Trump usulkan pindah paksa warga Palestina keluar jalur Gaza
Pernyataan Saudi serupa dengan yang dibuat Putra Mahkota Mohammed bin Salman pada September 2024.
Mohammed mengatakan Arab Saudi tidak akan menormalisasi hubungan dengan Israel tanpa pembentukan negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
“Posisinya yang teguh tidak dapat dinegosiasikan dan tidak dapat dikompromikan,” kata Mohammed.
Mesir memperingatkan setiap relokasi massal warga Palestina ke Semenanjung Sinai yang berbatasan dengan Gaza, dapat merusak perjanjian damai dengan Israel.
Sebab, akan berdampak pada landasan stabilitas regional dan pengaruh Amerika selama hampir setengah abad.
Mesir dan Qatar juga berperan sebagai mediator utama Hamas dalam perundingan yang menghasilkan gencatan senjata.
Kedua negara ini bekerja sama dengan utusan Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff untuk mencoba memperpanjang gencatan senjata.
Padahal, fase gencatan senjata di Gaza saat ini Hamas akan membebaskan 33 sandera Israel untuk ditukar dengan ratusan tahanan Palestina, berakhir pada awal Maret 2025.
Tahap kedua, di mana sekitar 60 sandera yang tersisa akan dibebaskan dengan imbalan lebih banyak tahanan, sedang dinegosiasikan.
Hamas menegaskan tidak akan melepas sandera yang tersisa jika perang tak diakhiri. Penarikan penuh Israel yang kemungkinan akan menghalangi pemindahan paksa.
Jika perang dimulai kembali, akan membahayakan nyawa para sandera yang tersisa dan tak menjamin bisa melenyapkan Hamas yang menguasai sebagian besar Gaza.
Hal itu juga akan membatalkan apa yang digambarkan Trump sebagai pencapaian besar dan semakin menunda normalisasi hubungan dengan Arab Saudi.
Editor: Fatmi Rahim






















