Macron Miris Lihat Kondisi Warga Palestina yang Kian Menderita

Presiden Prancis Emmanuel Macron bersama Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi saat mengunjungi bangsal untuk pasien Palestina di Rumah Sakit El Arish, perbatasan Jalur Gaza, di Arish, Mesir, 8 April 2025. (Foto: Ludovic Marin/REUTERS)
Macron
Presiden Prancis Emmanuel Macron bersama Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi saat mengunjungi bangsal untuk pasien Palestina di Rumah Sakit El Arish, perbatasan Jalur Gaza, di Arish, Mesir, 8 April 2025. (Foto: Ludovic Marin/REUTERS)

Patrolmedia, Paris – Presiden Prancis, Emmanuel Macron miris dan merasa terpukul menyaksikan meningkatnya krisis kemanusiaan di Gaza akibat agresi Israel di kota tersebut.

Hal itu dirasakan Macron saat dirinya berkunjung ke kota Al-Arish di Mesir di perbatasan dengan Gaza pada pada April 2025 lalu.

Ia pun menegaskan sekembalinya ke tanah air bahwa Paris akan segera memberikan pengakuan terhadap negara Palestina.

Bekerjasama dengan Arab Saudi, Macron berencana agar Prancis beserta sekutu G7, Inggris dan Kanada, mengakui kenegaraan Palestina.

Ia pun mendorong negara-negara Arab bersikap lebih lunak terhadap Israel melalui konferensi PBB.

Namun, meskipun telah berminggu-minggu berunding, ia gagal mengajak negara-negara lain untuk bergabung.

Padahal, Macron telah mengumumkan, Prancis akan menjadi anggota Barat pertama Dewan Keamanan PBB yang mengakui kenegaraan Palestina pada bulan September laku.

Namun, keputusan Macron malah menjadi keributan diplomatik dari Timur Tengah melalui Eropa hingga Washington.

3 diplomat menyebut London tidak ingin menghadapi kemarahan Amerika Serikat, dan Ottawa mengambil sikap serupa.

“Semakin jelas, kami tidak sabar untuk mengajak mitra bergabung,” ujar seorang diplomat Prancis, seperti dilansir Reuters, Sabtu (26/7/2025).

Diplomat Prancis itu mengatakan, Prancis berupaya mengajak lebih banyak negara bergabung menjelang konferensi mengenai solusi 2 negara pada bulan September.

Di dalam negeri, Macron berada di bawah tekanan yang meningkat untuk bertindak di tengah kemarahan yang meluas atas foto-foto mengerikan yang muncul dari Gaza.

Meski dengan komunitas Muslim dan Yahudi terbesar di Eropa dan lanskap politik yang terpolarisasi, tidak ada tindakan yang jelas yang akan memuaskan semua pihak.

Sementara, Israel menyebut keputusan Macron dianggap sebagai hadiah bagi kelompok militan Palestina Hamas.

Macron sebelumnya telah membahas masalah itu secara intens dengan Presiden Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu.

Trump mengatakan pada Jumat, keputusan Prancis tidak “berbobot apa pun” tetapi menambahkan Macron adalah “orang baik”.

Rencana Konferensi

Pejabat Prancis sebelumnya mempertimbangkan pengumuman Macron pada konferensi yang dijadwalkan bulan Juni di PBB.