Warga yang terdampak tanah bergerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, masih menantikan relokasi. Beberapa waktu lalu, sebagian rumah warga roboh akibat pergerakan tanah yang dimulai sejak 14 Februari 2026. Pada saat itu, sejumlah warga memilih mengungsi untuk menghindari risiko kecelakaan.
Namun, kini lokasi pengungsian telah kosong. Warga kembali ke rumah mereka meskipun kondisi tanah masih bergerak setiap kali hujan deras turun. Ketua RT 7 RW 1 Kelurahan Jangli, Joko Sukaryono, menjelaskan bahwa sebagian warga yang rumahnya rusak parah tinggal sementara di kos atau rumah kerabat.
Menurut informasi yang diperoleh, masa sewa lokasi pengungsian yang berada di atas lahan milik warga akan berakhir pada 16 April 2026. Setelah itu, tenda-tenda dan fasilitas seperti kamar mandi yang dibangun di atas tanah tersebut akan dibongkar.
Salah satu warga, Sugiyarti, 36 tahun, mengatakan bahwa ia sudah tidak lagi tinggal di pengungsian sejak Lebaran lalu. Sebelumnya, ia sempat mengungsi namun sering kembali ke rumah ketika curah hujan menurun. Ia menceritakan bahwa pergerakan tanah di kampungnya mulai terasa sejak awal Februari 2026.
Awalnya, jalan-jalan di sekitar lingkungan mulai retak. Kemudian, lantai beberapa rumah warga mulai menyembul ke atas, sementara sebagian tanah di kampung tersebut anjlok. Hujan yang terus-menerus membuat jalan putus dan beberapa rumah ambruk.
Pergerakan tanah ini memicu kerusakan pada rumah-rumah yang sebagian besar menggunakan bahan kayu. Tiga unit rumah warga harus dirobohkan karena kondisinya yang sangat miring. Sebanyak 24 keluarga yang sebelumnya tinggal di kawasan tersebut kemudian memilih untuk mengungsi.
Sugiyarti menyampaikan keinginannya untuk direlokasi ke lokasi yang lebih aman. “Lokasinya di mana kami manut,” ujarnya.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengungkapkan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan Komando Daerah Militer IV Diponegoro dan Pemerintah Kota Semarang dalam membahas rencana relokasi warga. Ia menegaskan bahwa komposisi dana belum sepenuhnya dirancang, tetapi minimal perlu dilakukan koordinasi terlebih dahulu dengan wali kota.
Masalah Tanah Bergerak: Dampak pada Masyarakat
Pergerakan tanah yang terjadi di Kelurahan Jangli memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat setempat. Berikut adalah beberapa hal yang terjadi:
- Kerusakan infrastruktur: Jalan-jalan dan bangunan seperti rumah serta lantai rumah mengalami kerusakan akibat tanah yang bergeser.
- Pemindahan tempat tinggal: Banyak warga terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman.
- Kehidupan yang tidak stabil: Warga yang tinggal di pengungsian merasa tidak nyaman karena ketidakpastian tentang masa depan dan lokasi relokasi.
Langkah yang Diambil oleh Pemerintah
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang sedang mempertimbangkan langkah-langkah yang dapat diambil untuk menangani masalah ini. Beberapa tindakan yang mungkin dilakukan antara lain:
- Evaluasi lokasi relokasi: Menentukan lokasi yang aman dan layak untuk ditempati oleh warga terdampak.
- Pembagian dana: Memastikan adanya dana yang cukup untuk mendukung proses relokasi dan pemulihan infrastruktur.
- Koordinasi dengan instansi terkait: Melibatkan TNI dan lembaga lain yang memiliki peran dalam penanganan bencana alam.
Kondisi Terkini dan Harapan Warga
Sejauh ini, warga masih tinggal di rumah mereka meskipun tanah terus bergerak. Mereka berharap ada solusi cepat dari pemerintah agar bisa kembali hidup tenang. Namun, hingga saat ini, harapan tersebut belum terwujud.
Tantangan dan Keberlanjutan
Masalah tanah bergerak di wilayah ini menunjukkan pentingnya perencanaan dan pengelolaan lingkungan yang baik. Diperlukan upaya jangka panjang untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Selain itu, perlunya pendekatan partisipatif dari masyarakat dalam pengambilan keputusan terkait relokasi juga menjadi penting.






















