Patrolmedia, Teheran – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS).
Khamenei menegaskan serangan apa pun terhadap Iran akan memicu “perang regional” yang luas.
Gertakan ini muncul di tengah meningkatnya aset militer AS di bawah kendali Presiden Donald Trump di Timur Tengah.
“Mereka harus tahu bahwa jika mereka memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional,” tegas Khamenei (86) dalam acara peringatan Revolusi Iran di Teheran, Minggu waktu setempat, dilansir Al Jazeera, Senin (2/2/2026).
Tuding AS Ingin ‘Lahap’ Minyak Iran
Khamenei menuduh AS bernafsu menguasai sumber daya minyak dan gas Iran.
Ia juga menyebut gelombang protes anti-pemerintah yang baru-baru ini terjadi di Iran sebagai upaya “kudeta” yang gagal.
“Tujuan mereka adalah menghancurkan pusat-pusat penting negara. Mereka menyerang polisi, masjid, hingga membakar Al-Quran,” cetusnya.
Sebagai informasi, aksi protes besar-besaran pecah di Iran sejak akhir Desember lalu.
Awalnya dipicu soal ekonomi dan anjloknya nilai mata uang Rial, namun meluas menjadi kemarahan nasional atas pembatasan kebebasan sosial.
Simpang Siur Jumlah Korban Jiwa
Terkait kerusuhan tersebut, terjadi perbedaan data korban jiwa yang sangat mencolok:
PBB: Menduga korban tewas bisa melampaui 20.000 orang.
Aktivis: Mencatat sedikitnya 6.713 kematian.
Pemerintah Iran: Mengklaim 3.117 orang tewas, menuding “teroris” didikan AS dan Israel sebagai pelakunya.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian berjanji akan merilis data resmi korban tewas untuk menepis “angka palsu” yang beredar.
‘Matilah Amerika’ Bergema di Parlemen
Ketegangan kian memuncak usai Uni Eropa memasukkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ke daftar organisasi teroris. Anggota parlemen Iran pun meradang.
Dalam sidang pada Minggu, para anggota parlemen garis keras kompak mengenakan seragam IRGC sambil mengepalkan tangan.
Teriakan “Matilah Amerika” kembali bergema di dalam gedung parlemen.
Di sisi lain, sebagai upaya meredam gejolak sosial di dalam negeri, pemerintah Iran menjanjikan kebijakan baru.
Salah satunya adalah rencana mengizinkan perempuan untuk mengendarai sepeda motor, hal yang selama ini dilarang keras di negara tersebut.
(Kml/Ft)






















