BRIN: Potensi Kembalinya Wabah Pes Mengkhawatirkan



Indonesia pernah mengalami wabah pes pada awal abad ke-20, terutama di Pulau Jawa. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis ini dikenal sebagai salah satu wabah paling mematikan di dunia dan menular melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh tikus.

Meski dalam beberapa tahun terakhir tidak ditemukan kasus pada manusia, peneliti mengingatkan bahwa kondisi tersebut belum tentu menandakan Indonesia sepenuhnya bebas dari pes. Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ristiyanto, menyebutkan adanya fenomena silent period. “Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali,” kata Ristiyanto, melalui keterangan tertulis, Senin, 13 Maret 2026.

Ia mengatakan pes diduga masih berada dalam fase tersebut. Hal ini didukung oleh temuan bahwa bakteri penyebab, serta vektor dan reservoirnya, seperti pinjal dan tikus, masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.

Menurutnya, perubahan lingkungan menjadi faktor penting yang meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit. Deforestasi, alih fungsi lahan, dan pertumbuhan penduduk telah mengganggu keseimbangan ekosistem, sehingga habitat tikus semakin mendekat ke permukiman manusia. “Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri,” kata dia.

Hal senada diungkapkan periset BRIN lainnya, Muhammad Choirul Hidajat, bahwa perubahan iklim turut berkontribusi terhadap peningkatan populasi pinjal sebagai vektor penyakit. “Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tikus sebagai reservoir utama bakteri Yersinia pestis masih banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Penularan kepada manusia dapat terjadi melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh hewan tersebut.

Meski tidak ada kasus pes pada manusia selama lebih dari satu dekade, beberapa daerah di Pulau Jawa masih dikategorikan sebagai wilayah fokus, antara lain Kabupaten Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung. Choirul mengingatkan agar kondisi ini tidak dianggap sepele. Menurutnya, ketiadaan kasus bukan berarti penyakit telah hilang sepenuhnya.

Sebagai langkah antisipasi, ia merekomendasikan penguatan sistem surveilans terpadu yang mencakup pemantauan pada manusia, hewan, dan vektor penyakit. Selain itu, peningkatan sanitasi lingkungan dan pemantauan wilayah bekas endemis juga dinilai penting untuk mencegah potensi wabah.

“Pes di Indonesia saat ini mungkin sedang ‘tertidur’. Namun, tanpa kewaspadaan dan pengelolaan lingkungan yang baik, penyakit ini berpotensi muncul kembali,” kata.

Penelitian bertajuk Environmental Changes and Risk of Plague Epidemics in Indonesia ini merupakan hasil kolaborasi antara BRIN, Kementerian Kesehatan, serta mitra internasional dari Cina dan Prancis.

Faktor-Faktor yang Meningkatkan Risiko Pes

Berikut adalah beberapa faktor yang berkontribusi pada risiko kemunculan kembali penyakit pes:

  • Perubahan lingkungan

    Deforestasi, alih fungsi lahan, dan pertumbuhan penduduk telah mengganggu keseimbangan ekosistem. Hal ini membuat habitat tikus semakin dekat dengan permukiman manusia, meningkatkan peluang penularan.

  • Perubahan iklim

    Perubahan iklim berdampak pada populasi pinjal, yang merupakan vektor utama penyakit. Kombinasi antara perubahan lingkungan, keberadaan vektor, dan interaksi manusia dengan lingkungan menjadi faktor risiko utama.

  • Keberadaan reservoir

    Tikus masih menjadi reservoir utama bakteri Yersinia pestis. Meskipun tidak ada kasus pada manusia, keberadaan hewan ini di berbagai wilayah Indonesia tetap menjadi ancaman.

  • Pengelolaan lingkungan yang kurang optimal

    Tanpa pengelolaan lingkungan yang baik, potensi wabah pes bisa muncul kembali. Oleh karena itu, penguatan sistem surveilans dan peningkatan sanitasi lingkungan sangat penting.

Langkah-Langkah Pencegahan

Untuk mencegah kemunculan kembali wabah pes, beberapa langkah penting perlu dilakukan:

  • Penguatan sistem surveilans terpadu

    Pemantauan terhadap manusia, hewan, dan vektor penyakit harus diperkuat agar risiko penyebaran bisa diidentifikasi lebih awal.

  • Peningkatan sanitasi lingkungan

    Lingkungan yang bersih dan terawat dapat mengurangi potensi penyebaran penyakit. Termasuk dalam hal ini adalah pengelolaan sampah dan limbah.

  • Pemantauan wilayah bekas endemis

    Wilayah yang pernah menjadi fokus wabah pes perlu dipantau secara berkala untuk memastikan tidak ada penyebaran kembali.

Kesimpulan

Wabah pes di Indonesia mungkin sedang dalam fase silent period, namun hal ini tidak berarti penyakit tersebut telah hilang sepenuhnya. Perubahan lingkungan dan interaksi manusia dengan lingkungan tetap menjadi ancaman. Dengan penguatan sistem surveilans, peningkatan sanitasi, dan pemantauan wilayah bekas endemis, potensi wabah pes bisa diminimalkan.