Karir  

Dari Merugi Rp1,8 Miliar, Kini PDAM Solok Berlaba Hingga Rp180 Juta

Dirut PDAM Solok Rabbiluski. (Foto: Ist)

“Hubungan yang kami bangun, bukan hubungan antara direktur dan karyawan. Tapi membangun kesadaran untuk menjadi orang-orang yang mengabdikan hidup di PDAM. Bagaimana menjadi sebuah super tim dan pembuktian, bahwa kami punya arti,” ujar pria kelahiran 5 Mei 1971 ini.

Intinya, lanjut Rabbiluski, adalah memanusiakan manusia. Ia tidak mau memposisikan diri sebagai pimpinan dan karyawan bukan anak buah. Tapi sama-sama membangun kesadaran, bahwa di PDAM inilah hidup bersama.

Menurutnya, hal seperti itu menafkahi keluarga dengan baik. Sehingga, tidak ada satupun yang mengeluh, jika harus bekerja 24 jam non stop, bahkan bekerja di malam hari.

“Karena komitmen kita, berapapun laporan masyarakat, harus dituntaskan di hari tersebut. Dengan komitmen inilah kami berjalan,” kata Rabbiluski

Pada September 2019 Instalasi Pengolahan Air (IPA) di wilayah Kalumpang, Gurun Bagan, Kelurahan VI Suku, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok, yang sempat terbengkalai selama lebih dari satu tahun, akhirnya bisa kembali diaktifkan.

Dampaknya, terjadi optimalisasi sekitar 3.000 pelanggan di di wilayah Tanah Garam, VI Suku, Laing Taluak, hingga Laing Pasie. Serta terjadi penambahan 4.000 pelanggan baru. Sehingga, jumlah pelanggan yang semula 13.000 pelanggan, kini sudah mencapai 17.000 pelanggan.

Pengaktifan IPA Kalumpang, juga membuat kawasan tandus di sekitarnya turut berkembang menjadi kawasan perumahan, karena ketersediaan air yang memadai. Hal ini, membuat kinerja PDAM Kota Solok mendapat pujian dari berbagai elemen masyarakat.

Bagi Rabbiluski, pelanggan datang ke PDAM adalah untuk memarahi PDAM. Sebab, itu adalah hak mereka yang wajib diberikan. Jika masyarakat tidak terlayani, PDAM siap dimarahi.

“Jangan biarkan kami menerima gaji dan penghasilan dari PDAM untuk menafkahi keluarga kami, dari hasil ketidakpuasan masyarakat banyak,” kata Rabbiluski

“Alhamdulillah, selama ini, masyarakat Kota Solok kami rasakan sangat mendukung kami. Kami ucapkan terima kasih yang tak terhingga,” sambung ayah dari Serli Permata Sari (22), Jordi Arasyid (19) dan Arisa Tionalatifa (9) itu.

Bahkan, saat pandemi Covid-19 terjadi di awal 2020, yang diikuti dengan inflasi, ternyata pelanggan Solok tidak mau disubsidi.