Sejarah Chung Hwa School Mentok sebagai Pilar Pendidikan Modern di Bangka Belitung
Sejarawan sekaligus budayawan dari Bangka Belitung, Dato Akhmad Elvian, menyebut Chung Hwa School Mentok atau Zhonghua Xuexiao sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah pendidikan di wilayah ini. Sekolah ini, menurutnya, menjadi pelopor pendidikan modern bagi masyarakat Tionghoa, bahkan yang pertama di Mentok dan Pulau Bangka.
“Chung Hwa School ini adalah sekolah Tionghoa modern pertama di Mentok, bahkan di Pulau Bangka. Sekolah ini didirikan oleh organisasi Tiong Hoa Hwe Koan (THHK) dengan konsep pendidikan modern yang mendapat pengaruh Eropa,” ujarnya pada Rabu (8/4/2026).
Gagasan pendirian sekolah ini tidak lepas dari peran Luitenant Lim A Pat, tokoh Tionghoa yang dikenal sebagai pengusaha sekaligus anggota THHK di Batavia. Pada 8 September 1906, ia menginisiasi pembentukan perkumpulan di Mentok dengan tujuan mendirikan lembaga pendidikan modern bagi komunitas Tionghoa setempat. Langkah tersebut menjadi awal dari berkembangnya jaringan sekolah Chung Hwa di Bangka.
Setelah berdiri di Mentok, sekolah serupa kemudian hadir di Pangkalpinang (1907), Belinyu (1908), Sungailiat (1910), hingga Toboali (1912). Perkembangan ini menandai tingginya kesadaran pendidikan di kalangan masyarakat Tionghoa saat itu.
Sistem Pendidikan yang Terstruktur
Sistem pendidikan di Chung Hwa Mentok pun tergolong maju dan terstruktur. Terdapat jenjang pendidikan mulai dari taman kanak-kanak yang berlokasi di Kelenteng Kong Fuk Miau, sekolah dasar di kawasan Tanjung, hingga tingkat lanjutan di sekitar kediaman Kapitein Lim A Pat di jalan utama Mentok.
“Jumlah muridnya pada masa itu mencapai 200 hingga 300 orang. Mata pelajaran yang diajarkan tidak hanya bahasa Mandarin, tetapi juga bahasa Indonesia dengan huruf latin, berhitung, pengobatan, hingga penggunaan sempoa,” jelas Elvian.
Bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan, mereka harus menuju Pangkalpinang. Bahkan, sejumlah pelajar berprestasi memperoleh kesempatan melanjutkan studi hingga ke Tiongkok melalui program beasiswa.
Peran Guru dan Adaptasi Lokal
Tenaga pengajar pada masa awal didatangkan langsung dari Tiongkok. Namun seiring waktu, peran tersebut mulai diisi oleh guru-guru keturunan Tionghoa lokal di Mentok. Hal ini menunjukkan adanya proses adaptasi dan penguatan kapasitas lokal dalam dunia pendidikan.
Pada masa kejayaannya, Chung Hwa School menjadi pilihan utama masyarakat Tionghoa. Pendidikan dipandang sebagai prioritas, bahkan dalam kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil.
“Hampir semua anak Tionghoa wajib bersekolah. Kalau tidak, mereka akan dipaksa bekerja. Ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan bagi komunitas tersebut,” kata Elvian.
Dinamika Politik dan Penutupan Sekolah
Namun, perjalanan sekolah ini tidak selalu mulus. Dinamika politik, baik di dalam negeri maupun di Tiongkok, turut memengaruhi aktivitas pendidikan. Pada era 1920-an, sejumlah guru yang dianggap terlalu vokal dalam urusan politik diberhentikan.
Masa pendudukan Jepang pada 1943 menjadi titik henti sementara bagi operasional sekolah. Setelah Indonesia merdeka, kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung pada 1946. Namun, situasi berubah drastis pada 1965 ketika kebijakan politik menyebabkan sekolah ini ditutup karena dikaitkan dengan Republik Rakyat Cina.
Fungsi Bangunan yang Berubah
Setelah penutupan tersebut, bangunan eks Chung Hwa School sempat difungsikan kembali. Yayasan Bina Bangsa memanfaatkannya sebagai sekolah menengah atas yang dikenal masyarakat sebagai “SMA Bawah”, yang beroperasi pada sore hari.
Memasuki dekade 1990-an, fungsi bangunan kembali berubah. Gedung tersebut dijadikan rumah sarang burung walet di bawah pengelolaan Yayasan Tulus Bhakti, yang juga mengelola Kelenteng Kong Fuk Miau.
Status kepemilikan bangunan ini pun sempat menjadi persoalan. Pada 2013, aset tersebut didaftarkan sebagai milik bangsa asing (AMBA/C) di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Setelah melalui proses hukum, pada 2019 bangunan ini resmi ditetapkan sebagai aset negara dan diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Bangka Barat.
Status sebagai Cagar Budaya
Kini, eks Chung Hwa School Mentok telah berstatus sebagai bangunan cagar budaya. Namun, kondisi fisiknya yang belum terawat optimal menjadi sorotan. Menurut Elvian, bangunan ini memiliki nilai historis yang tidak hanya penting bagi komunitas Tionghoa, tetapi juga bagi perjalanan pendidikan dan kebudayaan di Bangka Belitung secara luas.
“Ini bukan sekadar bangunan tua, tetapi simbol perjalanan pendidikan modern, interaksi budaya, dan dinamika sejarah di Bangka. Sudah seharusnya ada upaya serius untuk merawat dan memanfaatkannya sebagai pusat edukasi dan kebudayaan,” tegasnya.
















