Tim K9 Polri Buru Korban Longsor Bandung Barat

BANDUNG – Bencana longsor yang melanda Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mendapatkan perhatian serius dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Sebagai wujud komitmen dalam misi kemanusiaan, Polri mengerahkan tim khusus, yaitu Detasemen K9 Unit SAR Direktorat Polisi Satwa (Ditpolsatwa) Korps Sabhara Baharkam Polri, untuk membantu proses pencarian korban yang tertimbun longsor.

Tim Detasemen K9 SAR Ditpolsatwa Korsabhara Baharkam Polri yang diterjunkan terdiri dari 20 personel yang dipimpin oleh IPTU Erasmus selaku Katim K9. Selain personel terlatih, tim ini juga membawa enam ekor anjing pelacak K9 yang memiliki kemampuan khusus dalam pencarian korban. Anjing-anjing tersebut adalah Walet, Ari, Rubin, Dasa, Gyra, dan Sita. Kehadiran mereka diharapkan dapat mempercepat dan memaksimalkan upaya pencarian di area longsor yang luas dan sulit dijangkau.

Kombes Pol Hendra Rochmawan, selaku Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jawa Barat, menjelaskan bahwa pengerahan Detasemen K9 SAR ini merupakan langkah strategis yang diambil Polri untuk mempercepat proses pencarian korban di lokasi bencana. Medan longsor yang berat dan berlumpur tentu menjadi tantangan tersendiri bagi tim SAR gabungan. Dengan kemampuan khusus yang dimiliki anjing pelacak, diharapkan mereka dapat menemukan titik-titik lokasi korban yang sulit terdeteksi oleh manusia.

“Pengerahan Den K9 SAR ini merupakan bentuk keseriusan dan komitmen Polri dalam misi kemanusiaan,” ujar Kombes Pol Hendra Rochmawan. Polri berupaya mengerahkan seluruh sumber daya yang dimiliki secara maksimal, cepat, dan terukur agar proses pencarian korban dapat berlangsung efektif. Selain itu, Polri juga memastikan bahwa informasi yang disampaikan kepada masyarakat akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Update terkini dari Posko Utama dan Pos DVI pada hari Minggu, (25/1/2026), pukul 16.35 WIB, menunjukkan bahwa tim SAR gabungan telah mengevakuasi sebanyak 25 kantong jenazah dari total 105 laporan orang hilang. Jumlah ini bertambah tiga jenazah utuh dari hasil pencarian terbaru. Dari 25 kantong jenazah tersebut, 11 korban telah berhasil diidentifikasi, terdiri dari 10 jenazah utuh dan satu potongan tubuh. Proses identifikasi ini dilakukan secara cermat dan teliti oleh tim DVI (Disaster Victim Identification) untuk memastikan identitas korban secara akurat.

Dalam upaya pencarian dan evakuasi korban longsor, Polri tidak bekerja sendiri. Kombes Pol Hendra Rochmawan menegaskan bahwa pihaknya bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk TNI, Basarnas, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, serta unsur relawan. Sinergi dan koordinasi yang baik antar instansi ini sangat penting untuk memastikan efektivitas dan efisiensi proses pencarian dan evakuasi. Semua pihak bekerja sama dengan tujuan yang sama, yaitu menemukan dan mengevakuasi seluruh korban secepat mungkin.

Polri menyadari bahwa kehadiran mereka di lokasi bencana tidak hanya sebatas penegakan hukum, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam misi kemanusiaan. “Polri hadir tidak hanya dalam penegakan hukum, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam misi kemanusiaan. Inilah wujud nyata transformasi polri presisi yang humanis, responsif, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat,” tegas Kombes Pol Hendra Rochmawan. Polri berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, terutama dalam situasi darurat dan bencana. Upaya pencarian korban longsor ini menjadi bukti nyata komitmen Polri dalam melindungi dan melayani masyarakat.

Adapun rincian dari upaya tim SAR gabungan adalah sebagai berikut:

  • Pengerahan Personel dan Peralatan: Polri mengerahkan 20 personel Detasemen K9 SAR, 6 ekor anjing pelacak, serta berbagai peralatan pendukung lainnya.

    • Peralatan ini meliputi alat berat, peralatan medis, peralatan komunikasi, dan perlengkapan evakuasi.
    • TNI dan Basarnas juga mengerahkan personel dan peralatan yang tidak kalah lengkap.
  • Koordinasi dengan Instansi Terkait: Polri terus berkoordinasi dengan TNI, Basarnas, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, dan relawan untuk memastikan kelancaran operasi SAR.

    • Koordinasi ini meliputi pembagian tugas, pertukaran informasi, dan penentuan strategi pencarian.
    • Posko Utama didirikan untuk menjadi pusat koordinasi dan informasi bagi seluruh tim SAR.
  • Identifikasi Korban: Tim DVI Polri bekerja keras untuk mengidentifikasi korban yang telah ditemukan.

    • Proses identifikasi ini melibatkan pengumpulan data ante-mortem (data sebelum meninggal) dan post-mortem (data setelah meninggal).
    • Data ante-mortem diperoleh dari keluarga korban, seperti catatan medis, foto, dan ciri-ciri fisik.
  • Dukungan Psikologis: Selain melakukan pencarian dan evakuasi, Polri juga memberikan dukungan psikologis kepada keluarga korban.

    • Tim trauma healing diterjunkan untuk membantu keluarga korban mengatasi trauma dan kesedihan.
    • Dukungan psikologis ini sangat penting untuk membantu keluarga korban melewati masa sulit ini.

Polri akan terus berupaya semaksimal mungkin dalam membantu proses pencarian dan evakuasi korban longsor di Kabupaten Bandung Barat. Diharapkan seluruh korban dapat segera ditemukan dan diidentifikasi, sehingga keluarga korban dapat segera mendapatkan kepastian dan ketenangan.