Israel Lancarkan Serangan Gaza Tengah, 4 Orang Terluka di Saat Gencatan Senjata Diberlakukan

Israel Serang Gaza
Sebuah truk mengangkut tank di sisi perbatasan Israel dengan Gaza, di Israel, (19/10/2025). (Foto: Reuters/Amir Cohen)

Patrolmedia, Yerusalem – Tentara Israel lagi-lagi melancarkan serangan di Gaza tengah dengan alasan sedang menargetkan seseorang yang berencana akan menyerang pasukan zionis tersebut.

Aksi serangan udara terarah itu terjadi di tengah masa gencatan senjata diberlakukan.

Padahal gencatan senjata ini telah didukung Amerika Serikat antara Israel dan kelompok militan Palestina, Hamas.

Dalam pernyataannya pada Sabtu (25/10/2025), militer Israel menyebut target serangan tersebut adalah seorang anggota kelompok Jihad Islam yang diduga tengah merencanakan serangan terhadap pasukan Israel.

“Serangan ini dilakukan sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman yang segera membahayakan pasukan kami,” demikian bunyi keterangan resmi militer Israel yang dikutip sejumlah media lokal.

Hingga kini, kelompok militan itu belum memberikan tanggapan atas klaim tersebut.

Menurut laporan saksi mata kepada Reuters, sebuah pesawat tanpa awak (drone) menembakkan rudal ke sebuah mobil hingga terbakar.

Petugas medis setempat menyebutkan 4 orang terluka, namun belum ada laporan korban tewas.

Saksi mata menyebut tembakan artileri dari tank-tank Israel mengarah ke wilayah timur Kota Gaza di kawasan padat penduduk.

Militer Israel belum memberikan komentar atas laporan tersebut.

Sementara itu, sejumlah media Israel melaporkan bahwa pemerintah negeri Yahudi tersebut telah memberikan izin kepada pejabat Mesir untuk memasuki Jalur Gaza.

Langkah ini dilakukan guna membantu pencarian jenazah para sandera yang ditawan Hamas sejak serangan besar pada 7 Oktober 2023, peristiwa yang memicu perang berkepanjangan di wilayah tersebut.

Dalam perjanjian gencatan senjata yang tengah berlaku, Hamas berjanji akan mengembalikan seluruh sandera yang diculik.

Namun hingga kini, 18 orang dilaporkan masih ditahan di Gaza. Kantor Perdana Menteri Israel belum memberikan komentar terkait perkembangan terbaru ini.

 

(Kml/Ft)