Aktivitas Gunung Merapi Terus Diamati dengan Ketat
Gunung Merapi, yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah, tercatat mengalami sejumlah aktivitas vulkanik dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan hasil pemantauan oleh Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, pada periode pengamatan hari ini, Selasa (5/5/2026), mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, terjadi 16 kali guguran lava ke arah Kali Sat/Putih. Guguran tersebut memiliki jarak luncur maksimum mencapai 2000 meter.
Selain guguran lava, aktivitas kegempaan juga tercatat selama periode pengamatan. Terdapat 32 kali gempa Guguran dengan amplitudo berkisar antara 2-27 mm dan durasi gempa antara 56,8 hingga 199,72 detik. Selain itu, terdapat 5 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo antara 3-21 mm, tanpa adanya tanda-tanda S-P, dan durasi gempa antara 25,41 hingga 45,09 detik. Di sisi lain, tercatat pula 1 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 16 mm, tanpa tanda S-P, dan durasi gempa 96,77 detik.
Pemantauan Visual dan Cuaca Sekitar
Dari segi pengamatan visual, Gunung Merapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tinggi, yaitu sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca di sekitar gunung tercatat cerah hingga berawan, dengan angin tenang yang bergerak ke arah barat. Suhu udara berkisar antara 17,9 hingga 20,5°C. Kelembaban udara mencapai 94 hingga 100 persen, sedangkan tekanan udara berada pada kisaran 871,8 hingga 915,3 mmHg.
Rekomendasi BPPTKG Mengenai Potensi Bahaya
BPPTKG Yogyakarta telah memberikan rekomendasi terkait potensi bahaya saat ini. Berdasarkan data pemantauan, potensi bahaya meliputi guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya, termasuk Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km. Di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol sejauh maksimal 5 km. Sementara itu, lontaran material vulkanik akibat letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Data pemantauan menunjukkan bahwa suplai magma masih berlangsung, yang berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya dan tetap waspada terhadap bahaya lahar serta awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi.
Perkembangan Aktivitas dan Pemantauan Berkala
Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. BPPTKG terus memantau secara berkala dan memberikan informasi terkini kepada masyarakat agar dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan.






















