Cegah Kekerasan di Daycare, Ini Saran Psikolog Klinis untuk Deteksi Dini

Memahami Perubahan Emosi Anak sebagai Tanda Awal Bahaya di Daycare

Bagi para orangtua yang bekerja atau tinggal jauh dari sanak saudara, daycare sering menjadi pilihan utama untuk menitipkan anak. Tempat penitipan anak ini memberikan kenyamanan dan ketenangan karena si Kecil tetap terawat saat orangtua sibuk. Namun, belakangan ini banyak kasus kekerasan pada balita di daycare membuat para orangtua semakin cemas. Bagaimana cara memastikan anak aman saat dititipkan?

Dalam wawancara eksklusif dengan Psikolog Klinis, Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt, ia menjelaskan beberapa cara praktis untuk melatih komunikasi anak dan mendeteksi tanda bahaya dini. Berikut adalah langkah-langkah penting yang bisa dilakukan oleh orangtua.

1. Perhatikan Perubahan Mood Anak

Ketika mendengar berita tentang kekerasan pada anak di daycare, orangtua biasanya mulai merasa khawatir. Menurut Alexandra, sebelum mengajak anak bicara, langkah pertama adalah mengamati perubahan perilaku si Kecil. Anak yang mengalami hal tidak menyenangkan di daycare biasanya akan menunjukkan perubahan suasana hati yang cukup jelas.

“Anak yang lebih murung, mood-nya berubah atau ketika mau dibawa masuk ke daycare-nya udah mulai ada penolakan,” ujar Alexandra. Meskipun penolakan masuk daycare bukan indikator mutlak, orangtua perlu waspada jika sikap menolak tersebut makin ekstrim. Jika setiap kali pulang dari daycare juga kelihatan murung, itu bisa menjadi tanda-tanda pertama.

2. Gunakan Alat Bantu untuk Membantu Anak Berekspresi

Anak usia di bawah tiga tahun masih kesulitan merangkai kalimat dengan baik. Oleh karena itu, Alexandra menyarankan pendekatan visual dan bermain peran. Orangtua bisa menggunakan alat bantu seperti boneka untuk memancing cerita.

“Kita gambar lokasi denah daycare-nya, kita sebutin nama teman-temannya, mungkin bisa pakai boneka-boneka, lalu lihat apa yang terjadi, bagaimana dia akan memainkan bonekanya,” jelas Alexandra. Dengan cara ini, anak akan secara alami meniru situasi yang ia alami.

3. Dengarkan Kalimat-Kalimat Kecil Saat Bermain

Masih dengan metode bermain peran, orangtua bisa memperhatikan anak dengan saksama. Ketika bermain peran, anak-anak sering tanpa sengaja melontarkan kalimat jujur tentang pengalaman mereka. Alexandra menjelaskan bahwa jika ada kejadian tidak enak, anak biasanya akan mengungkapkannya dengan bahasa sederhana.

“Lalu kalau ada kejadian nggak enak, si anak ini juga pasti akan bilang, kayak, ‘aku tiduran di sini nggak bisa bangun,’ misalnya seperti itu,” ungkapnya. Kalimat seperti ini adalah alarm penting yang perlu diperhatikan. Meski terdengar seperti bagian dari permainan, orangtua perlu menindaklanjutinya dengan bertanya lebih lanjut atau menghubungi pihak daycare.

4. Kepekaan Mama adalah Kunci, Terutama untuk Anak yang Belum Lancar Bicara

Anak usia dua tahun ke bawah seringkali sulit berkomunikasi dengan baik. Alexandra mengakui bahwa pada rentang usia ini, melatih anak bercerita memang lebih sulit. Namun, bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan. Kepekaan orangtua sangat penting dalam mengamati tangisan, raut wajah, atau bahasa tubuh anak saat hendak berangkat maupun setelah pulang.

Meski belum bisa berbicara lewat kata-kata, anak tetap bisa “berbicara” melalui emosi mereka. Orangtua harus menjadi detektif bagi buah hati mereka.

5. Komunikasi Balita Masih Terbatas, Tapi Tetap Bisa Dilatih

Alexandra mengingatkan bahwa anak usia tiga tahun ke bawah tidak semuanya mampu berkomunikasi dengan baik. Pelafalan kata dan penyusunan kalimat mereka memang masih sangat sederhana. Namun, di tengah keterbatasan ini, orangtua bisa memanfaatkannya untuk aktif menstimulasi sejak dini.

“Tiga tahun ke bawah anak itu tuh nggak semuanya udah bisa berkomunikasi dengan baik, karena kan pelafalan kata-kata atau nyusun kalimatnya itu masih cukup terbatas gitu kan,” jelas Alexandra. Untuk menstimulasi komunikasi dan critical thinking anak, Alexandra menyarankan permainan rutin dan pengamatan emosi harian.

Maraknya kasus kekerasan di daycare terhadap balita yang belum bisa berkomunikasi secara verbal dengan baik menunjukkan betapa rentannya posisi anak-anak kita. Namun, seperti yang ditekankan oleh Psikolog Klinis Alexandra Gabriella, orangtua tidak perlu merasa takut berlebihan selama kita mau lebih peka terhadap perubahan emosi dan perilaku si Kecil.

Dengan berbagai cara di atas, Mama dan Papa bisa menjadi “detektif” untuk mendeteksi dini adanya kekerasan di daycare. Jadi, kuncinya bukan hanya terletak pada memilih daycare terbaik aja ya, tapi juga pada seberapa dekat dan peka orangtua mendengar suara anak dan emosi yang diperlihatkannya.