Bitcoin US$90K: Pasar Menanti Sinyal Fed

Panbil Mall

Bitcoin Kembali Menarik Minat, Tapi Reli Masih Rawan?

Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan daya tariknya di mata investor, namun beberapa indikator mengisyaratkan bahwa para trader profesional masih menyimpan keraguan terkait keberlanjutan reli harga hingga menembus level US$92.000. Penolakan harga di area resistance jangka pendek ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ketidakpastian makroekonomi global, likuidasi posisi, dan aliran masuk (inflow) ETF spot Bitcoin yang cenderung stagnan.

Lantas, mampukah sinyal ekonomi yang lebih jelas dari Amerika Serikat (AS) menjadi katalis yang mendongkrak volume perdagangan Bitcoin secara signifikan?

Pergerakan Harga Bitcoin Terkini

Berdasarkan data terkini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$90.215, mengalami penurunan sebesar 0,73% dalam 24 jam terakhir. Penurunan ini terjadi setelah upaya Bitcoin untuk menembus level US$92.250 pada hari sebelumnya mengalami kegagalan. Pelemahan ini sejalan dengan koreksi yang terjadi di pasar saham AS, yang dipicu oleh ketidakpastian seputar kondisi pasar tenaga kerja dan meningkatnya kekhawatiran terhadap valuasi sektor kecerdasan buatan (AI) yang dinilai sudah terlalu tinggi.

Saat ini, perhatian pelaku pasar tertuju pada keputusan kebijakan moneter yang akan diambil oleh The Federal Reserve (The Fed) pada hari berikutnya. Namun, peluang pemulihan cepat menuju level psikologis US$100.000 sangat bergantung pada persepsi risiko pasar secara keseluruhan.

Sentimen Pasar yang Melemah

Kurangnya dorongan leverage pada Bitcoin mencerminkan sentimen pasar yang masih lemah. Dalam dua pekan terakhir, premi kontrak berjangka bulanan Bitcoin terhadap harga spot (basis rate) terus berada di bawah ambang netral 5%. Permintaan leverage bullish yang lemah ini sejalan dengan penurunan harga Bitcoin sebesar 28% sejak mencapai rekor tertinggi pada bulan sebelumnya.

Selain itu, kekhawatiran mengenai potensi perlambatan ekonomi global juga turut membebani sentimen pasar kripto secara keseluruhan. Rilis data resmi pemerintah AS terkait ketenagakerjaan dan inflasi masih tertunda akibat penutupan pendanaan pemerintah yang baru saja berakhir. Minimnya data ekonomi yang tersedia membuat para pelaku pasar kesulitan dalam membaca kondisi ekonomi secara akurat. Bahkan, konsensus mengenai pemangkasan suku bunga sebesar 0,25% pada bulan berikutnya belum cukup untuk memunculkan optimisme yang signifikan, terutama setelah laporan tenaga kerja swasta menunjukkan adanya puluhan ribu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada bulan sebelumnya.

Tekanan tambahan juga datang dari sektor properti AS. Data menunjukkan bahwa sejumlah kesepakatan pembelian rumah dibatalkan akibat tingginya biaya perumahan dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi. Selain itu, terjadi lonjakan delisting (penghapusan pencatatan saham) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara median harga rumah mengalami penurunan secara tahunan.

Bitcoin Tertinggal Dibanding Pasar Saham: Sinyal Risk-Off Menguat

Penurunan harga Bitcoin menuju level US$90.000 semakin tajam setelah terjadi likuidasi paksa senilai puluhan juta dolar AS pada posisi futures BTC yang bertaruh pada kenaikan harga. Menariknya, indeks saham utama AS masih bertahan tidak jauh dari rekor tertingginya, menunjukkan bahwa pasar saham lebih resilient (tahan banting) dibandingkan dengan pasar kripto.

Di pasar opsi, para whale (investor besar) dan market maker (pembuat pasar) meminta premi yang signifikan untuk menjual opsi put Bitcoin. Biaya proteksi harga turun yang tinggi ini biasanya terjadi saat pasar sedang bearish (tren penurunan).

Meskipun demikian, penolakan harga di level US$92.000 belum banyak mengubah posisi para trader, sehingga area US$90.000 masih dianggap sebagai support (batas bawah) yang kuat. Situasi risk-off (menghindari risiko) juga terlihat di pasar kripto China, di mana stablecoin (mata uang kripto yang nilainya dipatok ke aset stabil seperti dolar AS) diperdagangkan di bawah nilai tukarnya terhadap mata uang lokal. Diskon ini mengindikasikan meningkatnya keinginan untuk keluar dari pasar kripto, pola yang sering muncul pada fase bearish.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Bitcoin

Secara ringkas, berikut adalah faktor-faktor utama yang mempengaruhi pergerakan harga Bitcoin saat ini:

  • Ketidakpastian Makroekonomi: Kondisi ekonomi global yang belum stabil, termasuk ketidakpastian seputar inflasi, suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi, memberikan tekanan pada pasar kripto.
  • Likuidasi Posisi: Likuidasi paksa pada posisi futures dapat mempercepat penurunan harga Bitcoin, terutama jika terjadi dalam jumlah besar.
  • Aliran Masuk ETF Spot Bitcoin: Kurangnya aliran masuk ke ETF Bitcoin spot AS dapat menekan eksposur bullish (optimis) pelaku pasar.
  • Sentimen Pasar: Sentimen pasar secara keseluruhan, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti berita, data ekonomi, dan opini para ahli, dapat mempengaruhi keputusan investasi para trader.
  • Keputusan Kebijakan Moneter The Fed: Kebijakan moneter yang diambil oleh The Fed, seperti perubahan suku bunga, dapat memiliki dampak signifikan pada pasar keuangan, termasuk pasar kripto.

Kapan Bitcoin Akan Kembali Reli?

Kurangnya arus masuk ke ETF Bitcoin spot AS dalam beberapa pekan terakhir turut menekan eksposur bullish pelaku pasar. Oleh karena itu, peluang Bitcoin untuk menembus level US$100.000 dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada kejelasan kondisi pasar tenaga kerja dan sektor properti AS. Dengan kata lain, satu keputusan The Fed saja tidak cukup. Pasar membutuhkan data ekonomi yang lebih solid sebelum volume dan momentum Bitcoin bisa benar-benar pulih.

Untuk dapat kembali mencatatkan reli yang signifikan, Bitcoin membutuhkan pemicu baru yang dapat meningkatkan sentimen positif di pasar. Pemicu ini dapat berupa:

  • Data Ekonomi AS yang Positif: Rilis data ekonomi AS yang menunjukkan pertumbuhan yang kuat dan inflasi yang terkendali dapat meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong mereka untuk kembali berinvestasi di aset-aset berisiko seperti Bitcoin.
  • Adopsi Institusional yang Lebih Luas: Semakin banyak institusi keuangan besar yang mulai mengadopsi Bitcoin sebagai bagian dari strategi investasi mereka, semakin besar pula potensi pertumbuhan harga Bitcoin.
  • Regulasi yang Lebih Jelas: Regulasi yang lebih jelas dan komprehensif terkait dengan aset kripto dapat mengurangi ketidakpastian di pasar dan menarik lebih banyak investor.
  • Inovasi Teknologi: Inovasi teknologi yang terus-menerus dalam ekosistem Bitcoin, seperti peningkatan skalabilitas dan keamanan, dapat meningkatkan daya tarik Bitcoin sebagai aset investasi.

Kesimpulan

Meskipun Bitcoin menunjukkan potensi untuk kembali menarik minat beli, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi sebelum reli harga dapat berlanjut secara signifikan. Ketidakpastian makroekonomi, likuidasi posisi, dan aliran masuk ETF spot Bitcoin yang stagnan menjadi faktor-faktor yang membatasi potensi kenaikan harga Bitcoin saat ini. Pasar membutuhkan pemicu baru yang dapat meningkatkan sentimen positif dan menarik lebih banyak investor sebelum Bitcoin dapat menembus level psikologis US$100.000. Para investor dan trader perlu terus memantau perkembangan pasar dan berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.