Belanda Teladan Dunia, Inggris Terjebak Krisis Pemuda

Jurang Pemuda Menganggur di Inggris: Jutaan Anak Muda “Tersangkut” Tanpa Arah, Sementara Belanda Jadi Teladan Dunia

Di tengah pesatnya perkembangan global, sebuah fenomena mengkhawatirkan tengah melanda Inggris. Jutaan anak muda di negara tersebut, yang seharusnya menjadi motor penggerak masa depan, justru menghadapi kenyataan pahit: kesulitan mencari pekerjaan atau melanjutkan pendidikan. Situasi ini menciptakan jurang pemisah yang semakin lebar, di mana generasi muda merasa “tersangkut” tanpa aktivitas yang produktif.

Angka yang dipublikasikan menunjukkan bahwa jumlah pemuda berusia 16 hingga 24 tahun yang tidak berada dalam pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan (dikenal sebagai NEET) telah melampaui satu juta orang. Ini berarti, hampir satu dari setiap enam pemuda Inggris di rentang usia 18 hingga 24 tahun saat ini tidak memiliki kegiatan yang berarti. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran mendalam tentang dampak sosial dan ekonomi jangka panjang yang bisa ditimbulkan jika tren ini terus berlanjut.

Namun, di sisi lain benua, ada sebuah negara yang justru berhasil menjadi bintang dalam menangani isu serupa. Belanda, dengan sistem yang sangat berbeda, telah berhasil menekan angka NEET di bawah 5 persen selama lebih dari satu dekade. Keberhasilan ini menjadikan Belanda sebagai contoh dunia dalam mengatasi tantangan pemuda menganggur.

Lantas, apa rahasia sukses Belanda yang patut dipelajari? Mari kita selami lima poin kunci yang menjelaskan keunggulan negara kincir angin ini.

1. Inggris Bergulat dengan Krisis Pemuda yang Kian Nyata

Data resmi dari Office for National Statistics (ONS) Inggris menggambarkan situasi yang mengkhawatirkan. Sekitar 13,5 persen dari total anak muda berusia 16 hingga 24 tahun masuk dalam kategori NEET. Angka ini semakin mengerikan ketika merujuk pada kelompok usia 18 hingga 24 tahun, di mana 15,8 persen atau hampir satu dari enam individu tidak memiliki aktivitas pendidikan maupun pekerjaan.

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan potensi tertinggalnya generasi muda dari dunia kerja. Para pakar, termasuk mantan menteri kabinet Inggris, Alan Milburn, telah memperingatkan bahwa tren ini dapat berujung pada dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. Banyak pihak berpendapat bahwa persoalan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan program jangka pendek, melainkan memerlukan perubahan sistemik yang lebih mendalam dan menyeluruh.

2. Belanda: Konsistensi Kebijakan untuk Tingkat Pengangguran Pemuda yang Rendah

Sementara Inggris berjuang keras menghadapi peningkatan jumlah pemuda yang tidak aktif secara ekonomi, Belanda justru mencatat hasil yang jauh lebih memuaskan. Berdasarkan data Eurostat, tingkat pemuda yang tidak bekerja, tidak bersekolah, maupun tidak mengikuti pelatihan di Belanda hanya berkisar 5,3 persen pada tahun lalu. Angka ini menempatkan Belanda sebagai salah satu negara dengan tingkat NEET terendah di Uni Eropa dan di antara negara-negara OECD.

Keberhasilan ini bukanlah hasil instan. Berbagai lembaga riset independen menyimpulkan bahwa pencapaian ini adalah buah dari kebijakan yang dibangun secara konsisten selama puluhan tahun. Resolution Foundation bahkan memperkirakan bahwa jika Inggris mampu menurunkan tingkat NEET hingga setara dengan Belanda, sekitar 600 ribu anak muda usia 18 hingga 24 tahun yang saat ini tidak bekerja atau belajar berpotensi untuk kembali masuk ke dunia pendidikan atau mendapatkan pekerjaan.

3. Pendidikan Vokasi: Fondasi Kuat Menuju Dunia Kerja

Salah satu pilar utama di balik kesuksesan Belanda adalah sistem pendidikan vokasi yang sangat kuat dan dihargai. Di Belanda, pendidikan kejuruan memiliki posisi yang terhormat dan dianggap sebagai fondasi krusial bagi perekonomian negara. Mayoritas siswa di tingkat menengah atas memilih jalur vokasi yang secara spesifik dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri dan dunia kerja.

Robbert Dijkgraaf, mantan Menteri Pendidikan Belanda dan kini profesor ilmu pengetahuan dan masyarakat di University of Amsterdam, menjelaskan bahwa pendidikan vokasi berperan penting dalam membantu anak muda menemukan jati diri dan tempat mereka di masyarakat serta dunia kerja. Menurutnya, pendidikan vokasi sering kali menjadi “perahu penyelamat” bagi mereka yang kesulitan menemukan arah melalui jalur akademik tradisional. Ia juga menekankan bahwa semua bentuk pendidikan tinggi seharusnya dipandang memiliki nilai yang sama pentingnya, karena masing-masing memiliki kontribusi signifikan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan pasar kerja.

Keunggulan lain dari sistem ini adalah terjalinnya hubungan yang sangat erat antara institusi pendidikan dan dunia usaha. Banyak siswa menjalani kombinasi belajar di kelas dengan praktik langsung di lapangan. Hasilnya, sebelum menginjak usia 20 tahun, sebagian besar pemuda Belanda sudah memiliki pengalaman kerja, jaringan profesional yang luas, serta pemahaman yang mendalam tentang realitas dunia kerja.

4. Dukungan Sosial Komprehensif: Melampaui Bantuan Finansial

Pendekatan Belanda dalam membantu pemuda yang mengalami kesulitan juga sangat personal dan menyeluruh. Pemerintah daerah memegang peranan kunci dalam menyediakan program-program yang disesuaikan dengan kebutuhan unik setiap individu, sebuah pendekatan yang berbeda dari sistem yang cenderung terpusat dan birokratis.

Yang menarik, bantuan yang diberikan tidak hanya berfokus pada pencarian kerja. Program-program tersebut juga mencakup penanganan isu-isu krusial seperti kesehatan mental, ketahanan emosional, literasi keuangan, hingga pemulihan dari penyalahgunaan zat. Pendekatan holistik ini lahir dari kesadaran mendalam bahwa hambatan seseorang untuk bekerja seringkali bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya keterampilan, melainkan juga oleh faktor-faktor personal dan sosial.

Tim Versnel, Kepala Bidang Ketenagakerjaan Kota Rotterdam, mengemukakan bahwa pendekatan yang lebih peduli terhadap kondisi hidup pemuda terbukti efektif dalam membantu mereka kembali terhubung dengan pendidikan atau pekerjaan. Ia menambahkan bahwa ketika seseorang berhasil mendapatkan pekerjaan, manfaatnya seringkali meluas ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari peningkatan kesehatan mental hingga tumbuhnya rasa percaya diri. Hal ini pada gilirannya membuka peluang yang lebih besar untuk membangun masa depan yang lebih stabil dan sejahtera.

5. Kolaborasi Erat dengan Dunia Usaha: Investasi Bersama untuk Masa Depan

Keberhasilan Belanda juga tidak lepas dari keterlibatan aktif dunia usaha. Pemerintah memberikan berbagai insentif finansial yang mendorong perusahaan untuk lebih berani merekrut pekerja muda. Melalui kebijakan ini, beban finansial yang harus ditanggung perusahaan menjadi lebih ringan, sehingga membuka lebih banyak peluang kerja bagi para pencari kerja pemula.

Berbagai program dukungan mencakup pengurangan pajak penggajian hingga aneka bentuk subsidi perekrutan. Besarnya dukungan yang diberikan menunjukkan bahwa pemerintah memandang penciptaan lapangan kerja bagi anak muda sebagai investasi jangka panjang. Oleh karena itu, perusahaan tidak dibiarkan menanggung seluruh biaya pelatihan dan pengembangan tenaga kerja baru sendirian.

Para peneliti menyimpulkan bahwa keberhasilan Belanda merupakan hasil dari kerja sama yang terintegrasi antara sistem pendidikan, layanan kesejahteraan sosial, dan sektor dunia usaha. Ketiga elemen ini saling bersinergi, menciptakan jalur yang lebih jelas bagi generasi muda dari bangku sekolah hingga memasuki dunia kerja. Pendekatan yang menyeluruh ini membuat proses transisi menuju dunia kerja menjadi lebih mulus dan terarah bagi generasi muda.

Krisis pemuda menganggur di Inggris menjadi pengingat bahwa masalah ketenagakerjaan anak muda tidak bisa dianggap remeh. Ketika semakin banyak generasi muda yang kehilangan akses ke pendidikan maupun pekerjaan, dampaknya akan terasa oleh perekonomian dan masyarakat dalam jangka panjang. Belanda telah memberikan bukti nyata bahwa hasil yang lebih baik dapat dicapai melalui kebijakan yang konsisten dan terintegrasi.

Pendidikan vokasi yang kuat, dukungan sosial yang personal, serta keterlibatan aktif dari sektor swasta menjadi kombinasi krusial di balik keberhasilan mereka. Meskipun setiap negara memiliki konteks dan tantangan yang unik, pengalaman Belanda menegaskan bahwa investasi pada generasi muda adalah investasi yang akan memberikan manfaat besar bagi masa depan sebuah bangsa.