Keanehan Pagi di Puskesmas

Panbil Mall

Pengalaman Tak Terduga di Puskesmas: Antrean, Lagu Kebangsaan, dan Senam “Sang Kodok”

Terkadang, niat baik yang dijalankan tanpa mempertimbangkan konteks yang tepat justru bisa berujung pada situasi yang canggung, bahkan terasa absurd. Pengalaman pribadi di sebuah Puskesmas pagi tadi menjadi gambaran nyata dari fenomena ini. Dimulai dengan niat sederhana untuk berobat, saya justru mendapati diri berada dalam “pertunjukan” yang membuat saya bertanya-tanya, “Apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini?”

Suasana di Puskesmas tersebut terasa sangat standar. Deretan kursi dipenuhi oleh pasien yang sedang menunggu giliran, diselingi suara batuk yang bersahutan dan tangisan bayi yang digendong ibunya yang tampak lelah. Aura orang sakit, dengan segala kerentanannya, begitu kental terasa di setiap sudut ruangan.

Nyanyian Kebangsaan di Tengah Keramaian Pasien

Tepat pada pukul 10 pagi, sebuah pengumuman mengejutkan menggema dari pengeras suara, “Dimohon untuk seluruh staf dan pengunjung untuk berdiri sambil menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.”

Reaksi spontan saya adalah celingukan, memandang ke sekeliling. Bukan karena ketidakpatuhan terhadap simbol negara, namun situasinya sungguh tidak kondusif. Di antara kerumunan, terdapat lansia yang jelas kesulitan untuk berdiri tegak. Ibu-ibu muda tampak kelelahan menggendong anak mereka yang demam. Anak-anak kecil yang wajahnya pucat dan lesu, kemungkinan besar sedang tidak enak badan.

Hasilnya? Seperti yang bisa diduga, tidak ada seorang pun yang berdiri, termasuk para staf Puskesmas. Mungkin saja, nyanyian dilakukan dalam hati, atau jika ada yang bernyanyi, suaranya pasti sangat lirih agar tidak terdengar sumbang. Meskipun saya yakin setiap orang di sana memiliki rasa hormat terhadap lagu kebangsaan, namun konteksnya sangatlah penting. Meminta orang yang sedang sakit untuk berdiri dan bernyanyi, rasanya sungguh dipertanyakan.

Senam Peregangan di Ruang Tunggu yang Penuh Keluhan

Saya sempat berpikir bahwa drama lagu kebangsaan telah berakhir. Namun, ternyata anggapan saya keliru. Setelah “Indonesia Raya” selesai, pengumuman selanjutnya terdengar, kali ini dengan nada yang lebih “atraktif.”

“Mari kita lakukan senam peregangan!” seru suara dari pengeras suara. Tak lama berselang, alunan musik yang cukup energik mengiringi. Lagu yang diputar adalah versi remix atau house music dari lagu Benyamin S yang berjudul “Sang Kodok.” Saya sendiri tidak terlalu paham jenis musiknya, namun iramanya jelas berbeda dengan suasana hening yang seharusnya ada di ruang tunggu pasien.

Senam peregangan? Di Puskesmas? Tempat di mana orang datang mencari pertolongan medis karena berbagai keluhan fisik. Ada yang sakit pinggang, kaki terasa lemas, kepala pusing berputar, atau bahkan flu parah yang membuat hidung terus meler. Meminta mereka untuk melakukan senam peregangan, terasa sangat tidak relevan.

Saya mengamati ekspresi wajah orang-orang di sekitar. Hampir semua hanya terdiam, beberapa tersenyum tipis dengan raut wajah kecut, sementara yang lain kembali tenggelam dalam aktivitas mereka dengan ponsel atau obrolan pelan. Tidak ada satu pun yang terlihat antusias mengikuti senam, termasuk para staf.

Yang lebih aneh lagi, lagu “Sang Kodok” versi remix itu terus diputar hingga selesai, seolah tidak peduli apakah ada yang mengikuti atau tidak.

Prioritas yang Terbalik: Niat Baik Tanpa Sensitivitas

Mungkin saja, kegiatan semacam ini merupakan bagian dari regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Saya mencoba berpikir positif, membayangkan niat baik di baliknya. Mungkin tujuannya adalah untuk meningkatkan kesehatan staf, menyegarkan suasana, atau alasan lainnya. Namun, pelaksanaannya di lingkungan Puskesmas terasa sangat ganjil dan tidak pada tempatnya.

Bayangkan skenario ini: seorang dokter sedang sibuk memeriksa kondisi seorang pasien yang sedang mengeluh kesakitan. Tiba-tiba, pengumuman senam itu muncul. Apakah si dokter akan berkata, “Mohon maaf Bapak/Ibu, pemeriksaan kita tunda sebentar, saya mau senam dulu”? Atau bahkan mengajak pasiennya untuk ikut senam di tengah pemeriksaan? Tentu saja, hal ini akan sangat konyol dan meragukan profesionalisme serta empati terhadap pasien.

Menurut pandangan pribadi saya, jika memang ada regulasi pusat yang mengharuskan penerapan hal-hal seperti ini, alangkah baiknya jika pelaksanaannya disesuaikan dengan konteks dan kondisi nyata di lapangan.

Daripada menghabiskan energi dan sumber daya untuk imbauan yang jelas-jelas tidak efektif, saya rasa akan jauh lebih bermanfaat jika Puskesmas dapat memfokuskan diri pada peningkatan kualitas pelayanan medis itu sendiri.

Sebagai contoh yang paling sederhana: mempercepat waktu antrean. Percayalah, jika antrean bisa dipersingkat, pasien tidak perlu berlama-lama menunggu dalam kondisi fisik yang tidak prima. Hal ini akan menjadi peningkatan pelayanan yang jauh lebih berarti dibandingkan mengajak semua orang senam “Sang Kodok” di jam 10 pagi.

Saya memahami bahwa niat di balik berbagai imbauan ini mungkin baik. Namun, terkadang niat baik perlu dibarengi dengan kepekaan dan pemahaman yang mendalam terhadap konteks situasi.

Semoga ke depannya, evaluasi yang lebih komprehensif dapat dilakukan agar Puskesmas benar-benar dapat menjadi tempat yang nyaman, efektif, dan penuh empati bagi setiap orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan.