.CO.ID, WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat (AS) mengeklaim bahwa dirinya mencegah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, untuk ikut masuk ke medan perang lantaran Erdogan tidak suka dengan Israel. Hal itu diungkapkan Trump saat memberikan keterangan kepada pers di Ruang Ouval, Gedung Putih, Rabu (24/6/2026).
“Dia kandidat utama untuk beperang dengan Iran, mungkin berada di sisi bersama Iran, karena dia bukan fan dari Israel,” kata Trump dikutip Times of Israel, meski diketahui Turki tidak pernah mengindikasikan persiapan ikut ke medan perang antara AS-Israel melawan Iran.
“Saya meminta dia untuk menjauh. Dia menjauh,” kata Trump.
“Erdogan adalah pemimpin besar, dia adalah seorang yang kuat…Apapun yang saya minta kepadanya, dia melakukannya.”
Pernyataan Trump ini tak lama setelah Erdogan dan sejumlah pejabat senior Turki belakangan menebalkan ancaman terhadap Israel, di mana menteri dalam negeri Turki mengimbau negaranya untuk “memerdekakan” Yerusalem. Erdogan, yang telah lama menjadi pengkritik keras Israel, beberapa hari kemudian mengatakan, bahwa “agresi” Israel mengancam seluruh dunia dan harus dihentikan, sembari menambahkan bahwa serangan-serangan Israel ke Lebanon dan Suriah adalah juga ancaman terhadap Turki.
Trump pada Rabu juga ditanya oleh wartawan, apakah dia menyiapkan sebuah “tas hadiah” besar berisi senjata untuk Turki jelang pertemuan NATO. Persenjataan itu termasuk jet F-35 yang selama ini diinginkan oleh Turki.
“Saya berpikir begitu, dengarkan… Saya mungkin akan melakukan sesuatu yang akan membuatnya senang,” jawab Trump.
Didesakan apakah penjualan F-35 ke Turki akan terealisasi, Trump meminta Wakil Presiden AS JD Vance untuk meresponsnnya.
“Ada beberapa hal yang kami harus pastikan itu sesuai dengan hukum Amerika. Presiden meminta kami untuk melakukan itu… sehingga mereka bisa mendapatkan F-35… Ini adalah hal yang sangat berhubungan dengan kongres,” kata Vance.
F-35 adalah jet tempur siluman canggih yang dikembangkan oleh AS bekerja sama dengan negara-negara anggota NATO di bahwa program bernama Joint Strike Fighter. Namun demikian, AS mengeluarkan Turki dari program pengembangkan F-35 pada 2019 setelah negara itu membeli sistem pertahanan S-400 dari Rusia.
Hukum AS tidak mengizinkan Turki untuk mengoperasikan atau memiliki sistem S-400 jika ingin ikut ke dalam program F-35. Namun, Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack pada Desember mengatakan, bahwa hubungan antara Trump dan Erdogan membantu kedua negara menggelar “percakapan paling bermanfaat terkait topik ini (persenjataan) dalam satu dekade terakhir.”
KTT NATO
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Turkiye Hakan Fidan menyatakan keputusan-keputusan penting dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Ankara tidak mungkin diambil tanpa kehadiran Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Fidan mengatakan persiapan KTT NATO yang akan berlangsung di Ankara pada 7-8 Juli 2026 terus dilakukan secara intensif.
“Agenda yang akan dibahas sangat penting dan tidak mungkin keputusan mengenai isu-isu tersebut dapat diambil dalam pertemuan tanpa partisipasi presiden Amerika Serikat,” kata Fidan dalam wawancara dengan harian Turkiye yang terbit pada Kamis pekan lalu.
Salah satu topik utama yang akan dibahas adalah mengenai perbedaan pendekatan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Eropa terkait sejumlah isu di aliansi tersebut. Menurut Fidan, banyak negara Eropa menilai penyelenggaraan KTT NATO di Turkiye serta keterlibatan langsung Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan menjadi faktor penting yang mendorong Trump untuk menghadiri konferensi tersebut.
“Banyak negara Eropa menyatakan bahwa penyelenggaraan pertemuan di Turkiye di bawah kepemimpinan presiden kami yang terhormat merupakan faktor utama yang memungkinkan Presiden Trump berpartisipasi dalam KTT ini,” ujarnya.
Fidan menambahkan KTT NATO membuka peluang diplomatik yang signifikan bagi Turkiye di tengah pembahasan mengenai keamanan dan masa depan aliansi tersebut. Pemerintah Turkiye sebelumnya telah mengumumkan hari libur administratif bagi sebagian aparatur sipil negara serta melarang penyelenggaraan kegiatan massa menjelang KTT NATO.
Pertemuan tingkat tinggi itu akan dihadiri para kepala negara dan kepala pemerintahan dari 32 negara anggota NATO serta negara-negara mitra. Hingga saat ini, otoritas Turkiye masih membuka kemungkinan Trump hadir dalam KTT tersebut.






















