Perjuangan Seorang Ibu Merawat Anak yang Stres di Tengah Keterbatasan Ekonomi
Kasih seorang ibu memang tak terhingga, seperti jalan yang tak berujung, berlangsung selama hayatnya. Pengabdiannya pada sang buah hati tak pernah mengharapkan balasan. Namun, bagi Ny. Maryan (nama samaran), usia senja justru diwarnai kebingungan dan air mata. Beban berat harus ditanggungnya melihat kondisi putra keduanya yang tengah berjuang melawan stres.
“Saya seorang ibu rumah tangga. Kami dianugerahi tiga orang anak. Dua sudah berkeluarga, tapi yang satu lagi bermasalah. Ini yang membuat saya bingung,” ungkap Ny. Maryan dengan suara lirih. Suaminya, yang telah memasuki usia senja, tak lagi bekerja. Ia hanya mengandalkan upah harian yang tak seberapa, sementara kebutuhan keluarga semakin membengkak.
Kekhawatiran terbesar Ny. Maryan tertuju pada putra keduanya. Semasa remaja, ia tak berbeda dengan anak muda seusianya. Namun, segalanya berubah pada suatu hari ketika ia tertawa sendiri di kamarnya. Awalnya, sang ibu mengira itu hanya candaan. Namun, kejadian itu terus berulang, membuat Ny. Maryan semakin waspada. Tak jarang, ia mendengar putranya berbicara sendiri tanpa ada lawan bicara.
Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang semakin sulit, Ny. Maryan memberanikan diri membawa putranya ke dokter jiwa. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sang putra mengalami stres. Namun, penyebab pasti stres tersebut masih menjadi misteri.
Upaya untuk berkomunikasi dengan putranya pun tak membuahkan hasil. Jawaban atas setiap pertanyaan Ny. Maryan seolah mengambang tak tentu arah, bahkan tak jarang sang putra hanya membisu seribu bahasa. Situasi ini semakin menambah kebingungan keluarga. Dokter jiwa menyarankan agar sang putra menjalani terapi rutin sebulan sekali, yang juga disertai dengan pembelian obat. Hal ini tentu saja semakin memberatkan kondisi keuangan keluarga. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari pun, mereka banyak dibantu oleh anak-anaknya, meskipun tak selamanya. Anak-anaknya pun memiliki tanggungan dan kebutuhan keluarganya masing-masing.
Ny. Maryan tak bisa mencari pekerjaan tambahan atau membuka usaha. Ia tak bisa lepas dari pengawasan dan penjagaan putranya. Kekhawatiran terbesar adalah jika putranya keluar rumah dalam kondisi stres, ia takut terjadi sesuatu yang buruk menimpa putranya, atau bahkan mencelakai orang lain.
“Sebelumnya, dia remaja yang normal. Setelah lulus SMA, ia mulai tampak murung,” kenang Ny. Maryan. Ia sempat curiga, apakah putranya mengalami sakit hati atau putus asa karena pernah tinggal di rumah keluarga temannya. Namun, masa-masa itu tak berlangsung lama.
Menurut dokter jiwa, kondisi putranya hanyalah stres, bukan penyakit jiwa. Sang anak bisa sembuh asalkan terus menjalani terapi dan mengonsumsi obat. Namun, justru inilah yang semakin menyulitkan Ny. Maryan, mengingat kondisi ekonomi keluarga yang sedang merosot tajam.
Dengan segala keberanian, Ny. Maryan mengirimkan surat kepada Pengasuh, menceritakan segala kesulitan yang dialaminya. Ia sangat berharap ada seorang dermawan yang bersedia membantu biaya pengobatan putranya.
“Jika mungkin, kami juga berharap ada modal untuk usaha jualan kecil-kecilan agar kami memiliki penghasilan harian untuk kelangsungan hidup keluarga kami. Ya Tuhan, tolonglah hamba,” ucapnya di akhir curahan hatinya, penuh harap.
Bantuan Datang dari Hati yang Dermawan
Kisah perjuangan Ny. Maryan tak luput dari perhatian. Seorang dermawan dengan inisial YH telah memberikan sumbangan sebesar Rp 5 juta untuk Ny. Hariyati (nama samaran yang sama dengan Ny. Maryan dalam pemberitaan sebelumnya dengan judul “Di Ujung Asa” pada SRK 6 Desember). Pihak Pengasuh mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kemurahan hati YH.
Bagi pembaca yang ingin menanggapi kisah ini, memberikan dukungan, atau menyampaikan unek-unek, dipersilakan untuk menghubungi Pengasuh. Untuk keperluan administrasi, mohon lengkapi alamat Anda dengan fotokopi KTP, KK, dan SKTM. Kirimkan surat Anda ke Kantor Sekretariat Redaksi Jalan Asia Afrika 77 Bandung.
Bagi Anda yang kisahnya belum dimuat, mohon bersabar menunggu giliran. Terima kasih atas pengertiannya.






















