Patrolmedia, Tel Aviv – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengultimatum Iran untuk segera membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Jika tidak, Trump mengancam akan ada “malapetaka” yang menimpa Teheran.
”Ingat ketika saya memberi Iran waktu sepuluh hari untuk MEMBUAT KESEPAKATAN atau MEMBUKA SELAT HORMUZ. Waktu hampir habis, 48 jam sebelum malapetaka menimpa mereka,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya, Sabtu (4/4/2026).
Buru Pilot F-15 yang Jatuh
Di saat yang sama, militer AS masih mencari seorang pilot pesawat tempur F-15E Strike Eagle yang ditembak jatuh Iran di wilayah terpencil. Pencarian kini memasuki hari kedua.
Iran sendiri mengumumkan sayembara berhadiah bagi siapa saja yang berhasil menyerahkan “pilot musuh” tersebut.
Tak hanya F-15, komando militer Iran membeber telah menyerang 2 helikopter Black Hawk milik AS.
Perang AS-Israel versus Iran sejak 28 Februari lalu membawa dampak mengerikan secara global. Tercatat, ribuan orang tewas, pasar global terguncang, jalur pelayaran utama dunia terputus hingga harga BBM melonjak tajam.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersikeras tidak akan mengendurkan serangan.
“Kami akan terus menghancurkan mereka,” tegas Netanyahu.
Militer Israel baru saja mengonfirmasi serangan terhadap kompleks petrokimia di Mahshahr yang menewaskan 5 orang.
Saling balas serangan infrastruktur sipil pun tak terelakkan. Markas besar perusahaan teknologi AS, Oracle, di Dubai dilaporkan rusak parah akibat serangan drone Iran.
Sementara, fasilitas nuklir Bushehr di Iran kembali menjadi sasaran udara untuk keempat kalinya.
Serangan ini menewaskan seorang petugas keamanan dan memaksa evakuasi 198 pekerja Rusia dari lokasi tersebut.
Meski situasi kian memanas, upaya diplomasi masih diupayakan di balik layar. Pakistan, Turki, dan Mesir tengah berusaha membawa AS dan Iran ke meja perundingan di Islamabad.
”Upaya kami untuk menengahi gencatan senjata berjalan sesuai rencana,” ungkap Juru Bicara Kemenlu Pakistan, Tahir Andrabi.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga memberikan sinyal positif. Pihaknya tidak menolak mau hadir dalam pembicaraan di Islamabad.
Namun, dengan tenggat waktu 48 jam dari Trump, dunia kini menanti apakah diplomasi atau “malapetaka” yang akan menang.
(EN/EN)






















