Patrolmedia, Washington – Militer Amerika Serikat menahan 2 penyintas yang selamat dari kapal yang diduga mengangkut narkoba di perairan Karibia.
Sebelumnya, Angkatan Laut AS menyerang kapal tersebut pada Kamis lalu. Serangan itu menewaskan 2 orang lainnya.
Penyerangan itu menandai salah satu operasi militer AS paling agresif dalam kampanye antinarkotika pemerintahan Donald Trump.
Menurut sumber militer kepada Reuter, kapal tersebut dicurigai membawa muatan besar narkoba.
Kapal itu diduga beroperasi secara ilegal di jalur laut Karibia yang kerap digunakan kartel narkoba untuk didistribusikan ke Amerika Utara.
Pengungkapan ini memunculkan spekulasi bahwa kedua tahanan berpotensi menjadi “tawanan perang” pertama dalam konflik AS-Venezuela
Menurut Trump operasi itu sebagai perang melawan “narkoterorisme” yang diklaim berasal dari Venezuela.
Pentagon belum berkomentar atas penangkapan tersebut. Namun, Trump membeber target operasi adalah kapal selam yang diduga dirancang khusus untuk mengangkut narkoba dalam jumlah muatan besar.
Tapi Trump tidak merinci jumlah korban maupun kondisi penyintas.
Menurut salah satu sumber, target serangan adalah kapal semi-submersible, mirip kapal selam yang kerap digunakan jaringan penyelundup untuk menghindari deteksi radar.
Setelah serangan udara dilakukan, helikopter militer AS dikerahkan mengevakuasi korban dan membawa 2 tahanan ke kapal perang AS di wilayah operasi.
Sebelumnya, operasi serupa militer AS terhadap kapal-kapal pengangkut narkoba di lepas pantai Venezuela,tidak pernah menyisakan korban hidup.
Video yang dirilis Gedung Putih kala itu memperlihatkan kapal target dihancurkan tanpa ampun.
Data pemerintahan Trump mencatat, sedikitnya 27 orang tewas dalam serangkaian serangan sebelumnya.
Angka itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengamat hukum internasional dan anggota parlemen dari Partai Demokrat.
Pengamat dan Parlemen mempertanyakan apakah operasi tersebut mematuhi hukum perang dan prinsip proporsionalitas?
Serangan terbaru terjadi di tengah penumpukan kekuatan militer AS di Karibia.
Armada melibatkan kapal perusak berpeluru kendali, jet tempur F-35, kapal selam bertenaga nuklir, dan sekitar 6.500 personel militer.
Ketegangan antara Washington dan Caracas meningkat tajam sejak Trump memberikan izin ke CIA untuk menjalankan operasi rahasia di Venezuela.
Pernyataan itu menambah kecurigaan bahwa AS tengah berupaya menggulingkan pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.
Menanggapi operasi militer AS di laut Karibia, Duta Besar Venezuela untuk PBB, Samuel Moncada, berkirim surat kepada Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara.
Dalam surat tersebut, Moncada meminta PBB menyatakan serangan AS merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan nasional Venezuela.
Moncada meminta dukungan untuk menegakkan hukum internasional.
Pentagon sebelumnya telah memberi tahu Kongres bahwa Trump telah menetapkan status “konflik bersenjata non-internasional” di Karibia.
Namun, keputusan Trump untuk menyerahkan komando operasi kepada Pasukan Ekspedisi Marinir II, memicu tanda tanya di kalangan pengamat militer.
Komando Selatan biasanya menjadi otoritas utama untuk operasi di Amerika Latin.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan, Laksamana yang memimpin Komando Selatan akan mengundurkan diri.
Keputusan mendadak itu semakin memperkuat spekulasi adanya perbedaan pandangan di tubuh militer terkait operasi Karibia.
Dengan dua penyintas kini berada dalam tahanan militer, dunia menunggu langkah selanjutnya dari Washington.
Apakah 2 tahanan itu akan dijadikan narapidana narkotika atau sebagai tahanan perang dalam konflik tak resmi antara AS-Venezuela.






















