Kabupaten Pasuruan menyimpan sebuah permata tersembunyi di balik kesejukan lereng Gunung Bromo, tepatnya di Kecamatan Tutur. Wilayah ini dikenal sebagai satu-satunya sentra penghasil paprika di Jawa Timur. Di sinilah Eddy Sudarsono, seorang warga Dusun Yitnan, Desa Tlogosari, mendedikasikan hidupnya untuk bertani paprika.
Siapa sangka, pria berusia 42 tahun ini, yang kini mengelola ribuan pohon paprika, memulai kariernya bukan sebagai pemilik lahan, melainkan sebagai seorang buruh pembersih kebun. Kisah suksesnya adalah bukti nyata bahwa ketekunan dan kerja keras dapat mengubah nasib seseorang.
Perjalanan dari Buruh Tani Menjadi Petani Sukses
Perjalanan Eddy dimulai pada tahun 2000. Saat itu, ia bekerja pada seorang warga negara Belanda yang membuka usaha pertanian di Tutur. “Awalnya saya cuma tukang bersih-bersih, istilahnya mburuh atau kuli tani,” kenang Eddy. Pekerjaannya sehari-hari meliputi menyapu dan membersihkan area kebun.
Namun, ketekunan dan semangat belajarnya tidak berhenti di situ. Ia terus menunjukkan dedikasi dalam bekerja, hingga akhirnya dipercaya untuk menjadi tenaga khusus pembenihan paprika. Selama 12 tahun (2000-2012), sambil bekerja, Eddy dengan tekun mempelajari seluk-beluk komoditas premium ini. Ia belajar tentang bagaimana paprika harus diperlakukan, dari mulai penanaman, perawatan, hingga panen.
Pada tahun 2013, Eddy memberanikan diri untuk menjadi petani paprika secara mandiri. Dengan modal seadanya, ia membangun green house berukuran sedang. Ia menyadari bahwa menjadi petani bukanlah hal yang mudah. Pasang surut dan risiko gagal panen ia anggap sebagai “uang sekolah” untuk menjadi petani profesional. Ia terus belajar dari pengalaman, baik dari keberhasilan maupun kegagalan.
Memanen Hasil Kerja Keras
Kini, Eddy telah berhasil mengelola sekitar 4.000 pohon paprika di 2 green house miliknya. Pemandangan di dalam kebunnya sangat memanjakan mata. Gradasi warna hijau, merah, dan kuning tampak kontras di antara dedaunan, menciptakan pemandangan yang indah dan menyegarkan.
Kerja kerasnya pun membuahkan hasil yang manis. Dari kebunnya ini, Eddy mampu meraup omzet kotor hingga Rp 30 juta per bulan. “Setelah dipotong biaya tenaga kerja dan perawatan, bersihnya sekitar Rp 15 juta sampai Rp 20 juta. Ya, alhamdulillah, bisa untuk tabungan dan memperluas kebun,” ungkap Eddy dengan rasa syukur.
Harga paprika di tingkat petani memang tergolong stabil dan menggiurkan. Berikut adalah rincian harga paprika per kilogram:
- Paprika hijau: Rp 22.000 – Rp 25.000
- Paprika merah: Rp 35.000
- Paprika kuning: Rp 45.000
“Sedangkan permintaan yang paling banyak yakni paprika hijau,” imbuhnya.
Pangsa pasar paprika dari kebun Eddy pun cukup luas. Sebagian besar hasil panen dikirim ke luar Pasuruan, seperti Surabaya, Jakarta, Kalimantan, bahkan Papua. Paprika banyak dibutuhkan oleh hotel, restoran, dan catering di kota-kota besar tersebut. Bahkan, sebagian pedagang sayur datang langsung ke kebun Eddy, sehingga ia tidak perlu repot memikirkan masalah distribusi.
Menjadi Mentor dan Mengangkat Ekonomi Desa
Eddy tidak ingin menikmati kesuksesannya sendirian. Kini, ia dibantu oleh dua orang pekerja dan aktif menjadi pembina bagi petani lain di desanya. Ia memberikan edukasi dan pelatihan kepada warga sekitar agar mereka juga bisa merasakan manisnya budidaya paprika. Ia berbagi pengetahuan dan pengalamannya agar petani lain tidak perlu mengalami kesulitan yang sama seperti yang pernah ia alami.
Saat ini, di Desa Tlogosari terdapat 40 petani paprika, sementara di seluruh Kecamatan Tutur total ada sekitar 60 petani yang menggantungkan hidup dari komoditas ini. Kehadiran Eddy sebagai mentor dan inspirator telah memberikan dampak positif bagi perekonomian desa.
Camat Tutur, Hendi Candra Wijaya, mengonfirmasi bahwa wilayahnya yang berada di ketinggian 900 mdpl adalah lokasi ideal bagi ratusan ribu tanaman paprika. “Di Kecamatan Tutur ini memang gudangnya paprika nasional. Kami berharap sektor ini terus berkembang untuk kesejahteraan masyarakat sekitar,” ujar Hendi. Pemerintah daerah juga memberikan dukungan dan fasilitas kepada para petani paprika agar mereka dapat terus meningkatkan produksi dan kualitas paprika.
Kisah Eddy adalah bukti bahwa dengan kerja keras, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar, seseorang dapat mengubah nasib dari seorang pekerja kasar menjadi pengusaha atau petani sukses yang memberikan manfaat bagi banyak orang. Ia telah membuktikan bahwa mimpi bisa menjadi kenyataan jika kita berani untuk berusaha dan tidak mudah menyerah. Kisah inspiratif ini diharapkan dapat memotivasi banyak orang, khususnya generasi muda, untuk terjun ke dunia pertanian dan mengembangkan potensi daerah.






















