Ia mengatakan, setelah beberapa bulan di Medan ia dan istrinya pulang kampung dengan tujuan mengadakan acara resepsi pernikahan secara adat.
“Saat itu mertua (Zai) saya masih berat menerima saya sebagai menantunya, dia terus marah, tapi keluarga dengan sikap merendah terus memohon agar hubungan kami direstui,” kata Bazo menceritakan.
Kala itu, Zai meminta bowo atau mahar sebesar Rp50 juta kepada Samalisa agar hubungan Bazo dan istrinya di restui.
“Yang minta Bowo ayah istri saya, kami penuhi permintaan keluarga perempuan dan kami serahkan mahar itu, akhirnya mertua saya terima dan itu disaksikan keluarga terdekat,” jelasnya.
Tiba-tiba, beberapa minggu kemudian Zai mendatangi rumah Bazo membawa sebilah pisau. Zai datang dan marah-marah mencari anak perempuannya atau istri Bazo.
Dirumah Bazo, ia mengancam ayah Bazo agar memberikan tambahan mahar sebesar Rp 300 juta.
“Ayah saya diam saja di ancam sama dia (Zai), kami ketakutan dan akhirnya saya dan istri pergi ke Medan,” kata Bazo.
Mengetahui Bazo dan istrinya tak di kampung,
Zai kembali mendatangi rumah Samalisa dengan membawa 2 bilah pisau di pinggangnya. Zai dengan emosinya kembali mengancam Samalisa.






















