Dua Tertembak Peluru Nyasar di UNP, Mahasiswi FIS Jalani Operasi Paha

Insiden Peluru Nyasar Guncang Kampus UNP, Dua Terluka

PADANG – Suasana tenang di depan Rektorat Universitas Negeri Padang (UNP) mendadak terusik oleh insiden mengejutkan pada Selasa sore, Juni 2026. Dua orang dilaporkan mengalami luka tembak akibat dugaan peluru nyasar yang terjadi sekitar pukul 17.00 WIB di kawasan Jalan Prof Dr Hamka, Kelurahan Air Tawar Barat, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat.

Sekretaris UNP, Erianjoni, membenarkan peristiwa nahas tersebut. Ia menjelaskan bahwa dari dua korban yang terluka, salah satunya adalah mahasiswi UNP bernama Nova Wirantika, berusia 25 tahun. Nova merupakan mahasiswi Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP.

“Dari kedua korban tersebut, salah satunya merupakan mahasiswa UNP bernama Nova Wirantika (25), mahasiswi Program Studi Pendidikan Sosiologi FIS UNP,” ujar Erianjoni pada Rabu, Juni 2026.

Sementara itu, korban kedua diidentifikasi sebagai Guruh Guino. Berbeda dengan Nova, Guruh bukan merupakan bagian dari civitas akademika UNP. Ia adalah seorang warga sipil yang kebetulan berada di lokasi kejadian saat insiden itu berlangsung.

“Satu korban lainnya bernama Guruh Guino. Dia bukan mahasiswa UNP, melainkan teman dari salah seorang mahasiswa UNP,” tambah Erianjoni.

Menurut keterangan Erianjoni, kedua korban sedang duduk bersama sejumlah rekan mereka di area alun-alun yang terletak persis di depan Rektorat UNP. Aktivitas santai mereka terhenti seketika oleh suara tembakan yang mengarah pada mereka.

“Saat itu mereka sedang duduk bersama teman-temannya sebelum insiden tersebut terjadi,” jelasnya.

Penanganan Medis dan Upaya Penyelamatan

Akibat luka yang cukup serius, Nova Wirantika segera dilarikan ke Rumah Sakit Hermina Padang untuk mendapatkan penanganan medis intensif. Ia harus menjalani operasi karena proyektil peluru masih bersarang di paha kirinya.

“Nova harus menjalani operasi tadi malam karena proyektil peluru masih bersarang di paha kirinya di RS Hermina,” ungkap Erianjoni.

Sementara itu, korban kedua, Guruh Guino, juga segera mendapatkan perawatan. Setelah mendapat penanganan awal, Guruh kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Tentara Rekso Sudiryo Ganting Padang untuk melanjutkan proses pemulihan.

“Sementara korban Guruh Guino telah ditangani oleh tim medis dan dipindahkan untuk proses pemulihan di RS Tentara Rekso Sudiryo Ganting Padang,” katanya.

Dugaan Sumber Peluru dan Langkah Cepat Pihak Universitas

Menanggapi insiden yang menggemparkan ini, pihak UNP telah melakukan investigasi awal terkait dugaan sumber peluru. Erianjoni menyebutkan bahwa berdasarkan analisis lokasi, pihaknya memperkirakan peluru tersebut berasal dari area latihan tembak TNI yang berjarak sekitar 800 meter dari Kampus Induk UNP Air Tawar. Lokasi yang dimaksud adalah di Lapai.

Menyadari keseriusan situasi, Rektor UNP, Krismadinata, yang kebetulan berada di sekitar lokasi kejadian sesaat setelah insiden terjadi, tidak tinggal diam. Beliau segera mengambil langkah cepat dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk memastikan penanganan yang optimal.

Langkah koordinasi tersebut meliputi:

  • Menghubungi Pangdam I/Bukit Barisan.
  • Berkomunikasi dengan Komandan Batalyon 133/Yudha Sakti.
  • Melibatkan Kepala Badan Intelijen Daerah (Kabinda).
  • Berkoordinasi dengan Polsek Padang Utara.

Upaya koordinasi ini dilakukan guna memastikan penanganan insiden berjalan lancar dan mencegah terulangnya kejadian serupa.

Secara paralel dengan langkah koordinasi, tim medis UNP juga bergerak cepat. Mereka segera mengevakuasi kedua korban ke rumah sakit terdekat menggunakan ambulans kampus. Tujuannya adalah untuk memberikan penanganan medis secepat mungkin kepada Nova dan Guruh.

“Pak Rektor langsung berkoordinasi dengan pihak terkait, sementara tim medis UNP segera membawa korban ke RS Hermina Padang menggunakan ambulans UNP untuk mendapatkan penanganan segera,” pungkas Erianjoni.

Insiden ini menimbulkan keprihatinan mendalam dan menjadi pengingat akan pentingnya koordinasi serta pengawasan yang ketat, terutama terkait aktivitas yang berpotensi menimbulkan dampak bagi masyarakat sipil, termasuk kegiatan latihan militer yang berdekatan dengan area publik.