Krisis Air di Iran: Ancaman Perang dan Dampak Lingkungan yang Memburuk
Kondisi krisis air di Iran semakin diperparah oleh konflik yang sedang berlangsung, yang tidak hanya merusak infrastruktur vital tetapi juga memperburuk masalah lingkungan yang sudah ada. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa serangan Amerika Serikat (AS) telah menghancurkan pabrik desalinasi air tawar di Pulau Qeshm, yang berlokasi strategis di Selat Hormuz. Insiden ini memiliki konsekuensi langsung terhadap pasokan air bersih bagi sekitar 30 desa di wilayah tersebut.
Meskipun serangan terhadap infrastruktur energi, termasuk fasilitas pengolahan air, merupakan ancaman serius terhadap ketersediaan air, dampak penuh dari serangan ini belum dapat sepenuhnya dinilai karena situasi perang yang masih berkecamuk. Namun, para ahli memprediksi bahwa ketika Iran memulai upaya rekonstruksi pasca-konflik, krisis air kemungkinan besar akan semakin memburuk. Hal ini disebabkan oleh pengalihan sumber daya yang krusial untuk pemulihan infrastruktur, yang pada gilirannya akan mengurangi alokasi untuk pengelolaan dan pemulihan sumber daya air.
Selain ancaman langsung terhadap pasokan air, perang juga telah memicu serangkaian masalah lingkungan yang signifikan. Pembakaran fasilitas minyak dan gas mengakibatkan polusi udara yang parah, serta berkontribusi pada perubahan iklim global. Analisis terbaru yang dilakukan oleh para peneliti menunjukkan bahwa antara tanggal 28 Februari dan 14 Maret, perang telah melepaskan hampir 5,6 juta ton karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya ke atmosfer. Pelepasan ini berasal dari penghancuran berbagai bangunan, termasuk sekolah, rumah, dan fasilitas umum lainnya.
Menghadapi situasi yang semakin genting ini, pemerintah Iran telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi kekeringan dan kelangkaan air. Pada bulan November, Iran mulai menerapkan program penyemaian awan (cloud seeding), sebuah teknologi yang melibatkan penyemprotan garam kimia ke dalam awan untuk merangsang terjadinya curah hujan. Selain itu, pihak berwenang juga telah mengumumkan rencana untuk memberlakukan sanksi terhadap rumah tangga dan bisnis yang terbukti melakukan konsumsi air berlebihan, sebagai upaya untuk mendorong efisiensi penggunaan air.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara tegas menyuarakan penolakannya terhadap praktik pengeboran sumur ilegal dan pengambilan air tanah secara berlebihan. Beliau menekankan pentingnya adopsi teknologi modern dalam pengelolaan sumber daya air dan menyerukan kampanye kesadaran publik yang lebih luas. Dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita Mehr, Presiden Pezeshkian menyerukan “perencanaan dan penelitian untuk memperluas metode pertanian modern, termasuk budidaya rumah kaca canggih, pertanian hidroponik, sistem aeroponik, dan teknik produksi inovatif lainnya.”
Akar Permasalahan: Kekeringan Historis dan Pengelolaan yang Buruk
Krisis air yang dialami Iran bukanlah fenomena baru. Negara ini telah menghadapi kekeringan berkepanjangan selama beberapa tahun terakhir, disertai dengan penurunan curah hujan yang signifikan. Namun, serangan AS dan Israel terhadap pabrik desalinasi, pipa air, dan infrastruktur sipil lainnya telah menambah beban berat pada masalah air yang sudah ada.
Pasokan air utama Iran, termasuk waduk, sungai, dan cadangan air tanah, semakin menipis akibat akumulasi masalah pengelolaan selama bertahun-tahun. Praktik pertanian yang tidak efisien, pembangunan bendungan yang berlebihan tanpa kajian dampak lingkungan yang memadai, serta peningkatan pengeboran sumur secara masif, semuanya berkontribusi pada penipisan sumber daya air yang terbarukan.
Menurut Data Aqueduct dari World Resources Institute, yang merupakan lembaga global yang mengukur risiko air, skor tekanan air dasar Iran masuk dalam kategori “sangat tinggi”. Ini berarti bahwa Iran secara konsisten menggunakan lebih dari 80 persen dari total pasokan air terbarukannya dalam rata-rata tahunan. Tingkat pemanfaatan yang ekstrem ini menunjukkan kerentanan sistem air negara tersebut terhadap gangguan sekecil apa pun.
Krisis Air Terburuk dan Ancaman Eksodus
Pada November 2025, Iran diprediksi akan menghadapi krisis air terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Lima tahun berturut-turut mengalami kekeringan telah menyebabkan cadangan air di seluruh negeri hampir habis. Situasi ini sangat mengkhawatirkan:
- Level Waduk Kritis: Permukaan air di banyak waduk dilaporkan sangat rendah. Sebagai contoh, Bendungan Amir Kabir di Teheran hanya mampu menampung 8 persen dari kapasitas normalnya.
- Bendungan Mengering: Di seluruh negeri, sebanyak 19 bendungan utama dilaporkan telah mengering total.
- Ancaman Evakuasi: Presiden Masoud Pezeshkian pada saat itu memperingatkan bahwa jika hujan tidak turun hingga Desember, penjatahan air akan diberlakukan. Jika kondisi tidak membaik, bahkan ada ancaman bahwa ibu kota, Teheran, mungkin harus dievakuasi.
Meskipun ancaman evakuasi berhasil dihindari, krisis air yang parah ini memicu gelombang protes yang lebih luas. Pada bulan Desember 2025 hingga Januari, masyarakat turun ke jalan menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap memburuknya kondisi kehidupan dan meningkatnya inflasi yang sebagian besar disebabkan oleh kelangkaan air.
Sejarah Protes Terkait Air
Masalah kelangkaan air dan dugaan salah urus sumber daya air oleh pemerintah bukanlah hal baru di Iran. Protes serupa pernah meletus pada tahun 2021 di provinsi Khuzestan yang terletak di bagian selatan negara itu. Sebelum itu, pada tahun 2018, demonstrasi besar-besaran juga terjadi, di mana para peserta secara terang-terangan menuduh pemerintah Iran melakukan praktik pengelolaan air yang buruk, yang pada akhirnya memperparah krisis yang dihadapi masyarakat. Insiden-insiden ini menyoroti betapa sensitifnya isu air bagi stabilitas sosial dan politik di Iran.






















