Duel BGN: Lulusan Jerman vs Komisaris Pertamina

Perombakan Struktur Kepemimpinan Badan Gizi Nasional: Era Baru Dimulai

Pemerintah Indonesia baru-baru ini mengumumkan sebuah keputusan strategis yang cukup signifikan, yaitu pergantian jajaran pimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN). Langkah ini diambil menyusul adanya evaluasi mendalam terhadap kinerja lembaga tersebut, yang salah satunya terkait dengan polemik seputar program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keputusan ini secara resmi diumumkan oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, dalam sebuah konferensi pers yang diselenggarakan di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa malam, Juni 2026.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, telah secara resmi menandatangani keputusan pergantian ini. Tidak hanya Kepala BGN yang diganti, namun dua posisi wakil kepala pun turut mengalami perombakan.

Jajaran Pimpinan Baru BGN

Pergantian ini menandai akhir dari kepemimpinan Dadan Hindayana sebagai Kepala BGN yang pertama. Bersama dengan beliau, dua wakil kepala yang turut diganti adalah Lodewyk Pusung dan Soni Sanjaya. Pemerintah menyampaikan apresiasi yang tulus atas kontribusi dan upaya mereka dalam membangun fondasi awal lembaga penting ini.

Sebagai estafet kepemimpinan, Presiden Prabowo telah menunjuk figur-figur baru untuk mengisi posisi strategis di BGN. Nanik Sudaryati Deyang, yang lebih dikenal dengan sapaan Nani S. Deyang, dipercaya untuk menjabat sebagai Kepala BGN yang baru. Sementara itu, posisi wakil kepala akan diisi oleh Agustina Arumsari dan Mayjen Eddy Trenggono.

Pergantian Kepala BGN dari Dadan Hindayana ke Nani S. Deyang ini menjadi sorotan publik. Hal ini memicu rasa ingin tahu mengenai rekam jejak dan pengalaman kedua tokoh tersebut dalam memimpin sebuah lembaga yang memiliki peran krusial bagi kesehatan masyarakat.

Profil Dadan Hindayana: Sang Pakar Entomologi Lulusan Jerman

Dadan Hindayana, seorang tokoh yang lahir di Garut, Jawa Barat, pada tanggal 10 Juli 1967, dikenal luas sebagai seorang birokrat yang memiliki keahlian mendalam di bidang entomologi. Latar belakang pendidikannya sangat mengesankan, berakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Perjalanan akademiknya dimulai dengan gemilang di tanah air. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMA Negeri Cimindi Cimahi pada tahun 1986, Dadan melanjutkan studi Sarjana (S1) di bidang Proteksi Tanaman di IPB, dan berhasil meraih gelar pada tahun 1990.

Ambisi akademiknya tidak berhenti di situ. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Jerman untuk mendalami ilmu entomologi. Di Universitas Bonn, Dadan meraih gelar Magister (S2) dalam Entomologi Terapan pada tahun 1997. Puncak pencapaian akademiknya diraih ketika ia menyelesaikan program Doktoral di Leibniz Universität Hannover pada tahun 2000. Fokus keilmuan Dadan sejak awal memang sangat erat kaitannya dengan dunia serangga, sebuah bidang yang memiliki implikasi luas, termasuk dalam kesehatan dan pertanian.

Dari dunia akademik yang kaya akan riset dan kajian, Dadan Hindayana kemudian dipercaya untuk mengemban berbagai jabatan strategis di lingkungan IPB. Pengalamannya meliputi posisi sebagai Sekretaris Kantor Persiapan Implementasi Otonomi, Direktur Pengembangan Institusi dan Usaha Penunjang, hingga menjabat sebagai Direktur ad-interim Direktorat Kerja Sama.

Pada tanggal 19 Agustus 2024, Dadan Hindayana mencatat sejarah sebagai Kepala BGN pertama yang dilantik langsung oleh Presiden Joko Widodo. Posisi ini kemudian ia emban hingga masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Namun, selama masa kepemimpinannya di BGN, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh lembaga tersebut kerap menjadi topik perbincangan hangat di publik. Sorotan ini terutama muncul akibat maraknya laporan kasus keracunan massal yang terjadi di berbagai daerah, yang menimbulkan kekhawatiran mengenai efektivitas dan keamanan program tersebut.

Di tengah perjalanan kariernya yang cemerlang, Dadan Hindayana juga telah menerima berbagai penghargaan bergengsi. Di antaranya adalah Bintang Mahaputera pada tahun 2025, Bintang Jasa Utama pada tahun 2026, serta penghargaan People of the Year kategori Penggerak Gerakan Kesehatan Masyarakat dari Metro TV pada tahun 2025, yang menunjukkan pengakuan atas kontribusinya dalam upaya kesehatan masyarakat.

Profil Nanik S. Deyang: Dari Jurnalistik ke Panggung Politik dan Bisnis

Sementara itu, Nanik Sudaryati Deyang atau yang akrab disapa Nani S. Deyang, lahir di Madiun, Jawa Timur, pada tanggal 3 Januari 1968. Berbeda dengan Dadan Hindayana yang memiliki akar kuat di dunia akademis, latar belakang Nani S. Deyang lebih banyak bersentuhan dengan dunia politik dan media.

Nani S. Deyang merupakan alumni Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), angkatan tahun 1983. Sebelum memutuskan untuk terjun ke dunia politik, ia sempat meniti karier sebagai seorang jurnalis di Tabloid Bangkit. Pengalaman di dunia media memberikannya pemahaman yang baik tentang komunikasi publik dan isu-isu yang relevan bagi masyarakat.

Namanya mulai dikenal luas ketika ia terlibat aktif dalam tim sukses pemenangan Prabowo pada Pemilihan Presiden tahun 2019. Peranannya dalam kontestasi politik tersebut membuktikan kemampuannya dalam strategi kampanye dan mobilisasi dukungan.

Setelah Presiden Prabowo Subianto memenangkan Pemilihan Presiden tahun 2024, Nani S. Deyang kembali dipercaya untuk mengemban tugas penting. Ia ditunjuk sebagai Wakil Kepala I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan untuk periode 2024–2029.

Kariernya terus menanjak ketika ia mendapatkan kepercayaan untuk menjabat sebagai Komisaris Independen di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terbesar, yaitu Pertamina, pada tanggal 1Juni 2026 2025. Jabatan ini memberikannya pengalaman berharga dalam tata kelola perusahaan berskala besar.

Tidak berselang lama, pada tanggal 17 September 2025, Nani S. Deyang dilantik sebagai Wakil Kepala BGN. Penunjukannya ini menandai transisinya dari sektor energi ke sektor kesehatan dan gizi. Dengan demikian, ia harus meninggalkan jabatan sebelumnya di Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan.

Kini, pada tanggal Juni 2026, Nanik S. Deyang secara resmi dipercaya untuk memimpin Badan Gizi Nasional, menggantikan Dadan Hindayana. Pemerintah menaruh harapan besar pada kepemimpinan baru ini. Diharapkan, estafet kepemimpinan ini tidak hanya akan memperkuat konsolidasi internal di dalam tubuh BGN, tetapi juga mampu memperbaiki koordinasi program-program gizi nasional agar lebih efektif dan berdampak positif bagi seluruh masyarakat Indonesia. Perubahan ini diharapkan menjadi momentum untuk membawa BGN ke arah yang lebih baik, dengan fokus pada peningkatan kualitas gizi dan kesejahteraan masyarakat.