Patrolmedia, Kherson – Sekitar 2.000 warga Ukraina termasuk 50 anak-anak, terperangkap dalam krisis kelaparan dahsyat di Kota Oleshky, Ukraina selatan yang kini dikuasai militer Rusia.
Penutupan akses pasokan bantuan dan kehancuran total kota membuat tempat tersebut dijuluki warga sebagai “neraka di bumi”.
”Kami berada di Oleshky dan tidak bisa keluar. Kami kelaparan. Saat ini saya sama sekali tidak punya makanan,” tulis seorang wanita lokal via pesan singkatnya saat menunggu di evakuasi, dilansir The Guardian, Minggu (27/9/2026).
Pasokan makanan ke Oleshky terhenti total sejak Mei lalu akibat meluasnya ranjau darat serta meningkatnya serangan drone.
Warga terpaksa bertahan hidup dengan makan sekali sehari, mengonsumsi sup berisi tanaman liar dan rumput gulma.
Berikut fakta-fakta krisis kemanusiaan yang menimpa warga Oleshky:
Pemerintah militer Kherson berupaya menerjunkan sekitar 4 ton bantuan darurat berupa makanan, air, dan obat-obatan ke 100 lokasi menggunakan drone berukuran besar.
Bantuan itu datang usai Rusia memblokir jalan darat dan menolak kesepakatan gencatan senjata untuk evakuasi.
Gubernur Militer Kherson, Oleksandr Prokudin mengatakan, sebagian besar bantuan justru disita militer Rusia. Dalam sejumlah kasus, warga yang mencoba mengambil bantuan udara malah ditangkap.
”Tentara Rusia menghalangi bantuan, menghancurkan kendaraan pasokan, dan membunuh orang-orang yang mencoba membawa makanan dan obat-obatan,” kata Prokudin.
Otoritas Ukraina menuding pasukan Rusia sengaja menahan warga sipil agar tidak bisa keluar dari kota.
Warga diduga dijadikan perisai manusia untuk mencegah serangan balasan dari tentara Ukraina dari arah Kherson.
Kondisi kelaparan yang meluas di garis depan juga memicu penjarahan oleh tentara pendudukan.
Tentara Rusia dilaporkan merampas sisa-sisa bahan pangan milik warga sipil.
”Seminggu yang lalu, tentara datang ke halaman warga dan menggali habis simpanan kentang, bawang merah, dan bawang putih milik nenek-nenek,” tulis seorang warga dalam pesan singkatnya.
Kondisi Oleshky kian buruk lantaran infrastruktur kota seperti listrik, air bersih, dan layanan medis mati total sejak akhir tahun lalu.
Kepala Administrasi Militer Oleshky, Tetiana Hasanenko mengatakan, keberadaan drone musuh yang terus mengintai membuat warga tak berani menguburkan jenazah.
”Ada mayat tergeletak di mana-mana, bukan hanya di ruang bawah tanah rumah sakit. Warga tidak bisa mengambil jasad tersebut karena drone terus mengintai di atas,” ungkap Hasanenko.
PBB Didesak Turun Tangan
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, mempersoalkan terkait krisis Oleshky dalam Sidang Umum PBB di New York.
Ia mendesak dunia internasional membantu evakuasi warga dan menyebut Rusia sebagai penyebab utama bencana kemanusiaan tersebut.
Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengakui adanya situasi kritis di Oleshky.
Tapi, otoritas Moskow justru menuduh balik kalau pasukan Ukraina lah sebagai dalang yang menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan ke Oleshky.
(Kml)






















