Patrolmedia, Jakarta – BP Batam memperkuat langkah strategis menjaga ketahanan sumber daya air dan mendorong industri berkelanjutan.
Langkah ini diwujudkan lewat kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengkaji pembangunan Batam Science and Technology Park.
Kerja sama ini diresmikan lewat penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Pemanfaatan Riset dan Inovasi di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (18/6).
Deputi Bidang Kebijakan Strategis dan Perizinan BP Batam, Sudirman Saad, mengungkapkan kolaborasi ini sangat krusial untuk menjawab tantangan pembangunan Batam ke depan.
Terutama, dalam menjaga ketersediaan pasokan air bagi masyarakat dan dunia usaha.
Sudirman membeber, Batam tak punya sumber air alami seperti hutan maupun sungai. Selama ini, pasokan air bersih di bergantung pada hujan yang ditampung di 8 waduk.
”Karena itu, inovasi, digitalisasi, dan pengelolaan daerah tangkapan air menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Dukungan riset dari BRIN akan sangat penting bagi keberlanjutan Batam,” ujar Sudirman dalam keterangannya, Senin (22/6/2026).
Sebagai kawasan industri dan investasi yang terus melejit, Batam dinilai membutuhkan dukungan riset agar pengelolaan sumber daya bisa berjalan lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.
Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, R. Hendrian, menjelaskan ruang lingkup kerja sama ini mencakup sejumlah isu strategis.
Mulai dari pengembangan Batam Science and Technology Park, pengelolaan energi, teknologi sirkular, hingga industri maritim berkelanjutan dan industri hijau.
”Kami berharap hasil riset dan inovasi BRIN dapat memberikan kontribusi nyata bagi Batam. Berbagai potensi yang ada harus diwujudkan menjadi solusi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun dunia industri,” kata Hendrian.
Sementara itu, Direktur Kemitraan Riset dan Inovasi BRIN, Asep Riswoko, mengatakan proyek ini melibatkan 7 riset dari 5 pusat riset BRIN, serta tiga unit teknis dari BP Batam.
Sebanyak 10 aktivitas dari 6 topik utama telah dirumuskan untuk dieksekusi dalam kurun waktu 3 tahun ke depan.
”Kolaborasi ini dapat menjadi langkah awal konkret dalam memperkuat peran riset bagi pembangunan kawasan strategis Batam,” tambah Asep.
Kepala BRIN, Arif Satria, juga menilai kerja sama ini jadi langkah strategis untuk menjembatani kesenjangan antara hasil riset dengan kebutuhan nyata di dunia industri (valley of death).
Arif berharap riset ini melahirkan inovasi yang ujungnya mampu menarik investasi lebih masif ke Batam.
”BRIN ingin menjadi think tank bagi pemerintah dengan membantu mengidentifikasi persoalan dan menawarkan solusi berbasis teknologi. Kami berharap kolaborasi ini mampu menarik investasi yang lebih besar ke Batam,” kata Arif.
(Ipl/Ipl)






















