Ringkasan Berita:
- Fenomena munculnya banyak batu apung di wilayah Pulau Liki, Kabupaten Sarmi, Papua, memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
- Dinas Perikanan Sarmi memastikan akan terus memantau perkembangan di lapangan serta berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengetahui penyebab fenomena tersebut.
- Dinas Perikanan Sarmi mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi terkait fenomena tersebut.
Laporan Wartawan , Anderson Esris
, SARMI — Fenomena munculnya banyak batu apung di wilayah Pulau Liki, Kabupaten Sarmi, Papua, menarik perhatian warga, khususnya para nelayan di kawasan pesisir pada Minggu (28/6/2026).
Kemunculan batu apung tersebut memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
Menyikapi hal itu, Pemerintah Kabupaten Sarmi melalui Dinas Perikanan mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sarmi, Fredyk Sawefkoy mengatakan, pihaknya telah menerima laporan mengenai temuan batu apung di Pulau Liki.
Saat ini, Dinas Perikanan terus memantau perkembangan di lapangan serta berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengetahui penyebab fenomena tersebut.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak terpancing dengan berbagai informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Saat ini kami masih melakukan koordinasi dan mencari tahu penyebab munculnya fenomena batu apung yang terdampar di Pulau Liki,” ujar Fredyk Sawefkoy kepada awak media di Sarmi, Selasa (30/6/2026).
Ia juga mengingatkan para nelayan, khususnya yang beraktivitas di Pulau Liki, Pulau Armo, dan sejumlah pulau lainnya di wilayah Kabupaten Sarmi, agar meningkatkan kewaspadaan saat melaut.
Meski hingga kini belum ada larangan untuk melakukan aktivitas penangkapan ikan, nelayan diminta tetap berhati-hati sampai kondisi benar-benar dipastikan aman.
Menurut Fredyk, nelayan masih diperbolehkan melaut seperti biasa. Namun, sebagai langkah antisipasi, mereka disarankan untuk tidak berlayar terlalu jauh dari wilayah pesisir hingga penyebab fenomena tersebut diketahui secara pasti.
Selain itu, para nelayan juga diminta untuk selalu memperhatikan informasi cuaca, kondisi arus laut, serta tinggi gelombang sebelum berangkat melaut. Ia menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas di laut.
Dinas Perikanan Kabupaten Sarmi juga mengajak aparat kampung, tokoh masyarakat, serta para nelayan untuk segera melaporkan apabila menemukan fenomena serupa di wilayah perairan lainnya.
Informasi dari masyarakat dinilai sangat penting untuk mendukung upaya pemantauan dan penanganan yang dilakukan pemerintah.
Pemerintah Kabupaten Sarmi berharap masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh isu maupun informasi yang belum memiliki dasar yang jelas, serta tetap mengikuti arahan dari instansi yang berwenang.
Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah munculnya kepanikan di tengah masyarakat pesisir yang sebagian besar menggantungkan mata pencaharian pada sektor perikanan.
Fredyk memastikan pihaknya akan terus memantau perkembangan fenomena batu apung tersebut. Pemerintah juga berkomitmen menyampaikan informasi resmi kepada masyarakat apabila hasil kajian maupun perkembangan terbaru telah diperoleh.
“Masyarakat diharapkan tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan selalu mengutamakan keselamatan dalam setiap aktivitas di laut,” pungkasnya. (*)






















