operasi penyelundupan di Mazatlan.

Sedangkan Amado Carrillo Fuentes mengambil alih Juarez.

Sementara, Tijuana tetap berada di tangan Arellano bersaudara.

Menurut Felix, kokain akan menjadi masa depan kartel tersebut. Felix menyatakan dirinya satu-satunya pemimpin dan siapa yang tidak setuju dengannya bebas untuk pergi.

Rapat itu ricuh. Rafael dan Osuna Nava marah besar. Felix justru tidak menambah bagian keuntungan DFS.