Kemajuan Program Nuklir Korea Utara
Program nuklir Korea Utara menunjukkan peningkatan yang signifikan, dengan indikasi adanya percepatan dalam produksi senjata nuklir. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperingatkan adanya lonjakan aktivitas di sejumlah fasilitas utama yang mendukung pengayaan material nuklir tingkat senjata.
Kepala IAEA, Rafael Grossi, menyatakan bahwa Pyongyang telah membuat kemajuan berarti dalam memperbesar kapasitas produksi nuklir. Pernyataan ini disampaikan saat kunjungan ke Seoul, Rabu (15/4) waktu setempat. Menurut Grossi, aktivitas di kompleks nuklir Yongbyon Nuclear Scientific Research Center meningkat tajam. Fasilitas yang mengalami peningkatan meliputi reaktor 5MW, unit pengolahan ulang, hingga reaktor air ringan. “Negara itu diyakini memiliki beberapa lusin hulu ledak nuklir,” ujarnya.
Penggunaan pada Rudal Balistik
Sejauh ini, Korea Utara diperkirakan telah merakit sekitar 50 hulu ledak. Namun, sejumlah ahli masih meragukan kemampuan negara tersebut dalam memperkecil hulu ledak agar dapat dipasang pada rudal balistik jarak jauh. Sejak uji coba nuklir pertama pada 2006, negara yang dipimpin Kim Jong-un itu terus memperkuat kapabilitas militernya. Di bawah kepemimpinannya sejak 2011, program nuklir bahkan dipercepat meski menghadapi sanksi dari Dewan Keamanan PBB.
Temuan terbaru dari Center for Strategic and International Studies melalui proyek Beyond Parallel menunjukkan pembangunan fasilitas pengayaan uranium baru di Yongbyon hampir rampung dan siap beroperasi. Selain itu, fasilitas serupa juga diduga berada di Kangson dan belum pernah dilaporkan ke otoritas internasional.
Dampak Produksi Uranium yang Diperkaya
Dalam laporannya, Beyond Parallel menilai produksi uranium yang diperkaya akan secara signifikan meningkatkan jumlah senjata nuklir yang dapat dimiliki Korea Utara. Penilaian ini sejalan dengan laporan IAEA sebelumnya yang mengindikasikan pembangunan fasilitas pengayaan untuk material tingkat senjata.
Meski demikian, Grossi menyebut belum ada perubahan signifikan di lokasi uji coba nuklir utama di Punggye-ri Nuclear Test Site. “Lokasi tersebut masih siap digunakan untuk uji coba kapan saja,” katanya.
Pelanggaran Resolusi PBB
IAEA menegaskan bahwa program nuklir Korea Utara merupakan pelanggaran terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB. Lembaga itu menyatakan tetap dalam kesiapan tinggi untuk menjalankan verifikasi jika diperlukan. Korea Utara sendiri belum melakukan uji coba nuklir sejak 2017, namun terus mengembangkan teknologi rudal dan memperluas persenjataan. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya memperkuat daya tangkal terhadap ancaman eksternal.
Peringatan dari Presiden Korea Selatan
Sementara itu, Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, memperingatkan bahwa Korea Utara berpotensi memproduksi material untuk 10 hingga 20 senjata nuklir setiap tahun. Ia menilai, pada titik tertentu Pyongyang akan memiliki persenjataan nuklir yang dianggap cukup untuk mempertahankan rezimnya.






















