Pemicu Bentrokan Warga di Halmahera Tengah, Satu Orang Tewas

Peristiwa Bentrokan di Halmahera Tengah, Wakil Gubernur Maluku Utara Ajak Masyarakat Jaga Perdamaian

Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, mengajak seluruh masyarakat di 10 kabupaten/kota untuk menjaga perdamaian setelah terjadi bentrokan antarwarga dua desa di Kabupaten Halmahera Tengah. Kejadian tersebut berlangsung pada Jumat (3/4/2026), dan memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang bisa berdampak luas.

Dalam pernyataannya, Sarbin menyampaikan pesan penting kepada masyarakat. Ia menekankan agar semua pihak dapat menahan diri dan tidak mudah terpicu oleh situasi yang sedang berlangsung. “Saya mengajak seluruh masyarakat di provinsi ini untuk menahan diri dan tidak terprovokasi. Mari bersama-sama menjaga perdamaian,” ujar Sarbin kepada wartawan di Dermaga Pelabuhan Residen Ternate sebelum bertolak ke Halmahera Tengah.

Ia juga menyebut bahwa situasi di lokasi bentrokan, yaitu Desa Banemo dan Desa Sibenpopo, Kecamatan Patani Barat, mulai terkendali setelah aparat gabungan TNI/Polri dikerahkan sejak Jumat pagi. Dengan kehadiran pasukan tersebut, diharapkan bisa membantu menenangkan suasana dan mencegah terjadinya tindakan lebih lanjut yang bisa merugikan masyarakat.

Sarbin menjelaskan bahwa dirinya bersama Wakapolda Maluku Utara dan Danrem 152/Baabullah akan segera menuju Halmahera Tengah untuk bertemu dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, serta tokoh adat. Tujuan dari pertemuan tersebut adalah untuk mencari solusi damai bagi kedua pihak yang terlibat dalam bentrokan. “Kita semua bersaudara, mari jaga perdamaian,” tambahnya.

Upaya Pemerintah dan Aparat untuk Meredam Konflik

Di sisi lain, Wakapolda Maluku Utara, Brigjen Polisi Stephen M. Napiun, menyampaikan bahwa sebanyak 250 personel gabungan TNI/Polri telah dikerahkan untuk meredam situasi agar tidak meluas. Ia juga meminta masyarakat untuk bekerja sama menjaga keamanan dan perdamaian di wilayah mereka.

“Kami meminta masyarakat bersama-sama menjaga keamanan dan perdamaian,” ujarnya.

Sebelum kejadian bentrokan, insiden dimulai pada Jumat pagi akibat penemuan mayat seorang warga Desa Banemo di area kebun yang berada di wilayah Desa Sibenpopo. Kejadian ini memicu kemarahan keluarga korban dan warga setempat. Aksi tersebut berujung pada penyerangan menggunakan senjata tajam dan benda berbahaya lainnya, yang kemudian dibalas oleh pihak lain sehingga terjadi saling serang.

Akibat dari bentrokan tersebut, sejumlah rumah warga di Desa Sibenpopo dilaporkan terbakar. Selain itu, satu warga Desa Sibenpopo dilaporkan meninggal dunia. Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya upaya pemerintah dan aparat dalam mengambil langkah-langkah cepat untuk menyelesaikan konflik dan mencegah kerugian lebih besar.

Langkah-Langkah yang Dilakukan untuk Menjaga Kondusivitas

Beberapa langkah telah diambil untuk memastikan kondusivitas di wilayah tersebut. Selain pengamanan intensif oleh aparat, dialog antara pihak-pihak terkait juga dilakukan. Pertemuan dengan tokoh agama dan masyarakat diharapkan bisa menjadi jembatan untuk menemukan solusi yang dapat diterima oleh semua pihak.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh informasi yang belum tentu benar. Dengan kesadaran bersama, diharapkan bisa mencegah terulangnya konflik yang bisa merusak hubungan antar komunitas.

Kesimpulan

Peristiwa bentrokan di Halmahera Tengah menjadi peringatan bahwa konflik antarwarga bisa terjadi kapan saja jika tidak segera ditangani dengan baik. Dengan dukungan penuh dari pemerintah dan aparat, serta partisipasi aktif masyarakat, diharapkan bisa segera tercapai perdamaian yang stabil dan berkelanjutan.