Pentingnya Kesadaran Digital dalam Era Media Sosial
Sultan Rakib, yang menjadi pembicara dalam kegiatan literasi digital AIESEC Unhas bertajuk “Choose Your Mindset, Shape Your Perspective”, mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam kecanduan media sosial. Ia menyoroti kebiasaan pengguna yang awalnya hanya membuka TikTok selama beberapa menit, namun tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling.
Karena itu, ia mengajak peserta lebih memperhatikan screen time dan tidak membiarkan ponsel mengendalikan aktivitas sehari-hari. “Jangan biarkan HP menguasai jempolmu,” ujar Sultan Rakib. Hal ini disampaikannya saat membawakan materi “Beyond The Scroll” di Unhas Makassar beberapa waktu lalu.
Kegiatan impact circle dengan tema “Choose Your Mindset, Shape Your Perspective” merupakan program literasi digital yang ditujukan untuk umum dan mahasiswa. Sultan Rakib juga mengingatkan mahasiswa untuk menjaga screen time dalam melakukan surfing di berbagai platform media sosial seperti Instagram, Facebook, X, TikTok, atau YouTube.
“Terkadang kita niatnya masuk TikTok untuk mendapatkan referensi dua menit tiga menit, setelah itu berjanji lanjut kerja kembali,” ujarnya. Namun apa yang terjadi, pengguna media sosial biasa tenggelam dalam aktivitas scroll dua jam tanpa jedah.
“Kita tidak sadar kan. Itu namanya adiksi atau kecanduan scroll. Tentu teman-teman tahu sendiri dampaknya. Jangan biarkan HP-mu kuasai jempolmu, perhatikan screen time,” ujar Sultan Rakib.
Empat Aspek Penting dalam Literasi Digital
Sultan menegaskan bahwa dalam literasi digital ada empat hal yang tidak bisa dipisahkan, yaitu digital skill, digital ethics, digital culture, dan digital safety. Digital skill menurutnya, adalah sesuatu yang harus dikuasai siapapun kita yang hidup di era sekarang.
“Tapi itu bukan segalanya. Digital skill memang penting, tapi digital ethics jauh lebih penting. Ibaratnya, ilmu itu harus dibarengi dengan adab. Adab ini ethics nya,” jelas Sultan yang juga Sekretaris Diskominfo SP Sulsel ini.
Menurut Sultan, transformasi digital saat ini mengharuskan kita untuk waspada. Alasannya, digitalisasi memiliki dua sisi. “Ada sisi terangnya, ada the dark side-nya. Judi online, passobis, dan aktifitas kejahatan digital lainnya menjadi bagian sisi gelap transformasi digital saat ini. Dengan digital ethics, dan digital safety, serta digital culture kita bisa menghindari dark side digitalisasi ini,” kata Sultan.
Tips Menghindari Kecanduan Media Sosial
Sultan berbagi tips cara agar kita tidak dikuasai oleh algoritma media sosial. Artinya, kita bisa paling tidak mengendalikan driving algoritme sehingga kita sebagai pengguna sosmed tidak terkena adiksi akut. Termasuk melakukan reset preferensi video di IG dan TikTok.
Kedua, klik not interested jika ada opsi di dalam satu konten, selanjutnya atur screen time, jeda sebelum sharing. “Cari referensi yang relate dengan pekerjaan dan menopang masa depan teman-teman. Jangan impulsive semua video receh ditonton,” ujar Sultan.
Peran Etika dan Budaya Digital
Dalam diskusi tersebut, Sultan menekankan pentingnya etika dan budaya digital sebagai fondasi utama dalam penggunaan teknologi. Ia menyatakan bahwa meskipun keterampilan digital sangat penting, tanpa adab dan etika, teknologi bisa menjadi bumerang bagi penggunanya.
Ia juga menyarankan agar masyarakat lebih kritis dalam mengakses informasi dan memilih konten yang relevan. Dengan demikian, mereka tidak akan mudah terpengaruh oleh algoritma yang cenderung memperkuat kebiasaan negatif.
Kesimpulan
Pemaparan Sultan Rakib memberikan wawasan penting tentang bagaimana manusia dapat tetap menjaga keseimbangan dalam menggunakan media sosial. Dengan kesadaran akan screen time, etika digital, dan pengelolaan algoritma, kita dapat menghindari dampak negatif dari penggunaan teknologi yang berlebihan.


















