Lokal  

Damkar Mataram Turunkan 12 Personel Bantu Padamkan Kebakaran Desa Sade

Kebakaran Hebat Mengancam Rumah Adat Bersejarah di Desa Sade

Kebakaran yang terjadi di Desa Sade, Lombok Tengah, pada Sabtu malam (22/8/2026) menimbulkan kekhawatiran besar terhadap bangunan-bangunan adat berusia ratusan tahun. Kejadian ini tidak hanya merusak struktur fisik, tetapi juga mengancam nilai sejarah dan budaya yang sangat berharga bagi masyarakat suku Sasak.

Bangunan tradisional khas Lombok dengan atap jerami ini memiliki ciri khas yang unik dan menjadi simbol kearifan lokal. Namun, kebakaran yang terjadi mengarah pada respons cepat dari berbagai pihak terkait. Upaya pemadaman dilakukan secara intensif untuk meminimalisir kerusakan lebih lanjut terhadap warisan leluhur tersebut.

Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Mataram turut serta dalam bantuan tenaga dan armada ke lokasi kejadian. Jarak antara Mataram dan lokasi kebakaran sekitar 42,8 km atau membutuhkan waktu sekitar 55 menit. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk dukungan lintas wilayah agar api tidak merambat ke bangunan adat lainnya yang letaknya saling berdekatan.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Kebakaran Damkar Kota Mataram, Multazam, menyatakan bahwa pihaknya telah mengerahkan armada terbaik untuk membantu proses pemadaman. “Kita turunkan 2 unit. Unit 1 fire truck dan unit 2 fire fuso truck,” ucap Multazam menjawab pertanyaan.

Selain armada berat, personel juga dikerahkan secara maksimal untuk membantu pemadaman di area Sade yang padat. Multazam menjelaskan bahwa terdapat belasan petugas yang telah berada di lokasi. “Kami di Pemadam Kota Mataram, Personel yang diterjunkan 12 orang,” tambahnya.

Keterlibatan tim dari Mataram ini merupakan bagian dari koordinasi menyeluruh antarwilayah di Nusa Tenggara Barat. Menurut Multazam, pihaknya selalu siap melakukan backup terhadap insiden kebakaran, terutama yang berkaitan dengan koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara luas.

Api Belum Sepenuhnya Padam

Hingga saat ini, kondisi terkini di lapangan masih terus dipantau secara intensif oleh tim gabungan agar situasi benar-benar terkendali. “Kalau info kondisinya belum bisa kami sampaikan utuh, kami memantau sepenuhnya di lapangan, namun tim saat ini terus bergerak,” kata Multazam.

Mengenai pemicu utama kebakaran yang menghanguskan bangunan eksotis tersebut, pihak berwenang mengaku masih melakukan investigasi mendalam. “Penyebabnya masih kami dalami,” tegas Multazam. Berbagai kemungkinan penyebab mulai dikaji, mulai dari faktor teknis hingga aktivitas harian di kawasan wisata tersebut.

“Akan cepat ketahuan nanti dari misalnya apakah berasal dari tabung gas, tapi saat ini kami belum tahu betul pastinya,” ujar Multazam.

Meski demikian, Multazam juga menyoroti penggunaan tungku tradisional yang sering menjadi daya tarik wisata atau tempat berjualan bagi para pengunjung di Sade. Namun, hingga saat ini belum dapat dipastikan apakah aktivitas penggunaan tungku tersebut memiliki keterkaitan dengan insiden ini.

Selain faktor tersebut, kemungkinan adanya kelalaian manusia seperti membuang puntung rokok sembarangan juga menjadi salah satu hal yang diwaspadai. Mengingat material bangunan yang didominasi bahan mudah terbakar, puntung rokok bisa dengan cepat memicu insiden kebakaran yang serius.

Saat ini, tim pemadam kebakaran tetap berada dalam posisi siaga untuk mengantisipasi adanya titik api susulan yang mungkin muncul dari sisa-sisa material yang hangus. “Kami masih saling monitor. Insyaallah kami siaga,” tutup Multazam.