Mukti Ali: Dari Kenek Jadi Juragan Bus Pamekasan

Di sebuah rumah megah yang berdiri di atas lahan seluas satu hektar, dikelilingi tanaman hijau dan kolam ikan hias yang menenangkan, kita bisa menemukan Mukti Ali. Pria berusia 49 tahun ini adalah bukti nyata bahwa kesuksesan bisa diraih dengan kerja keras dan tekad yang kuat. Kisahnya adalah inspirasi, dari seorang anak petani hingga menjadi pengusaha sukses di bidang transportasi pariwisata.

Mukti Ali adalah pemilik PT Mandala Wisata Rangga Jaya, sebuah perusahaan travel bus pariwisata yang kini memiliki armada 16 bus. Tak hanya itu, ia juga melebarkan sayap bisnisnya ke bidang rental mobil mewah, termasuk Innova Venturer yang populer. Dengan semangat yang membara, Mukti Ali menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh liku. Kesuksesan yang ia nikmati saat ini bukanlah hadiah instan, melainkan hasil dari perjuangan panjang dan pengorbanan yang tak terhitung jumlahnya.

“Saya berasal dari keluarga petani. Tapi sejak awal, saya sudah bertekad untuk sukses, demi membahagiakan orang tua,” ujarnya dengan nada penuh keyakinan.

Perjuangan Mukti Ali dimulai pada tahun 1995. Ia meninggalkan kampung halamannya dan kedua orang tuanya untuk menempuh pendidikan di Malang. Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, ia memberanikan diri untuk merantau dan mengejar impiannya.

Ia diterima di IKIP Malang, yang kini telah bertransformasi menjadi Universitas Negeri Malang (UM). Kehidupan sebagai mahasiswa perantau tidaklah mudah. Ia harus merasakan lapar, dahaga, dan tinggal di kamar kos berukuran 3×2 meter. Semua itu ia jalani dengan sabar demi meraih masa depan yang lebih baik.

Seiring berjalannya waktu, biaya kuliah semakin meningkat. Mukti Ali menyadari bahwa ia harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikannya. Ia pun memutuskan untuk kuliah sambil bekerja.

“Saat itu, saya sering berjalan kaki ke kampus. Suatu hari, saya melihat ada tiga bus parkir di dekat kampus. Saya pun mencari tahu siapa pemiliknya,” kenangnya.

Menjadi Kenek Bus Demi Biaya Kuliah

Ternyata, bus-bus tersebut milik seorang pengusaha sukses asal Jember bernama Pak Supardi. Sejak saat itu, Mukti Ali mulai mengenal Pak Supardi dan akhirnya menjadi kenek bus. Tugasnya adalah membantu sopir dan mencuci bus setelah selesai beroperasi.

Dari pekerjaan itu, Mukti Ali mendapatkan upah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan sebagian biaya kuliah. Ia pun belajar banyak tentang bisnis transportasi dari Pak Supardi.

“Sejak saat itu, saya mulai mendalami ilmu tentang bisnis travel. Saya belajar menghitung biaya akomodasi kendaraan, pemesanan hotel, hingga kerja sama dengan rumah makan,” jelasnya.

Berkat kegigihannya, Mukti Ali mulai dipercaya untuk mengurus travel bagi keperluan mahasiswa dan kampus. Dari jasa tersebut, ia kembali mendapatkan upah yang lumayan. Pekerjaan ini ia tekuni hingga lulus kuliah.

“Tahun 2000 saya lulus dan harus kembali ke Desa Dasuk, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan. Saya bingung mau kerja apa di sini. Apalagi saya juga harus membawa oleh-oleh untuk orang tua,” tuturnya.

Pada tahun yang sama, ia diterima sebagai tenaga honorer di SMAN 1 Pamekasan dengan gaji Rp 36.000 per bulan. Gaji tersebut tentu saja tidak cukup untuk menopang biaya hidup orang tua dan saudaranya. Sejak saat itu, ia berpikir untuk meneruskan ilmunya di bisnis travel.

“Sejak saat itu, selain mengajar, saya juga menawarkan jasa travel pariwisata. Awalnya, saya masih menyewa bus, tapi tetap bisa mendapatkan keuntungan,” katanya.

Mukti Ali terus mengembangkan kemampuannya. Ia semakin dipercaya untuk mengurus kegiatan sekolah dan job travel lainnya.

Seiring bisnisnya berkembang, ia bertemu dengan Siti Kamsoyatun dan akhirnya menikah. Rezekinya semakin melimpah. Bahkan, pada tahun 2008, ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Setelah dikaruniai seorang putra bernama Rangga Azhaar Faraadies, bisnis travelnya semakin maju. Mukti Ali kemudian mampu membangun rumah megah di Desa Pademawu Barat.

“Pada tahun 2013, saya menggadaikan sertifikat rumah senilai Rp 500 juta. Dari uang itu, saya bisa membeli bus pertama berukuran medium seharga Rp 725 juta,” ungkapnya.

Hanya berselang tiga bulan, Mukti Ali kembali menambah koleksi busnya dengan harga Rp 650 juta. Bahkan, bus ketiga pun berhasil ia raih dengan harga Rp 1,5 miliar.

Ujian Datang Silih Berganti

Namun, ujian tak bisa dihindari. Setelah memiliki empat bus, ayah kandungnya meninggal dunia. Mukti Ali juga mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.

“Alhamdulillah, saya bisa bangkit lagi. Pada tahun 2018, saya sudah memiliki sembilan koleksi bus. Dua berukuran medium, sisanya berukuran besar,” katanya.

Rupanya, ujian belum selesai. Kali ini, ujian yang datang membuat Mukti Ali terpuruk dan seolah tidak ada harapan untuk bangkit. Ujian itu adalah pandemi Covid-19 yang melanda dunia pada tahun 2019.

Kondisinya sangat terpuruk. Bisnis travelnya lumpuh total. Cicilan bus tidak terbayar hingga puluhan juta rupiah. Bahkan, 45 karyawannya sempat kehilangan pekerjaan.

Namun, Mukti Ali tidak menyerah. Ia tetap gigih mencari cara untuk bertahan. Ia memanfaatkan bus miliknya dan menyulapnya menjadi Cafe on The Bus. Pendapatan yang ia peroleh memang tidak seberapa, tapi cukup untuk membiayai hidup keluarga dan menghidupi 45 karyawannya.

“Saat itu, saya benar-benar jatuh. Sampai cicilan tidak bisa saya bayar. Karyawan pun tidak bisa bekerja,” tuturnya.

Berkat doa ibunya, Mukti Ali mendapatkan titik terang. Pada tahun 2021, ia mendapatkan kontrak antar jemput tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dipulangkan dari Malaysia dengan anggaran ratusan juta rupiah.

“Waktu itu, saya mendapatkan keuntungan Rp 1 miliar lebih dalam sebulan,” tuturnya.

Sejak saat itu, bisnis travel Mandala terus berkembang pesat hingga sekarang. Meskipun banyak kompetitor yang bermunculan, bisnis travel miliknya tetap stabil. Bahkan, ia terus mendatangkan bus terbaru dengan harga yang fantastis.

“Setiap bus yang sudah berusia lima tahun, saya jual dan ganti dengan yang baru,” tuturnya.

Kini, Mukti Ali aktif membantu kegiatan religi dan sosial yang membutuhkan jasa transportasi.

“Banyak yang sudah kami bantu, khususnya dalam bidang transportasi,” imbuhnya.

Kisah Mukti Ali adalah bukti bahwa dengan kerja keras, tekad yang kuat, dan doa, kesuksesan bisa diraih oleh siapa saja. Ia adalah inspirasi bagi kita semua untuk tidak pernah menyerah dalam menghadapi tantangan hidup.