Local  

Arga Ramadhana, Doktor Pertama Lulusan Taiwan di Politeknik Negeri Fakfak

Dosen Pertama di Politeknik Negeri Fakfak dengan Gelar Doktor

Arga Ramadhana (32) menjadi sorotan sebagai dosen pertama yang memiliki gelar doktor di Politeknik Negeri Fakfak (Polinef). Gelar ini diraih setelah menyelesaikan studi S3 dalam bidang Philosophy in Industrial Business Administration di KMITL Business School, Thailand, pada tahun 2025.

Kariernya di Polinef dimulai pada 2021 sebagai tenaga kontrak. Awalnya ia hanya berniat untuk singgah sebentar, namun dorongan dari hati dan saran sang kekasih (yang kini menjadi istrinya) membuatnya memilih jalur CPNS di Kementerian Pendidikan dengan penempatan di Polinef.

Pada pertengahan 2022, Arga resmi lolos seleksi dan mulai mengabdi di Tanah Papua. Proses tes yang dilaluinya penuh dengan tantangan, bahkan tiga hari sebelum ujian orangtuanya berpulang. Namun, tekad dan motivasi membuatnya tetap melanjutkan proses hingga akhirnya berhasil lolos.

Mengabdi di Tanah Papua

Awalnya, Arga hanya ingin tahu kondisi pendidikan di Papua. Namun, rasa kagum terhadap potensi mahasiswa membuatnya memutuskan untuk bertahan hingga kini. Ia percaya bahwa anak-anak Papua memiliki potensi luar biasa. Jika diberi kesempatan dan motivasi, mereka mampu berkembang pesat.

Bagi Arga, kebahagiaan bukan hanya sekadar materi, melainkan kepuasan melihat mahasiswa tumbuh dan berterima kasih atas bimbingannya. Ia merasa senang bisa menjadi bagian dari perjalanan mereka menuju masa depan yang lebih baik.

Culture Shock dan Adaptasi

Saat mengajar di Jurusan DIV Agribisnis Perkebunan, Arga sempat mengalami culture shock. Pengalaman seperti ditipu saat pertama tiba di Sorong, serta harus menyesuaikan cara komunikasi dengan intonasi yang lebih tegas, menjadi tantangan yang ia hadapi.

“Kadang penugasan harus dijelaskan berulang dengan bahasa lugas agar mahasiswa benar-benar paham. Tapi kalau semangat mereka bangkit, hasilnya luar biasa,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya mendampingi mahasiswa Papua agar tidak kehilangan motivasi.

Menurutnya, sifat minder dan kurang percaya diri masih menjadi tantangan besar yang perlu diatasi.

Kontribusi untuk Fakfak dan Polinef

Selain mengajar, Arga juga dipercaya sebagai Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat Polinef. Ia aktif mendorong penelitian untuk meningkatkan nilai tambah pala, komoditas unggulan Fakfak.

“Fokus kami bagaimana pala tidak hanya jadi primadona, tapi juga memberi kesejahteraan bagi petani melalui produk turunan dan peluang ekspor,” terangnya. Ia berharap Polinef terus menjadi lokomotif pendidikan vokasi di Papua Barat.

Menurutnya, kampus ini harus menjadi ruang bertumbuh, tidak hanya bagi mahasiswa dan dosen, tetapi juga masyarakat umum seperti pelaku UMKM. “Keseriusan dalam pendidikan adalah senjata ampuh untuk mengubah kehidupan lebih baik dan sejahtera,” tandasnya.