Pemko Solok Tak Kreatif Dipimpin Birokrat Ketimbang Sosok Pengusaha

Kantor Wali Kota Solok. (Foto: dok)
Sejumlah tokoh politik dan pengusaha Kota Solok. (Foto: kolase)

Namun di Kota Solok, para birokrat senantiasa tampil menjadi kepala daerah. Seperti, Syamsu Rahim-Irzal Ilyas (birokrat-swasta) pada 2005-2010, Irzal Ilyas-Zul Elfian (swasta-birokrat) pada 2010-2015, Zul Elfian-Reinier (birokrat-swasta) pada 2016-2021, dan Zul Elfian-Ramadhani Kirana Putra (birokrat-swasta) di periode 2021-2024.

Sehingga, timbul adagium di masyarakat, salah satu kepala daerah harus berlatar belakang birokrat. Berlanjut dengan pameo, pemerintahan adalah birokrasi, maka harus dipimpin oleh birokrat.

Adagium dan pameo itu membuat para pejabat Pemko Solok memasang “kuda-kuda” sejak dini. Apalagi, penempatan pejabat eselon diyakini sebagai keputusan politik, sebagai hak prerogatif kepala daerah.

Ditambah lagi peraturan yang masih “banci” terkait peran ASN dalam politik. ASN dituntut netral, tapi masih memiliki hak pilih. Sementara, nasib dan masa depan jabatannya ditentukan oleh keputusan politik kepala daerah.

Sehingga ada konsekuensi dari pilihan politik para birokrat di Pilkada. Jika yang didukung menang, ada harapan naik kelas, jika yang didukung kalah, siap-siap menepi atau angkat koper mencari pelabuhan di daerah lain.

Daripada merana satu periode.
Periode 2021-2024, dibawah kendali Zul Elfian dan Ramadhani Kirana Putra, sejatinya membawa harapan cerah dengan tampilnya Ramadhani, seorang doktor ekonomi yang sangat muda mendampingi Zul Elfian.

Namun, apa lacur, Ramadhani belum bisa mendobrak pertahanan birokrasi di Pemko Solok. Justru, baru 10 bulan memimpin, pasangan dengan akronim “Zidane”, dinilai justru membuat suasana tidak kondusif di Kota Beras Serambi Madinah.

Penyebabnya, sejumlah kebijakan Walikota-Wakil Walikota dinilai telah mengebiri bahkan disebut “zalim” terhadap sejumlah loyalis kontestan Pilkada Kota Solok 9 Desember 2020 lalu.

Para tokoh politik setelah Pilkada 9 Desember 2020, memilih menepi dari hingar-bingar politik, seakan terusik. Hal ini, kemudian berkembang ke para loyalis, bahkan hingga ke masyarakat luas.

Jika tak segera diredam dengan aksi nyata, Zidane bakal menjadi musuh bersama para tokoh politik Kota Solok.

Wawako Solok Angkat Potensi Pertanian Solok di ODICOFF Belanda, Salah Satunya Kopi