Pahlawan Ukraina yang Terlupakan

Kisah pilu para prajurit yang gugur bukan hanya karena serangan musuh, tetapi juga oleh tangan mereka sendiri, menyisakan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Di tengah gegap gempita perang yang terus berkecamuk, tragedi senyap ini seringkali terbungkus dalam stigma dan keheningan, menyulitkan para keluarga untuk mendapatkan pengakuan dan dukungan yang layak.

Latar Belakang Tragedi yang Tak Terlihat

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, pernah menyatakan bahwa lebih dari 46.000 tentara dan perwira Ukraina telah meninggal sejak invasi skala penuh. Angka ini sendiri sudah mencengangkan, namun para pengamat meyakini bahwa jumlah sebenarnya bisa jauh lebih tinggi. Di balik angka-angka resmi tersebut, terdapat cerita-cerita kelam tentang prajurit yang mengakhiri hidup mereka sendiri.

Tidak ada statistik resmi yang dipublikasikan mengenai jumlah tentara Ukraina yang meninggal akibat bunuh diri selama bertugas. Pejabat setempat cenderung menggambarkannya sebagai kejadian yang luar biasa dan tidak terlalu banyak. Namun, para aktivis hak asasi manusia dan keluarga yang berduka berkeyakinan bahwa angka sebenarnya bisa mencapai ratusan. Cerita-cerita ini, seperti yang dikumpulkan oleh BBC, mengungkap pola yang menyedihkan tentang kelelahan psikologis ekstrem dan kegagalan sistem dalam memberikan dukungan yang memadai.

Orest: Dari Impian Akademis Menuju Garis Depan

Kateryna, seorang ibu yang hancur hatinya, menceritakan kembali kisah putranya, Orest. Dengan suara bergetar karena campuran amarah dan kesedihan, ia menggambarkan bagaimana negaralah yang mengambil anaknya, mengirimnya ke medan perang, dan mengembalikan jenazahnya dalam kantong. “Tidak ada bantuan, tidak ada kebenaran, tidak ada apa-apa,” keluhnya.

Orest, seorang pemuda pendiam berusia 25 tahun, memiliki impian untuk meniti karier akademis dan sangat gemar membaca buku. Di awal perang, ia dinyatakan tidak layak bertugas karena masalah penglihatan. Namun, pada tahun 2023, patroli perekrutan menghentikannya di jalan, penglihatannya diperiksa ulang, dan ia diputuskan layak bertempur. Tak lama kemudian, Orest dikirim ke garis depan sebagai spesialis komunikasi.

“Orest ditangkap, bukan dipanggil,” kata Kateryna dengan nada getir. Pusat perekrutan lokal membantah tuduhan tersebut, menyatakan bahwa meskipun ada gangguan penglihatan, Orest dinilai “cukup layak” bertugas selama perang.

Setelah ditugaskan di dekat Chasiv Yar, wilayah Donetsk, Orest menjadi semakin tertutup dan depresi. Kateryna menulis surat kepada putranya setiap hari selama lebih dari 650 hari, hingga kabar buruk itu datang. Pemberitahuan mengenai penyebab kematian putranya semakin menambah kesedihannya.

Di Ukraina, bunuh diri dianggap sebagai kerugian non-tempur. Akibatnya, keluarga dari mereka yang meninggal karena bunuh diri tidak menerima kompensasi, kehormatan militer, atau pengakuan publik. “Di Ukraina, seolah-olah kita telah dibagi,” kata Kateryna. “Beberapa orang meninggal dengan cara yang benar, dan yang lain meninggal dengan cara yang salah.”

Anatoliy: Hancur oleh Perang, Ditolak Negara

Mariyana dari Kyiv juga mengalami kepedihan yang sama. Suaminya, Anatoliy, pernah ditolak karena pengalaman militernya yang kurang. Namun, ia “terus kembali hingga mereka menerimanya,” kenang Mariyana dengan senyum tipis. Anatoliy akhirnya bergabung secara sukarela dalam pertempuran pada tahun 2022.

Anatoliy ditugaskan sebagai penembak mesin di dekat Bakhmut, salah satu front paling berdarah dalam perang. “Setelah satu misi yang menewaskan sekitar 50 orang. Dia berubah, pendiam dan menjaga jarak,” cerita Mariyana. Pertempuran terus berlanjut, Anatoliy kehilangan sebagian lengannya dan dikirim ke rumah sakit. Namun, suatu malam, setelah menelepon Mariyana, ia bunuh diri di halaman rumah sakit. “Perang menghancurkannya,” katanya sambil menangis. “Dia tidak bisa hidup dengan apa yang dia lihat.”

Mariyana semakin terpuruk ketika pejabat setempat menolak memberinya pemakaman militer sebagai penghormatan karena penyebab kematian Anatoliy adalah bunuh diri. “Ketika dia berada di garis depan, dia dianggap berguna. Tapi sekarang dia bukan pahlawan?” ujar Mariyana yang merasa dikhianati negara. “Negara membuang saya ke pinggir jalan,” katanya. “Saya memberikan suami saya kepada mereka, dan mereka meninggalkanku sendirian tanpa apa-apa.”

Deritanya belum tuntas. Mariyana harus menghadapi stigma dari para janda yang suaminya meninggal karena bertempur. Satu-satunya sumber dukungan baginya adalah komunitas online perempuan yang senasib dengannya, para janda yang suaminya meninggal karena bunuh diri ketika bertugas. Mereka bersatu dalam keinginan agar pemerintah mengubah undang-undang, memberikan hak dan pengakuan yang sama bagi keluarga yang ditinggalkan seperti keluarga militer lainnya.

Andriy: Perjuangan untuk Nama Baik

Viktoria di Lviv masih dihantui kecemasan. Ia belum bisa membicarakan kematian suaminya, Andriy, secara terbuka karena takut dikecam. Mirip dengan Anatoliy, Andriy bersikeras bergabung dengan pasukan perang meskipun menderita kelainan jantung bawaan. Ia bertugas sebagai sopir di unit pengintaian dan menyaksikan beberapa pertempuran paling sengit.

Pada Juni 2023, Viktoria menerima panggilan telepon yang memberitahukan bahwa Andriy telah bunuh diri. “Rasanya seperti dunia runtuh,” katanya. Jenazahnya tiba 10 hari kemudian, namun ia diberitahu bahwa tidak boleh melihat suaminya untuk terakhir kalinya.

Seorang pengacara yang disewanya kemudian menemukan ketidakkonsistenan dalam penyelidikan kematian Andriy. Foto-foto dari lokasi kejadian membuatnya meragukan versi resmi kematian suaminya. Militer Ukraina akhirnya setuju untuk membuka kembali penyelidikan dan mengakui adanya kesalahan. “Saya berjuang untuk namanya. Dia tidak bisa membela diri lagi. Perang saya belum berakhir.”

Pahlawan yang Terlupakan

Oksana Borkun, yang mengelola komunitas dukungan untuk janda militer, kini menaungi sekitar 200 keluarga yang kehilangan anggota keluarga akibat bunuh diri. “Jika itu bunuh diri, maka dia bukan pahlawan. Itu yang dipikirkan orang. Karena itu juga, beberapa gereja menolak mengadakan pemakaman. Bahkan beberapa kota tidak mau memasang foto mereka di dinding peringatan,” ujarnya.

Menurut Oksana, banyak keluarga meragukan penjelasan resmi tentang kematian. “Beberapa kasus diselesaikan terlalu cepat,” tambahnya.

Pastor militer, Father Borys Kutovyi, telah menyaksikan setidaknya tiga kasus bunuh diri di bawah komandonya sejak invasi skala penuh dimulai. Baginya, satu kasus bunuh diri pun terlalu banyak. “Setiap kasus bunuh diri berarti kita gagal di suatu tempat.” Ia memahami bahwa banyak prajurit yang bukan berasal dari didikan militer sangat rentan secara psikologis.

Oleh karena itu, Oksana dan Pastor Borys berpendapat bahwa mereka yang meninggal karena bunuh diri seharusnya tetap dianggap sebagai pahlawan. Olha Reshetylova, ombudsman militer Ukraina, melaporkan bahwa tercatat empat kasus bunuh diri militer setiap bulannya. Ia mengakui bahwa upaya yang dilakukan belum cukup. “Mereka telah mengalami neraka. Bahkan pikiran yang paling kuat pun bisa hancur,” ujar Reshetylova.

Saat ini, ia mendorong reformasi sistemik. “Keluarga berhak mengetahui kebenaran,” katanya. “Mereka tidak percaya pada penyelidik. Dalam beberapa kasus, bunuh diri mungkin menyembunyikan pembunuhan.” Selain itu, perlu dibangun sekolah psikologi militer yang layak. “Kita harus bersiap sekarang. Orang-orang ini adalah tetangga dan rekan kerja Anda. Mereka telah melewati neraka. Semakin hangat kita menyambut mereka, semakin sedikit tragedi yang terjadi.”