Trump Kritik Netanyahu, Iran Umumkan Pemakaman Khamenei

Ketegangan Global Meningkat: Dari Kemarahan Trump hingga Serangan Balasan Iran

Dunia tengah dilanda gelombang ketegangan geopolitik yang signifikan, ditandai dengan berbagai peristiwa dramatis dalam 24 jam terakhir. Mulai dari percakapan telepon yang bocor antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang penuh amarah, hingga respons balasan Iran terhadap serangan yang merusak puluhan pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah, serta serangan besar-besaran Rusia ke wilayah Ukraina. Situasi ini semakin diperparah dengan pengumuman Iran mengenai prosesi pemakaman pemimpin Revolusi Iran, Ali Khamenei, yang diperkirakan akan dihadiri jutaan pelayat.

Trump Murka: Agresi Israel di Lebanon Melampaui Batas

Sebuah percakapan telepon antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan bocor ke publik, mengungkap momen ketegangan tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya antara kedua pemimpin. Percakapan yang terjadi pada Senin, 1 Juni 2026, ini diwarnai dengan luapan amarah dan kata-kata kasar dari Trump kepada Netanyahu terkait agresi militer Israel yang kian intens di Lebanon.

Menurut laporan eksklusif dari media AS, Axios, kemarahan Trump dipicu oleh ancaman Iran untuk memboikot negosiasi damai dengan Amerika Serikat. Tehran mengambil sikap ini sebagai bentuk protes terhadap perluasan operasi darat dan serangan udara Israel di Lebanon yang ditujukan untuk menggempur kelompok Hizbullah. Trump menilai tindakan militer Israel di bawah kepemimpinan Netanyahu telah melampaui batas dan tidak proporsional. Ia secara khusus menyoroti tingginya angka korban sipil di Lebanon dan taktik militer Israel yang dianggap nekat, seperti meruntuhkan gedung-gedung bertingkat demi mengincar satu komandan Hizbullah.

Sumber pejabat AS yang dikutip Axios melaporkan bahwa Trump membentak Netanyahu, “B***ngan apa yang kau lakukan?” dalam percakapan tersebut. Tidak hanya memprotes strategi militer, Trump juga meluapkan kekesalannya secara personal, menunjukkan rasa frustrasinya terhadap situasi yang semakin memanas.

Serangan Balasan Iran: Puluhan Pangkalan Militer AS Rusak, Sistem THAAD Terancam

Sebagai respons terhadap eskalasi konflik, Iran melancarkan serangan balasan yang dilaporkan telah menyebabkan kerusakan signifikan pada puluhan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Analisis citra satelit dan video yang dilakukan oleh BBC Verify menunjukkan setidaknya 20 situs militer Amerika mengalami kerusakan sejak perang pecah pada akhir Februari 2026.

Fasilitas-fasilitas militer Amerika yang menjadi sasaran serangan ini tersebar di delapan negara Timur Tengah, meliputi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Irak, Yordania, Bahrain, dan Oman. Kerusakan tidak hanya terbatas pada situs militer, tetapi juga meluas pada sistem pertahanan udara, radar, hanggar pesawat, dan pusat komunikasi militer.

Salah satu kerusakan paling mengkhawatirkan terjadi pada sistem pertahanan rudal canggih Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) yang ditempatkan di beberapa pangkalan udara di kawasan Teluk. Tiga baterai THAAD dilaporkan rusak di Pangkalan Udara Al Ruwais dan Al Sader di Uni Emirat Arab, serta Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania. Kerusakan ini menjadi perhatian serius mengingat Amerika Serikat hanya memiliki delapan baterai THAAD aktif di seluruh dunia, dengan nilai setiap sistem mencapai sekitar 1 miliar dolar AS dan membutuhkan sekitar 100 personel untuk mengoperasikannya. Rudal pencegat yang digunakan dalam sistem ini bahkan bernilai lebih dari 12 juta dolar AS per unit.

Selain sistem pertahanan rudal, citra satelit juga memperlihatkan kerusakan pada pesawat pengisian bahan bakar dan pesawat pengintai Amerika di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi. Salah satu pesawat yang rusak teridentifikasi sebagai pesawat pengintai E-3 Sentry, yang nilai penggantinya bisa mencapai 700 juta dolar AS.

Ukraina Dihantam Serangan Brutal Rusia: Korban Berjatuhan di Kyiv, Dnipro, dan Kharkiv

Malam yang mencekam terjadi di Ukraina ketika Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah wilayah pada Senin malam, 1 Juni 2026, hingga Selasa dini hari, Juni 2026. Gelombang rudal dan drone menghantam berbagai kota, termasuk ibu kota Kyiv, serta Dnipro dan Kharkiv, mengakibatkan sedikitnya lima orang tewas dan 55 lainnya terluka.

Kota Dnipro menjadi salah satu wilayah yang paling parah terkena dampak. Gubernur regional Oleksandr Hanzha melaporkan bahwa sedikitnya lima orang tewas dan 16 lainnya terluka setelah sejumlah rudal dan drone menghantam kawasan permukiman. Foto dan video yang beredar di media sosial menampilkan bangunan yang mengalami kerusakan parah dan sebagian runtuh akibat serangan tersebut.

Di Kharkiv, serangan Rusia menghantam beberapa distrik kota. Wali Kota Ihor Terekhov melaporkan kerusakan pada gedung apartemen bertingkat, kendaraan, dan bangunan administrasi. Setidaknya 10 orang dilaporkan mengalami luka-luka.

Ibu kota Kyiv kembali menjadi sasaran utama. Ledakan pertama terdengar sekitar pukul 01.30 waktu setempat, diikuti oleh alarm serangan udara. Ribuan warga Kyiv terpaksa mencari perlindungan di stasiun metro dan tempat penampungan lainnya. Sebagian besar wilayah Ukraina berada di bawah peringatan serangan udara pada Senin malam. Gelombang ledakan berikutnya terjadi sekitar pukul 02.15 dan 04.00 dini hari, yang menyebabkan gangguan pasokan listrik di beberapa wilayah kota.

Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko melaporkan kebakaran terjadi di beberapa distrik akibat puing-puing rudal dan drone yang jatuh. Sebuah bangunan apartemen sembilan lantai di Distrik Podilskyi mengalami kerusakan serius setelah sebagian strukturnya runtuh. Petugas penyelamat menduga masih ada warga yang terjebak di bawah reruntuhan. Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada sejumlah gedung apartemen bertingkat, pusat bisnis, klinik kesehatan, stasiun pengisian bahan bakar, hingga lokasi pembangunan gedung di berbagai distrik Kyiv. Sedikitnya 29 orang, termasuk dua anak-anak, dilaporkan mengalami luka-luka di ibu kota.

Gencatan Senjata Ditolak: Israel dan Hizbullah Tetap Saling Serang Meski Ada Imbauan Trump

Imbauan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menurunkan ketegangan atau deeskalasi antara Israel dan Hizbullah tampaknya tidak digubris oleh kedua belah pihak. Hingga Selasa, Juni 2026, bentrokan senjata masih terus berlanjut secara sengit.

Setelah menerima laporan serangan dari Hizbullah pada malam sebelumnya, militer Israel kembali merespons dengan melancarkan serangan udara ke wilayah Lebanon. Sebelumnya, pada Senin malam, 1 Juni 2026, Trump mengklaim telah berbicara langsung dengan kedua pihak yang bertikai dan mereka telah sepakat untuk menghentikan semua aksi penembakan.

Klaim gencatan senjata Trump ini muncul menyusul ancaman Iran yang memperingatkan bahwa operasi militer Israel di Lebanon berpotensi menggagalkan upaya perdamaian dan pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz. Sementara itu, pembicaraan antara pihak AS dan Teheran dikabarkan masih terus berlangsung.

Di sisi lain, Kedutaan Besar Lebanon di Washington sempat menyebutkan bahwa kelompok Hizbullah telah menerima proposal dari AS mengenai penghentian serangan secara timbal balik. Proposal tersebut juga secara tegas melarang Israel melakukan serangan militer ke Beirut, mengingat ancaman serangan ke ibu kota Lebanon saja telah memicu kepanikan luar biasa di kalangan warga sipil. Namun, klaim gencatan senjata yang baru saja diumumkan itu tampak langsung diabaikan di lapangan, dengan rentetan bentrokan senjata yang masih terus berlanjut hingga Selasa pagi waktu setempat.

Iran Bersiap untuk Pemakaman Khamenei: Jutaan Pelayat Diperkirakan Hadir

Setelah 94 hari, Iran akhirnya mengumumkan jadwal dan lokasi prosesi pemakaman pemimpin Revolusi Iran, Ali Khamenei. Pengumuman yang disampaikan pada Selasa, Juni 2026, ini menyatakan bahwa upacara pemakaman akan berlangsung di tiga kota besar di Iran: Teheran, Qom, dan Mashhad.

Tavakoli Zadeh, wakil kepala bidang sosial dan budaya di kotamadya Teheran, membenarkan bahwa “prosesi pemakaman komandan yang gugur pasti akan berlangsung di kota Teheran, Qom, dan Mashhad”. Ia menambahkan, “Kami sedang bersiap untuk menerima kerumunan yang melebihi 15 hingga 20 juta orang di ibu kota.” Angka ini mengindikasikan skala besar dari acara duka nasional yang akan diselenggarakan.