Dikesankan sebagai anak muda yang pintar, ramah dan bersahabat dengan berbagai kalangan, Dhani kini menanggung beban berat.
Pilihannya mendampingi Zul Elfian di Pilkada 9 Desember 2020, membuat hubungan baiknya dengan para kontestan justru memburuk.
Alih-alih merangkul dan menjadi penyeimbang, Ramadhani justru dinilai telah masuk perangkap ke sistem birokrasi. Sehingga, hubungannya dengan sejumlah tokoh politik, semisal Rusdi Saleh, Irman Yefri Adang, Andri Marant, Nofi Candra, Reinier, Edi Chandra, bahkan dengan mantan pimpinannya di DPD Partai Golkar Kota Solok, merenggang.
Keberpihakan sejumlah ASN Pemko Solok di Pilkada 2020, kini seperti terusik, dengan sejumlah kebijakan Pemko Solok belakangan ini. Terutama dalam hal mutasi pejabat eselon dan non eselon.
Sejumlah pejabat, yang disinyalir sebagai barisan Yutris Can, Reinier, Irzal Ilyas, Syamsu Rahim, kini seperti menunggu ke “rumah jagal”, disingkirkan dalam kabinet Zidane.
Pengaduan sejumlah ASN ke sejumlah tokoh politik Kota Solok itu, seakan memantik bergulir bola salju (snow ball) yang bergerak melawan Ramadhani.
Sehingga, pengaduan perasaan dari sejumlah ASN membuat Yutris Can, Ismael Koto, Irzal Ilyas, Reinier, Andri Marant, Nofi Candra, seakan memaksa mereka untuk keluar dari pertapaan.
Guliran bola salju itu, meski 2024 masih lama, Yutris Can dan Ismael Koto disebut-sebut sudah melakukan komunikasi politik. Demikian juga dengan sejumlah tokoh politik lainnya.
Sejumlah nama, bahkan pasangan sudah diprediksi bakal tampil. Komposisi pasangan tersebut bahkan memunculkan nama yang unpredictable (tak terprediksi).
Mereka adalah Ramadhani – Jefrizal, Zulmiyetti – Rusdi Saleh, Yutris Can – Ismael Koto, dan Irzal Ilyas – Hendra Saputra.




















