Pada malam hari Rabu (19/11/2025), tim ekspedisi BRIN, Oxford, dan aktivis lingkungan Indonesia berhasil menemukan bunga langka Rafflesia hasseltii yang sedang mekar di kawasan Sijunjung, Sumatera Barat. Penemuan ini menjadi momen penting dalam upaya perlindungan flora langka yang sangat rentan terhadap gangguan manusia.
Yang menarik dari penemuan ini adalah lokasi bunga langka tersebut berada di jalur harimau, sementara musim durian sedang berlangsung. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang peran satwa predator dalam menjaga keberlanjutan habitat bunga langka tersebut.
Septi Andriki, salah satu anggota tim yang terlibat dalam pencarian bunga langka, menyatakan bahwa hewan seperti kucing-kucingan memiliki kecenderungan untuk mengonsumsi buah durian. Ia menjelaskan, “Mungkin jika hari itu kita ketemu, kemungkinannya ada di 60 persen, ketemu harimau.” Pernyataan ini muncul setelah ia dihubungi melalui telepon pada Kamis (20/11/2025).
Harimau sebagai Penjaga Rafflesia
Menurut Profesor Agus Susatya, peneliti Rafflesia sekaligus Guru Besar Universitas Bengkulu, keberadaan predator besar seperti harimau secara tidak langsung berkontribusi dalam menjaga keaslian habitat dan ekosistem hutan. Meskipun belum ada studi ilmiah langsung yang membuktikan peran harimau dalam menjaga ekosistem Rafflesia atau bunga langka lainnya, Agus menduga adanya efek perlindungan tidak langsung yang sangat efektif.
“Paling tidak, secara tidak langsung harimau atau predator membuat orang takut untuk masuk hutan dan melihat Rafflesia ini,” ujar Prof. Agus saat dihubungi melalui telepon, Kamis (20/11/2025). Ketakutan terhadap predator membuat interaksi manusia ke lokasi habitat Rafflesia menjadi sangat minim. Kurangnya interaksi dan kunjungan manusia ini menjadi salah satu aspek penting dalam perlindungan Rafflesia hasseltii dan bunga langka lainnya.
Habitat Jauh dan Naik Turun Bukit
Selain kehadiran predator, kondisi fisik lokasi penemuan Rafflesia hasseltii juga secara alami menjadikannya relatif terjaga. “Tapi karena daerahnya cukup jauh, naik turun bukit, mungkin ini juga relatif terjaga (habitat),” kata Agus. Jalur yang sulit dijangkau dan terpencil secara otomatis mencegah akses berlebihan dari manusia, yang sangat vital bagi kelangsungan hidup bunga yang sensitif.
Joko Witono dari BRIN juga menyampaikan hal yang sama. Ia menjelaskan bahwa keberadaan satwa liar seperti harimau di kawasan tersebut memiliki peran penting—meskipun tidak langsung—dalam menjaga ekosistem bunga puspa langka. Selama ekspedisi pencarian Rafflesia hasseltii di Sijunjung, lokasi penemuan bunga tersebut berada di kawasan berbukit yang terjal, yang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan Bukit Barisan.
Konservasi Terintegrasi dan Konflik Satwa
Joko menekankan pentingnya konservasi yang terintegrasi dan penetapan kawasan yang dilindungi. Menurutnya, lokasi Rafflesia seringkali berada di kawasan berbukit-bukit yang menjadi bagian dari rangkaian Bukit Barisan, yang membentang dari Aceh sampai Lampung. Kawasan ini juga merupakan habitat alami harimau.
Ia menyarankan solusi konservasi yang harus melibatkan pemerintah untuk menghindari konflik yang sering terjadi. “Kalau menurut saya, bicara konservasi kan mesti terintegrasi ya. Memang kalau seandainya itu tadi, kalau sebuah kawasan itu menjadi habitat dari satwa liar atau jenis tumbuhan yang dilindungi, itu sebaiknya sih, menurut saya, ditetapkan saja menjadi protected areas,” ujar Joko.
Alasan utama perlunya penetapan kawasan yang dilindungi adalah untuk menghindari konflik antara satwa liar dengan masyarakat. Salah satu contoh kasus adalah harimau yang memasuki kampung. “Kan harimau banyak ke kampung karena apa? Itu lahan-lahan kan rata-rata sudah dimiliki oleh masyarakat,” katanya.
Keberadaan harimau jaga hutan memang tidak secara langsung melindungi Rafflesia, tetapi secara tidak langsung membuat hutan di sekitarnya terjaga. Penetapan kawasan tersebut sebagai protected areas sangat penting karena satwa liar hanya membutuhkan makan. “Sementara, namanya harimau kan hewan ya, hewan yang dibutuhkan cuman makan, kan?” tambah Joko Witono.
Peran pemerintah menjadi krusial dalam memberikan perhatian lebih pada satwa liar dan jenis-jenis tumbuhan yang dilindungi, karena Rafflesia merupakan puspa langka nasional.






















