Pengalaman Pahit Jordy Tutuarima di Persis Solo
Jordy Tutuarima, mantan pemain Persis Solo, mengungkapkan pengalaman yang tidak menyenangkan selama bermain di Super League. Ia menceritakan bagaimana dirinya tidak menerima gaji selama beberapa bulan, yang memengaruhi performanya di lapangan.
Pada awal musim 2025-2026, Jordy bergabung dengan Persis Solo setelah sebelumnya tidak memiliki klub. Ia dikontrak untuk Liga 1 musim 2024/2025 dan diperpanjang hingga Super League 2025/2026. Dalam musim ini, ia tampil dalam 12 pertandingan, mencetak 1 gol dan 1 assist dengan total waktu bermain 1.058 menit.
Namun, situasi di Persis Solo tidak berjalan mulus. Performa tim hanya mendapatkan satu kemenangan pada putaran pertama Super League. Hal ini membuat pelatih asal Belanda, Peter de Roo, dipecat. Manajemen kemudian melakukan evaluasi besar-besaran dengan mengganti seluruh pemain asing, termasuk Jordy.
Menurut Jordy, masalah utama bukan hanya terletak pada perubahan pelatih atau kebijakan manajemen, tetapi juga pada keterlambatan pembayaran gaji. “Kami tak dibayar berbulan-bulan, jadi Anda bisa memperkirakan hasilnya akan menurun,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pemain lokal menghadapi tekanan finansial yang lebih berat karena mereka harus menghidupi keluarga. “Mereka punya seluruh keluarga yang harus dihidupi, ‘Dan jika anak saya tak bisa makan, saya juga tak akan berusaha lebih untukmu’, begitulah kira-kira.”
Kondisi di Indonesia dan Keputusan untuk Pergi
Jordy juga mengungkapkan bahwa suasana di Indonesia terasa aneh. Pelatih baru datang pada Januari, dan tiba-tiba semua pemain asing harus pergi, termasuk dirinya. “Saya senang sekali bisa kembali bersama keluarga. Keadaan di sana sangat aneh. Pelatih baru datang pada bulan Januari, dan tiba-tiba semua pemain asing harus pergi (sembilan pemain dilepas),” katanya dalam wawancara dengan media Belanda, Gelderlander.
Setelah tiga bulan menganggur, Jordy akhirnya resmi bergabung dengan klub kasta ketiga Liga Belanda, GVVV Veenendal. Ia menandatangani kontrak hingga akhir musim 2026/2027. Kepulangannya ke Belanda langsung disambut oleh keluarganya karena bisa kembali berkumpul bersama.
Penutup
Curhatan Jordy Tutuarima menjadi pengingat bahwa profesionalisme dalam dunia sepak bola tidak hanya soal performa di lapangan, tetapi juga tanggung jawab klub terhadap para pemain. Masalah seperti keterlambatan gaji dapat memengaruhi moral dan prestasi tim secara keseluruhan.






















